
"Daniah memberi hormat kepada kakek tetuah dan juga ayah". Rio hanya tersenyum dan mengisyaratkan daniah untuk duduk disamping Alice.
Daniah hanya bisa menurut dengan muka masamnya yang ditampakkan jelas akan ketidak sukaannya kepada Alika.
"Alika, kakek dengar-dengar nama asli mu adalah Akila cahya putri. Apa ayahmu yang memaksa untuk mengganti namamu menjadi Alika cucuku".
Kakek tetuah bertanya dengan lembut dan mengusap kepala cucu swatawayangnya itu.
"Izin ayah. Bukan mas rio yang memberi nama itu tapi menantu. Menantu merasa nama Alika jauh lebih cocok dan terkesan lebih bermartabat dan elegan untuk putri kami ini".Alice menjelaskan alasannya mengganti nama Alika.
"Apa cucuku keberatan". Kakek tetuah tidak menjawab apa yang dikatakan Alice, dan malah kembali bertanya kepada Alika.
Dunia bangsawan memang tidak akan cocok untukku. Setiap orang memasang strategi mereka masing-masing untuk mendapatkan arah dan tujuan mereka yang sempurna. Hubungan ayah dan anak yang tidak pernah baik, aku rasa memang menurun dari leluhur yang ada. Alika bermain dengan fikiran yang ada dalam otaknya, ketika sang kakek kembali bertanya spontan Alika menjawab dengan anggukkan dan tersenyum.
Acara telah berakhir, Alika telah resmi dinobatkan menjadi putri mahkota kerajaan agreria, meskipun Alika tak pernah tau dibelahan bumi mana negara itu. Bahkan dia belum pernah mendengarnya, namun dia hanya bisa pasrah dan mengikuti jalan takdir yang telah digoreskan untuk dijalaninya.
Alika berjalan dengan langkah kaki yang berat. Meski pun dia tak ingin merepotkan ayahnya lagi, namun dia menepis rasa malunya dan lebih memilih untuk menguatkan hatinya memohon kepada ayahnya agar mengizinkan dia untuk kembali bersekolah lagi seperti biasanya.
Toktoktok..
"Ayah.. Apa aku boleh masuk".
"Masuklah nak".
Taptaptap..
Akila memasuki ruangan pribadi ayahnya, dari kejauhan Daniah melihat dengan jelas bahwa Akila memasuki ruang kerja ayahnya.
Bahkan aku putri yang disayanginya selama belasan tahun ini tak pernah dibiarkan menginjakkan kaki mendekati ruangan ayah. Gumam Daniah getir.
"Sini duduklah disini". Rio duduk disofa dekat kursi kerjanya dan meminta Alika untuk duduk didekatnya.
"Emm kenapa mencari ayah? Apa kamu ingin mengatakan sesuatu nak".
"Ehh.. Be.. Begini ayah. Aku rasa ayah sudah pernah mendengar tentang sekolahku sebelumnya. Disana aku punya prestasi yang bagus dan teman-teman terbaik. Bahkan kepala sekolah dan guru-guru disana pun sangat menyayangi aku".
"Jadi". Rio hanya mendengarkan sembari menghirup kopinya sesekali.
"Jadi ayah apa aku boleh kembali bersekolah?". Alika menatap rio dengan lekat, bola matanya terkunci menatap sepasang bola mata ayahnya itu.
"Apa hanya itu Lika?".
__ADS_1
"Tentu saja ayah, putrimu ini tidak ada keberanian untuk meminta lebih dari itu".
"Baiklah, ayah akan menyetujui kau masuk sekolah lagi. Asalkan Kamu setuju untuk kembali ke agreria setelah menyelesaikan sekolahmu. Dan menikah dengan pria yang sudah ayah tentukan".
Deghh
Apa ini? Pernikahan politik dikalangan para bangsawan? Aku kira semua ini hanya ada dicerita Novel-novel cinta yang sering kubaca saja. Tapi kali ini, ini adalah kenyataannya. Sahabatku atau masa depanku.
"Bagaimana Alika? Ayah tidak memaksamu untuk menyetujui permintaan ini. Ayah hanya berharap kamu mendapatkan yang terbaik. Kembali lah bersama kakekmu besok ke Agreria. Maka ayah akan membebaskan kamu untuk memilih masa depan dan cinta".
