KELAM

KELAM
episode 17


__ADS_3

Amara duduk di samping Aram yang tampak gusar memikirkan mama Rani yang masih di periksa oleh dokter.


sekarang mereka berada di kamar mama Rani dan Aram serta Amara sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.


kenapa tidak kedokter saja??


itu karena Aram tidak menyukai rumah sakit ia lebih memilih memanggil dokter ke rumahnya dari pada pergi ke rumah sakit.


Amara mengucek matanya karena merasa mengantuk dan jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam waktu Amara untuk tidur.


Aram yang menyadari Amara sudah mengantuk pun akhirnya berbicara.


"tidurlah dulu."kata Aram dengan nada lembut ,amarahnya tadi seakan akan menghilang begitu saja saat melihat wajah polos Amara.


ditambah lagi ia juga menyadari kesalahannya tadi.


Amara hanya mengangguk dan lalu pergi ke kamarnya.


tinggallah Aram yang menanti dokter selesai memperban kepala mama Rani.


"bagaimana dok?apa ada luka yang serius?"tanya Aram saat dokter sudah selesai.


"tidak ada cedera serius tapi mungkin ibu Rani akan sering pusing karena efek benturannya."jawab dokter itu.


Aram menghela nafas lega mendengar itu.


"ini obat untuk meringankan pusing atau sakit kepala buk Rani."kata dokter memberikan obat .


"makasih dok."


"itu sudah menjadi tugas saya."kata dokter itu.


"kalau begitu biar saya antar ke depan."Aram pun mengantarkan dokter itu ke luar.

__ADS_1


.


.


.


dengan nafas yang tersengal-sengal Amara bangun dari tidurnya,keringat dan air mata memenuhi wajah manisnya.


ia bermimpi bertemu dengan ibunya tapi ibunya menatap dia tidak suka lalu berlalu meninggalkan nya pergi masih menatapnya marah.


"apa salahku?"tanya Amara pada dirinya sendiri.


lalu mata Amara beralih ke tangan yang melingkar di perutnya dan ternyata itu adalah tangan Aram yang masih tertidur pulas.


"apa aku harus menjalani tugas sebagai seorang istri seperti yang ibu bilanb?"tanya Amara pada dirinya sendiri dengan lirih.


cukup lama Amara termenung menatap sampai akhirnya ia pun beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


.


.


Amara hanya memasak tumis kangkung dan ayam goreng dan sambal karena memang itu yang bisa Amara buat.


setelah selesai menata makanan di meja makan barulah Ary datang.


"maafkan saya nyonya saya terlambat."Kata art itu dengan menunduk.


"nggak papa."hanya itu yang Amara katakan lalu langsung pergi ke lantai atas.


Amara menatap Aram yang masih setia dalam tidurnya.amara mendekati Aram yang terbaring.


Amara menepuk lengan Aram pelan sambil sedikit mengguncang tubuh Aram agar empunya bangun.

__ADS_1


"mas bangun."dengan kaku Amara berbicara.


mungkin panggilan mas memang cocok untuk Aram karena umurnya yang lebih tua dari Amara.


perlahan mata Aram pun terbuka dan hal yang pertama yang ia lihat adalah Amara yang berdiri di samping ranjang sambil menatap Aram.


"bangunlah dan sarapan udah siap dibawah."kata Amara.


Aram hanya mengangguk dan langsung duduk lalu pergi ke kamar mandi.


setelah Aram pergi Amara langsung membersihkan kasur menatanya dengan sangat rapi.


setelah selesai Amara pun berjalan ke dekat cermin ia mengetatkan bajunya dengan tangan melihat bagaimana bentuk perutnya.



bisa dilihat bahwa perutnya masih rata mungkin karena masih 1 setengah bulan.



tiba tiba sebuah tangan besar memegang perutnya.


"kapan dia akan besar."


.


.


.


bersambung


jangan lupa like and vote ya 😉😉

__ADS_1


salam hangat dari author 😘😘


__ADS_2