
"Lanjutkan pemakaman mama kek, akila baru akan pulang setelah mama dimakamkan. Akila tak ingin melihat mama terbujur kaku tampa ada suara, itu hanya akan menyisihkan ruang gelap yang makin dalam". Akila berlalu dan pergi dengan mengendarai motor matic miliknya..
Akila terus mengendarai motornya di atas kecepatan rata-rata, menyusuri jalanan ibu kota tampa arah. Perlahan Akila menurunkan kecepatan motornya dan berhenti disebuah taman bermain mini disebuah pedesaan.
Apa benar ini nyata ma? Kenapa ma? Kenapa? Dulu kakak pergi dari Akila berjanji kembali tapi tak kunjung datang menjemputku, dan sekarang! Sekarang mama yang pergi tampa memberikan setitik harapan untukku, dengan siapa aku bisa hidup sekarang ma? Apa Akila masih ada harapan sekarang?. Air mata Akila jatuh membasahi pipinya, tangisnya pecah tak bisa lagi ditahannya.
Akila memejamkan matanya, tak ada lagi harapan yang bisa dijadikan pelita cahaya di dalam hidupnya.
Fikirannya kosong, tak ada setitik pun hal positif nya yang dapat dia fikirkan.
💚💚💚💚💚
Hari berganti, matahari perlahan datang untuk menyinari bumi dengan cahaya kehidupan yang dibawanya.
Akila perlahan terbangun dari tidur panjang yang dilaluinya, sedikit demi sedikit Akila membuka mata dan melihat sekelilingnya.
Kamar? Sejak kapan aku dirumah kakek? Bukankah kemarin aku ditaman?. Batin Akila bingung.
Akila mengangkat tubuhnya malas, berjalan kekamar mandi dan membersihkan diri. Air mata Akila lagi-lagi tumpah tak terbendung.
Setelah puas memandikan diri didalam tangisnya, Akila beranjak keluar dan berpakaian seperti biasanya. Tak ada alasan untuk Akila sekolah hari ini, bahkan Akila sempat terfikir tak ingin lagi bersekolah. Apalagi sekarang dia sadar, dia hanya berdua dengan kakeknya yang sudah sangat rentah itu.
"Kakek". Akila keluar dari kamarnya dan menuju ke arah dapur untuk mencari sang kakek.
"Kila, kau sudah bangun nak?".
Akila hanya mengangguk,
"Duduklah dan sarapan dulu, ada suatu hal yang ingin kakek katakan pada Akila!". Lanjut kakeknya. Lagi-lagi Akila hanya mengangguk dengan tatapan kosong tampa arti.
Kegiatan sarapan pagi itu telah selesai, Akila kembali kekamarnya tampa mempedulikan kakeknya yang masih membereskan meja.
Tok tok tok..
"Kila, apa kakek boleh masuk?". Tanya sang kakek setelah selesai dengan kegiatan piring kotor yang dicucinya tadi.
"Silakan kek". Jawab akila datar.
"Kila, apa kamu mau ikut kakek sebentar?"
"Kemana?"
"Bersiap saja kita akan berangkat setelah kau selesai!". Perintah kakeknya.
Akila langsung mengambil handphonenya,
"Akila sudah siap kek".
Kakek Akila terkejut dengan penampilan cucunya itu, hotpans pendek dan kaos lengan pendek dikenakannya, rambut kuncir satu asal, dan lipstik tipis tampa polesan bedak sama sekali.
__ADS_1
Memang terlihat amburadul untuk ukuran seorang gadis remaja yang biasa ingin tampil sangat cantik.
"Apa kamu yakin sudah siap?". Tanyanya lagi tak yakin. Akila hanya mengangguk mengatakan bahwa dia memang telah selesai dengan penampilannya.
"Iya sudah, jika kamu nyaman seperti itu. Tidak masalah". Jawab sang kakek pasrah dengan tingkah Akila.
Meski tidak tinggal satu atap, tapi sang kakek tau betul bagaimana selama ini Akila sangat memerhatikan penampilannya.
"Mungkin batinya masih sangat terpukul dengan kepergian Tari. Tari, apa kamu sekejam ini dengan putrimu nak?.
💚💚💚💚💚
Akila masih sangat sedih dengan kepergian ibunya, bahkan dia masih setengah tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Secepat itukah ma.
Akila menatap kosong jendela taksi yang ditumpanginya bersama sang kakek, taksi itu berhenti didepan sebuah rumah mewah yang bernuansa klasik, dengan cat warna putih terang.
"Kila, kita sudah sampai nak". Ucap sang kakek menyadarkan lamunan Akila.