"Tidak, Alika setuju. Alika akan kembali kesekolah besok, dan soal pernikahan dan yang lainnya. Alika hanya minta waktu sampai Alika selesai kuliah, maka sisahnya tergantung kakek tetuah dan ayah yang mengaturnya".
Anak yang penuh kegigihan dan keras kepala. Rio tersenyum.
♥♥♥♥♥
Matahari telah terbit, perlahan memaksa masuk kesela-sela kamar Alika. Jam loker yang telah disetel Alika pun telah berulang kali berbunyi.
Kreakkk..
Pintu kamar Alika pun terbuka secara perlahan.
"Hallo putri, bangun kata ayah kamu akan ke sekolah hari ini". Dirga menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk Alika sembari mengelus pipi Alika lembut.
Pltak..
"Bodoh, ngapain teriak ini kakak". Dirga menyentil kening Alika.
"Awhhhhh.. Lah lu kak. Ngapain dikamar gue?". Alika baru menyadari kalo yang dihadapannya sekarang adalah kakak tirinya Dirga.
"Cepatlah bersiap kesekolah. Nanti barengan dengan kakak nganter kakek ke bandara".
"Bandara". Alika terperanjat mendengar kata bandara.
"Kakek udah mau pergi? Kok gak bilang lebih awal!". Lanjut Alika sembari berlari menuju kekamar mandi.
Setengah jam kemudian, Alika selesai dengan persiapannya untuk kembali kesekolah. Alika bergegas menuruni tangga dengan berlari-lari kecil.
"Kakek, kakek, kakek". Panggilan untuk sang kakek bergema keseluruh penjuru pavilium.
"Ehh pak mo kakek dimana?" Alika bertanya dengan kepala pelayan yang tak sengaja berpapasan didekat tangga.
__ADS_1
"Nona Alika, berhati-hatilah jangan berlarian. Tuan Kakek ada diruang makan bersama yang lainnya".
"Makasih pak mo".
"Perhatikan langkah anda nona jangan sampai tersandung".
"Asiyappp bapak tua". Akila berlalu dengan larian kecilnya, pak mo hanya menggeleng sembari tersenyum simpul dengan tingkah Alika.
Nona Alika, semoga senyuman anda tidak pernah menghilang. Pak mo bergumam
Setelah selesai sarapan semua orang pun beranjak pergi dengan menarik koper masing-masing. Ada terbesit sedikit bingung dikepala Alika.
Pada bawa koper? Mereka mau kemana?.
"Heii.. Ayok masuk mobil jangan bengong". Dirga mengejutkan Alika yang sedang bermain dengan fikirannya.
"Ehh.. Mau ngapain? Ini mobil gue, minggir. Anak haram kayak lo gak pantas naik mobil gue". Daniah melirik jijik kearah Alika, dan berlalu memasuki mobilnya.
"Alika sini, kamu sama kakek juga kakak. Ngapain dekat-dekat anak pungut yang gak tau diri itu". Dirga menarik tangan Alika untuk segera mengikuti langkahnya menuju mobil paling depan.
Diperjalanan raut muka Alika berubah, tidak ada lagi tawa dan senyum ceria kayak tadi pagi. Semuanya ambyar dengan satu kata yang disebutkan oleh Daniah.
Anak Haram. Fikiran Alika terfokus dengan satu kata ini.
"Sang putri kenapa?". kakek bertanya lembut.
"Gak kok kek".
"Daniah ngatain Alika anak haram kek". Dirga menjawab santai.
"Kak". Ucap Alika lirih.
"Anak itu semakin hari semakin lancang".
"Kek, sudahlah. Alika gak pa-pa kok. O yaa ngomong-ngomong. Semua orang kok bawa koper yah kek. Alika kira cuman kakek yang pulang ke agreria".
"Semuanya pulang sayang. Selain kamu sama Dirga. Dirga harus mengurus cabang perusahan disini, dan selain itu kamu kan masih bersekolah disini jadi Dirga harus merawat kamu. Putri mahkota kerajaan agreria". Ucap kakeknya menekankan kalimat terakhir dengan penuh semangat.
"Dan hal serunya. Aku punya wewenang penuh akan kamu". Dirga tersenyum licik. Entah apa yang difikirkan oleh kakaknya ini.
Sedangkan Alika hanya bergidik ngeri mendengar kata bahwa Dirga punya wewenang penuh akan dirinya. Dalam arti kata, selama mereka masih di indonesia maka Dirga adalah wali sahnya.
__ADS_1
Neraka. Alika bergumam lirih.
Bersambung..