KELAM

KELAM
episode 24


__ADS_3

Aram memandang wajah teduh Amara yang masih asik dalam tidurnya,jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi tapi Amara belum juga membuka matanya.


Aram memaklumi sebab yang ia tau kalau orang hamil itu memiliki mood yang beragam.


'bagaimana ia bisa jatuh sedalam ini.'batin Aram .



belum pernah rasa ini hinggap di hati Aram dan sekali datang ia tertuju ke orang yang telah ia sakiti.


dia seperti layu sebelum tumbuh


tapi bagaimana lagi hatinya sudah memilih dan dia hanya bisa menikmati siksa yang membuat ia candu ini.


sebuah senyuman terbit dibibir Aram ,entahlah tapi ia merasakan rasa bahagia yang sangat.



ia mengeratkan pelukannya,menggeser pinggang Amara agar lebih dekat padanya membuat jarak diantara mereka menghilang.



tapi karena gerakannya itu Amara malah terbangun dan menatap Aram yang juga menatap dirinya.


"maaf."kata Amara singkat.


"tak apa."kata Aram melepas pelukannya dan bangkit dari tempat tidur meninggalkan Amara yang tersenyum samar.


sialan jantung nya tidak bisa diajak kerjasama padahal ia masih ingin memeluk Amara.


.


.


.

__ADS_1


Setelah menghabiskan sarapannya Aram langsung memakai jasnya yang dia letakkan di kursi yang tidak di duduki dengan Amara yang membantunya memakai dasi, seperti biasa.


sedangkan mama Rani sekarang sudah berada di taman belakang menyirami bunga bunganya.


Cup


sebuah kecupan mendarat di dahi Amara saat ia sudah memakai kan dasi Aram.


"terima kasih."kata Aram.


Amara hanya mengangguk dan bergerak mundur karena jarak mereka yang terlalu dekat.


"kamu tidak menginginkan sesuatu?bukankah orang hamil biasanya suka meminta hal hal yang tidak biasa.apa itu namanya?"


"ngidam."


"ah iya ,apa kamu tidak ngidam?"tanya Aram.


sejak hamil Amara memang tidak menginginkan apapun paling ia hanya muntah muntah atau pusing saja.


Amara hanya menggeleng tanda ia tidak menginginkan apapun.


Amara mengecup tangan Aram seperti biasa dan setelah itu barulah Aram pergi setelah menghadiahkan sebuah kecupan di perut Amara.


.


.


.


seperti biasanya sore hari Amara akan duduk di ayunan sambil menatap keindahan langit jingga.


langit sudah seperti teman baginya ,setiap hati ia akan menatapnya,berbicara dan juga bertanya dengan jawaban keheningan.


tapi walaupun seperti itu ia sangat suka dengan langit.

__ADS_1


"bukankah keindahan itu hanya bertahan sebentar saja."kata seseorang yang duduk di samping Amara.


Amara tidak menoleh ,ia tau kalau itu adalah mama Rani.


inilah pertama kali mereka berbicara sejak sebulan yang lalu.


"mungkin waktu saat ia datang hanya sebentar tapi anda lupa kalau dia tidak pernah lelah untuk datang setiap saat."jawab Amara.


keduanya menatap kearah langit jingga itu.


mama Rani yang duduk disamping Amara beralih menatap menantunya ,entah apa yang ada di pikiran perempuan tua itu.


"tapi saat hujan dia tidak datang."sangkal mama Rani.


"dia datang tapi dia ditutupi oleh hujan yang yang membuat cahayanya tertutupi."jawab Amara.


"Dia selalu datang."kata Amara pelan .


"Amara."panggil mama Rani membuat Amara menatap ke arah mama Rani .


"katakanlah."kata Amara melihat wajah mama Rani yang seperti ragu untuk bertanya.


"apakah anak itu anak Aram?"tanya mama Rani pelan , jujur ia belum yakin akan hal itu anaknya bukanlah laki laki kurang ajar yang akan melakukan hal hina itu sebelum menikah.


Amara tidak marah ,ia masih tenang menatap mama Rani.


"bukankah pertanyaan itu sedikit kejam? bila anda di beri pertanyaan itu oleh mertua Anda apa yang akan anda rasakan??"


.


.


.


bersambung

__ADS_1


jangan lupa like and vote ya 😉😉


salam hangat dari author 😘😘


__ADS_2