
"Aggghhhhhhhhaaaaaa". Alika berteriak sekencang mungkin, mengapa tidak disaat dia terjaga malah tertidur satu ranjang dengan laki-laki asing yang tak pernah dia kenal.
"Shuttt... Berisikkk. Gadis kecil, Berhentilah berteriak, kau bisa memecahkan gendang telingaku". Dirga tetap melanjutkan tidurnya meski Alika sudah berteriak mencapai langit ketujuh sekalipun.
"Yhaahhh, lo siapa? Beraninya tidur dikamar dan ranjang gue".
"Ku bilang berhentilah meneriakiku, apa kau gila berteriak didalam rumah. Atau janagn jangan kau,, hei gadis kecil Jangan katakan bahwa kau berasal dari hutan blantara dan kau adalah tarzan".
"Yaaa, lo udah numpang tidur dikamar gue dan masih berani ngatain gue, mana ada tarzan cantik imut kayak gue. Yang adanya elo kali maniak mesum jelek makanya masuk dan tidur dikamar orang sembarangan".
"Maniak mesum! Beraninya kau mengatai ku".
"Apa.. Lo yang mulai duluan, ngatain gue".
"Apa kamu gak diajarin sopan santun? ".
"Bodoh amat, mama gua ngajarin gua sopan santun hanya sama orang yang tau akan tata krama, keluar dari kamar gua sekarang".
"Kamar kamu dari mana? Jelas-jelas ini kamar tidurku gadis kecil". Dirga mengacak-acak rambut Alika dengan lembut, sembari terkiking kecil melihat tingkah Alika.
Anak ini lumayan cantik, dan dia sangat lucu juga imut. Tapi siapa dia? Aghh bukankah mama bilang aku akan menemui adik tiriku, apakah ini dia.
Pak mo yang merupakan kepala pelayan rumah kediaman keluarga Gunawan tidak sengaja lewat tidak jauh dari kamar Alika, dan mendengar keributan dari dalam kamar Alika.
Dia bergegas untuk menuju ke kamar Alika, untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Karna Alika adalah nona kesayangan Alice dia tidak berani mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada Alika.
"Nona Alika apa yang terjadi?". Pak mo langsung membuka pintu dan bertanya langsung sama Alika.
"Aghhhhh... Si.. Siapa lagi ini? ". Alika lagi-lagi berteriak.
"Tidak bisakah kau berhenti untuk berteriak". Dirga mulai merasa risih dengan Alika yang terus menerus berteriak setiap kali melihat orang baru.
__ADS_1
"Alika Ada apa? Kenapa kamu berteriak?" Alice yang baru saja pulang dengan rio, tidak sengaja mendengar teriakan dari Alika itu sebabnya Alice tiba-tiba datang melihat keadaan putri kesayangannya itu.
"Mama". Alika berlari menghampiri Alice.
"Laki-laki jelek bodoh ini tidur diranjangku, dan bapak tua ini tiba-tiba masuk kekamar ku. Tampa sopan santun mengetuk pintu sama sekali". Alika merengek kepada Alice.
Alice terkikik kecil melihat tingkah manja Alika, dan langsung menatap tajam kearah Dirga.
"Ayolah ma, aku hanya sedikit mengganggunya. Wajahnya ketika tidur benar-benar mempesona. Dan juga aku tidak tertidur diranjangnya, aku hanya sedikit berbaring dan menatap wajahnya". Dirga mengedipkan mata menggoda Alika.
"Kau.. Dasar jelek". Alika mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sudah-sudah. Kalian ini! Dirga kamu sebagai kakak harusnya tidak mengganggu tidur adikmu, dia baru datang tadi pagi. Dan Alika kamu harus tau dia adalah Dirga putra swatawayang mama".
"Dan dia adalah pak mo kepala pelayan di mension putri Negara S".Alice melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah lebih baik kalian bersiap-siap untuk penobatan dengan tetuah nanti malam, ouh ya dan juga mama lupa bilang Dirga kamar kamu ada disebelah kamar Daniah, bukan disini". Alice melangkahkan kakinya sembari terkikik.
"Yayaya aku dengar. Tapi, kamu yakin tidak mau sekamar dengan kakakmu ini?".
