
Kepergian Endra beberapa hari yang lalu membuat rasa sedih yang mendalam bagi Akila. Dia terus menunggu kedatangan Endra untuk menjemputnya dan membawa Akila bersamanya. Setiap hari Akila selalu menunggu di ayunan dimana tempat mereka selalu bermain sebelum kepergian Endra.
"Kakak, akil kangen". Tuturnya lirih. Air matanya mulai turun dan membasahi wajah chuby miliknya. Sejak sore itu Akila menjadi lebih pendiam dan selalu menangis sesegukan. Setelah bosan menangis disana dia akan berjalan pulang dan langsung tidur.
Hal itu berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Sema seperti seorang ibu pada umumnya, Tari sangan mengkhawatirkan keadaannya itu. Dia sudah beberapa kali terkena demam tinggi dan harus dirawat inap dirumah sakit selama beberapa hari.
"Ibu Tari, keadaan Akila tidak sedang baik-baik saja. Tubuhnya saat ini sangat lemah, kami khawatir jika hal ini dibiarkan terus menerus akan berdampak pada kejiwaannya". Tutur dokter anak itu dengan serius.
"Lalu apa yang bisa saya lakukan dok". Tanya Tari.
"Mungkin untuk langkah awalnya adalah dengan membawa Akila ke dalam ruang lingkup yang baru, dengan kata lain kita harus membuat Akila melupakan tentang kejadian beberapa waktu lalu dan membuatnya perlahan menghilang dari ingatannya". Tari hanya mengangguk dan mencoba memahami apa yang dituturkan oleh dokter itu.
💚💚💚💚💚💚
Selang beberapa hari Tari memutuskan untuk pindah dari desa itu, dia kembali kedalam iruk pikuk kota jakarta.
"Yahh... Ayah benar setidaknya kota jakarta tidak terlalu buruk untukku dan Akila". Gumam Tari lirih dengan senyumnya yang sedikit dipaksakan.
Tidak lama setelah itu Akila mulai membaik, dia menunjukan perubahannya. Rengekan-rengekan tentang Endra tak lagi terdengar dari mulut mungilnya.
Melihat keadaan Akila yang cukup membuat respon baik setelah pindah dari lingkungan lamanya. Tari berfikir Akila sudah baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Kepindahan Tari dan Akila ke ibu kota ini malah membangkitkan sisi lain dari Akila, dia memutuskan untuk tidak menyayangi siapa pun selain kakak. Kakak? Apa hanya kata kakak yang Akila tau? Yah Akila tak pernah tau nama asli dari laki-laki yang selalu disebutnya kakak itu. Yang dia tau dari awal mereka berkenalan saat itu akila masih 3 tahun dia hanya membiarkan akila memanggilnya kakak.
Waktu terus berjalan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan iya tahun berganti dengan tahun. Dan waktu? Ahh waktu masih berputar dalam putaran yang sama 24 jam dalam sehari semalam. Berdenting tiap detik dari pukul 01.00-00.00, sekarang akila sudah remaja, umurnya sudah menginjak usia 17 tahun.
Kisah cintanya? Kisah akila sangat buruk, dia selalu mendekati orang yang dia fikir akan sama dengan kakaknya. Kemudian setelah sadar itu bukan dia, Akila akan meninggalkannya. Memutuskannya tampa belas kasian. Tak terkecuali buat mereka yang berlutut dikaki sekali pun. Sangat mengerikan, Akila gadis berparas cantik sempurna itu dijuluki quuen of girl oleh para lelaki. Karna caranya membius setiap lelaki yang ingin didekatinya tak pernah gagal sekalipun lelaki itu telah bersumpah tak akan menyukai si gadis licik Akila.
__ADS_1
Akila tumbuh menjadi cantik. Badannya yang ramping dan tinggi badannya yang tidak terlalu tinggi, serta wajah oval yang diwarisi dari ayahnya, walaulun Akila tak tahu itu. mata sipit berwarna almond yang didapatkannya dari sang ibu. Rambut setengah ikalnya yang selalu digerai dengan hiasan jepit rambut sederahan warna senada dengan lipstiknya setiap hari. Bibir kecil yang merah meronah itu selalu memancarkan senyum kebahagian. Selalu menjadi pujian untuk para laki-laki dan tentu saja tatapan sinis kebencian dari para kaum hawa.