"Uhmm.. Emm iya kek". Akil turun dari taksi.
Dia menyusuri setiap sudut dari rumah yang dikunjunginya itu.
"Rumah siapa ini kek?". Tanya Akila pada kakeknya setengah penasaran.
Sontak Akila tersentak kaget
Bagaimana bisa ayahnya masih hidup? Bukankah selama ini ibunya selalu mengatakan ayah sudah tiada?
Ayah? Masih hidup? Kegilaan apa ini? Kebohongan apa yang selama ini mama sembunyikan dariku, bukankah ayah sudah tiada.
"Mengapa mama tega berbohong padaku". Gumam Akila lirih.
Flasback....
Tari memasuki perkarangan perkantoran G-Grup. Itulah yang tertera dipintu masuk paling utama kantor ini, Tari menguatkan hatinya, mekesampingkan egonya.
Ini demi akila,. Batin Tari
Tari perlahan membuka pintu ruangan Rio,
"Mas". Ucap tari dari depan pintu.
Rio menoleh kearah pintu, begitu juga Alice istri Rio yang dijodohkan paksa oleh ayahnya Rio.
"Tari". Ucap Rio dan Alice kaget.
"Hallo, Alice. Apa aku boleh masuk? Aku hanya ingin masuk dan berbicara soal putriku dan Ayahnya". Sembari menatap tajam kearah Rio.
__ADS_1
"Tidak". Jawab Alice tegas.
"Masuklah Tari, duduklah". Rio menjawab berbeda dengan Alice saat itu.
"Maaf alice yang aku butuhkan ayah dari putriku bukannya engkau!". Tari berjalan kearah Alice, dan duduk disofa yang telah disediakan diruangan itu.
"Katakan ada apa Tari, apa ada masalah dengan putriku". Tanya Rio penuh intimidasi.
Perlahan Tari mulai membuka mulutnya dan berbicara panjang lebar, dari mulai penjelasan keadaan Akila hingga ketitik dimana dia merasa tak sanggup lagi untuk tidak menyerah.
"Jadi, putriku bernama Akila Cahya putri?". Tanya rio. Tari hanya mengangguk.
"Apa aku bisa mempercayaimu jika itu benar-benar anak mas Rio, tari". Ucap Alice sinis mengintrogasi.
"Bukankah kalian bisa membuktikan setelah tes DNA". Jawab Tari sengit tak ingin kalah. Apa pun yang terjadi Akila harus selamat dari ancaman ini. Dengan bagaimana pun? Itulah setidaknya yang telah Tari tekatkan.
"Rio, Akila itu putrimu. Terima lah dia, aku mohon". Ucap tari memohon, dia bahkan berlutut pada Rio.
"Aku tidak bisa". Ucap Rio menjawab dengan tegas.
Deghhh...
"Rio". Mata Tari berkaca-kaca, tangisnya akan tumpah. Air matanya perlahan menyeruak keluar dari kelopak matanya.
"Kenapa? ". Lanjutnya lagi.
Apa yang Rio fikirkan? Bukankah dia sangat ingin putrinya ini dari lama. Dasar laki-laki bodoh, jika engku tak ingin mengambil putrimu maka aku yang akan melakukannya. Akan lebih sempurna jika aku bisa merebut cintamu dan juga cinta putrimu. Batin Alice.
"Aku akan merawatnya!". Jawab Alice singkat.
"Alice,". Tari dan Rio menatap kearah Alice seakan menunggu penjelasan.
"Alice, kita sudah merawat dania. Tidak kah kau lupa". Jawab Rio penuh penekanan.
Apa engkau memang tak menginginkan putriku rio, putri kandungmu. Apa hanya putir Alice yang kau anggap putrimu. Batin Tari
"Dia hanya anak pungutan dari panti asuhan Rio, jangan pernah lupakan itu. Sedangkan Akila dia putrimu, putrimu berarti putriku. Tak peduli siapa pun ibunya, jika dia adalah putri kandungmu maka aku adalah ibu surinya". Alice menjawab dengan tatapan dingin.
"Alice, tapi kenapa? Bukankah kau bilang putrimu hanya daniah?"
"Dan sekarang putriku hanya Akila".
"Alice".
"Stop Rio, kau hanya perlu mengikuti apa kataku. Aku tak meminta persetujuan darimu, aku memerintahmu sebagai pemilik perusahan G-grup sekarang".
Ternyata ini alasan rio menolakku saat itu? Alice? Dia tak ada kuasa? Dan memang harta memang jauh berharga dari apa pun. Batin Tari.
Bersambung.......
__ADS_1