"Berhenti menggodaku jelek". Dirga berlari meninggalkan Alika sembari tertawa riang karna berhasil menggoda adik tirinya itu, dan sandal rumah Alika yang dilempar tepat mengenai pintu yang tertutup.
Malam hari sudah tiba, keadaan dirumah Gunawan sudah semakin ramai dengan para tetuah dari keluarga Gunawan, semua sanak family diberbagai belahan dunia pun telah hadir di acara penobatan putri Gunawan malam ini.
Toktoktok....
Suara ketukan pintu menyadarkan Alika dari lamunan.
"Apa Aku boleh masuk". Dirga berdiri dibalik pintu kamar Alika.
"Mau ngapain lu kesini?". Alika membukakan pintu, dan kembali berjalan ke depan meja rias.
__ADS_1
"Heii.. Bisakah kamu bicara sedikit lembut padaku. Kau ingat! Aku adalah kakakmu loh". Dirga mengikuti langkah Alika.
"Hemm... Baiklah jadi kamu benar-benar hanya ingin menjadi kakakku,, apa kamu yakin tidak ingin menjadi lebih dari itu?". Alika berbalik dan menarik Dirga mendekat kewajahnya.
Apa ini?. Dirga yang terkejut dengan tingkah Alika langsung menjauhkan dirinya dari gadis itu.
"Yahh sudahlah, kalo begitu kamu resmi menjadi kakak laki-lakiku. Bersikap baiklah padaku, aku gak mau jika kakakku tidak baik padaku". Alika kembali memutar badannya dan mandangi pantulan dirinya dicermin lagi, lagi, dan lagi.
"Apa kamu sedih? Katakanlah. Kamu bisa berbagi keluhan dengan kakakmu ini".
"Kakak, sebelum ini terjadi. namaku adalah Akila, namun sekarang menjadi Alika aku merasa sedikit anehh dengan semua ini".
"Percayalah namamu akan diresmikan menjadi Alika Gunawan putri malam ini, didepan para tetua keluarga kamu akan dinobatkan menjadi putri Negara Ageria. Kamu adalah satu-satunya penerus keluarga keturunan darah murni Lika, jika kamu masih bermarga Cahya, maka akan sulit untuk ayah dan mama meyakinkan mereka semua". Alika hanya mengangguk pasrah.
"Sekarang kamu harus mulai belajar, keluarga adalah hal yang utama. Keputusan ayah adalah yang terbaik. Sebagai penerus generasi kita hanya bisa mengikuti kehendak yang lebih tua Lika. Kita sebagai putra putri bangsawan bahkan tidak berhak memiliki cinta kita sendiri. Apa kamu mengerti maksud kakak". Dirga mencium pucuk kepala Alika dengan lembut.
Inikah yang namanya kebahagian dunia dengan kehidupan orang kaya. Mama aku bahkan tidak bisa berkata-kata ketika namaku diganti begitu saja oleh mereka. Semenjak aku datang kerumah ini, mereka sudah memanggilku dengan nama yang berbeda. Alika tertunduk.
Alika berjalan dengan anggun disebelah Dirga, dengan menggunkan gaun mewah warna biru malam. Dan rambut bergelombang ujung yang digerai diserati jepit rambut senada. Sukses membuat semua orang terperangah melihat kecantikan Alika.
"Alika datang memberi hormat kepada kakek tetuah dan ayah".
"Dirga datang memberi hormat kepada kakek tetua dan ayah".
"Kedua cucuku yang baik, duduklah disamping kakek. Nikmatilah pestanya sampai acara penobatan selesai, kakek mau kalian berdua menemani orang tua rentah ini".
"Alika dengan merasa terhormat dapat duduk bersama kakek". Alice tersenyum melihat Alika dan Dirga telah berhasil memikat kakek tetua.
Alika adalah keturunan darah murni dari keluarga gunawan, sedangkan putraku adalah cucu tiri bagi kakek tetua. Jika dirga selalu bersama alika maka kedudukan putraku akan jauh lebih berarti bagi keluarga ini.
"Daniah memberi hormat kepada kakek tetuah dan juga ayah". Rio hanya tersenyum dan mengisyaratkan daniah untuk duduk disamping Alice.
__ADS_1
Bersambung.....