
Bagai burung dalam sangkar emas, seperti itulah perumpamaan yang pantas untuk Amara saat ini.
Mungkin pada awalnya Amara tak mempermasalahkan hal ini tapi lambat laun, Amara juga merasa sesak dan kesal akan sifat posesif Aram.
hidupnya selalu dibawah kendali Aram.
Amara menatap lama pintu kamar dengan pikiran yang masih berkecamuk, pesan pesan dari seorang yang mengatakan bahwa dia kekasih Aram pun selalu masuk ke handphonenya.
Ia ingin membicarakan hal ini dengan Aram tapi melihat tempramental Aram seperti tadi ia hanya dapat diam kembali.
Menelan pil pahit itu lagi.
.
.
Drettt drettt
Ponsel Amara bergetar dan segera Amara mengangkat telepon itu tanpa melihat dulu siapa yang menelpon.
hening
"halo."karna sudah lebih dari satu menit tak juga ada suara Amara pun memberanikan diri menyapa.
"*sayang...."terdengar panggilan lembut dan manja.
"apa*?"
Jantung Amara berdetak cepat ada rasa ngilu dihatinya saat mendengar suara itu, suara yang serak dan amara tau kalau itu suara dari suaminya.
__ADS_1
"*cupp hmmmm."
terdengar suara orang berciuman dari arah seberang telepon*.
Tak kuasa menahan, akhirnya air mata Amara pun mengalir.
"*kamu mau tau satu rahasia besar."
"disana istri kamu dapat mendengar apa yang kita katakan dan lakukan."suara wanita lembut dan manja.
"Apa maksudmu dengan melakukan semua ini hah!!" terdengar jelas kalau suara Aram diseberang sana penuh dengan penekanan*.
Tak kuasa lagi mendengar, akhirnya Amara pun memastikan sambungan telepon.
"hiks hiks…."Isak tangis Amara terdengar jelas di dalam kamar.
.
.
Sekitar satu jam setelah itu Aram pun datang dengan tergesa gesa, ia berlari menuju kamarnya.
brakk
langsung Aram membuka pintu kamar dengan kencang sehingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras.
"Sayang…aku bisa jelasin. Tadi aku dijebak sama Raisya dan aku nggak tau sama sekali dia mempermainkan kita."Aram langsung mengatakan apa yang ada diotaknya.
Amara menatap Aram dengan pandangan kecewa, putus asa dan juga datar.
__ADS_1
"aku mohon percaya sama aku, aku dijebak Raisya tiba tiba masuk ruangan aku dan…da…dan…" Aram susah menjelaskan hal yang terjadi tadi.
Amara meletakan Asa yang tadi ia susukan ke tempat tidur dan setelah itu barulah ia berjalan ke dekat Aram.
"Sayang?" tekan Amara tepat di depan Aram.
Aram terdiam ia ingin mengatakan kebenarannya pada Amara tapi ia tidak mempunyai bukti malah Amara yang jelas jelas mendengar ia berbicara tadi.
"Kadang aku berfikir…" sebelum melanjutkan ucapannya Amara menghembuskan nafas panjang terlebih dahulu.
"Aku seperti burung yang bersangkar emas." Amara tersenyum tapi senyum itu penuh dengan air mata.
"Senang pada awalnya karena memiliki rumah yang bagus tanpa mengerti bahwa aku dikurung dalam gemerlapan kemewahan." Amara maju satu langkah badan mereka saling bersentuhan.
Amara mendongak menatap Aram tangannya bergerak mengelus pipi Aram.
"Merasa paling disayang tanpa tau ternyata tuannya juga memiliki burung lain yang juga disimpan ditempat yang sama mewahnya seperti aku." Amara terkekeh tapi bersamaan dengan itu air matanya juga keluar.
"Aku yang bodoh terlalu bodoh disini."
.
.
.
bersambung
jangan lupa like and vote ya
salam hangat dari author 😘
see you next time
__ADS_1