Saat ini dia sedang duduk dibangku kelas 2 sma, dia bersekolah di salah satu sekolah negeri. Tidak hanya wajahnya yang cantik, otaknya yang cerdas pun selalu menjadi sorotan para guru disekolahnya.
"Mama, ma, mama." Akila tampak kebingungan mencari mamanya.
"Apa mama sudah kekantor tampa menyapaku. Tumben sekali, tidak biasanya mama seperti itu". Gumam Akila.
"Kamu sudah mau berangkat, kila? ". Tanya ibunya yang sontak membuat Akila kaget dan berbalik melihat kearah tangga.
"Ma, mama baik-baik aja kan? Muka mama tampak pucat sekali, apa mama sakit? ". Tanya Akila bertubi-tubi.
"Mama baik-baik saja kila, kamu sarapan disekolah saja hari ini. Bibi dijah sedang pulang kekampung". Jelas Tari.
"Mama seriously you ok? "Tanya Akila lagi memastikan.
"Mungkin itu akan membuat hatiku sedikit tenang". Jawab kila sembari memeluk ibunya.
"Anak nakal, apa kau sudah mengencani rian". Tanya ibunya sengaja untuk menggoda putri cantiknya.
"Mama!". Akila melirik tajam dengan ujung matanya.
"Berhentilah membahas lelaki psicopat itu, dia sama sekali tak sama dengan kakak. Rayuan mesumnya itu sangat menjijikan" ucap Akila lagi dengan kesalnya.
Mengencani rian, tidak akan pernah meski aku harus mengubur tubuhku hidup-hidup.
__ADS_1
Akila memanyunkan bibirnya.
"Sudah berangkatlah sana, dapatkan nilai terbaik. rian sudah menantimu di kampus yang sangat kamu damba-dambakan itu" Tari masih saja menggoda Akila.
Raut wajah Akila terlihat sangat kesal saat ini.
Apa mama serius tentang rian, astaga dosa apakah aku.
Akila berjalan meninggalkan ibunya setelah bersalaman dan berpamitan. Dalam lubuk hatinya Akila masih sangat meragukan tentang ibunya. Bahkan dia tidak percaya sama sekali jika Ibunya itu sedang mode baik-baik saja.
Ya, akhir-akhir ini Tari menunjukan perubahan yang begitu mencolok, wajahnya seringkali terlihat pucat. Dan tentu saja Akila menyadari itu tidak mungkin tidak. Karna Tari adalah satu-satunya orang yang ada disamping dia selama ini.
Ada apa dengan mama sekarang? Kenapa dia seperti ada sesuatu yang disembunyikan? Apa ini tentang ayah? Ahh,, tidak! Bukan kah ibu telah mengatakan terang-terangan jika ayahku mati di medan pertempuran karna dia adalah TNI. Batin kila berfikir kemana-mana, mencoba untuk menebak-nebak apa yang terjadi dengan ibunya.
Akila memang sangat sibuk dengan sekolah dan tentu saja mencari sosok seorang yang mirip dengan kakak. Tentu saja seorang yang sudah terkena brother kompleks dari kecil ini, tak pernah bosan untuk bermain-main dengan para lelaki itu. Tapi hal itu bukan berarti membuat Akila lupa untuk memperhatikan sang ibundanya tercinta.
Perjalanan Akila telah berakhir didepan gerbang sekolahnya, dia terbelalak kaget melihat seseorang yang telah berdiri dibawah pohon tidak jauh dari pintu gerbang utama sekolahnya.
Akila berjalan mengendap-endap layaknya seorang pencuri, beruntung dia bisa kabur berakhir di kursi kantin yang nyaman milik bu tina.
"Hayooo, selamat pagi sayang".....
_**bersambung_
Saya adalah author baru, dan saya baru pertama kalinya menulis sebuah novel. Maafkan jika terlalu banyak kesalahan.
__ADS_1
Terima kasih💚**