
Saya nggak bisa membuat scene melahirkan karena saya tidak tau apa yang terjadi saat melahirkan dan saya takut salah dalam pengetikan.
.
.
Debaran pada dada Aram masih tak bisa hilang, keringat yang sebesar biji jagung terus menetes di pelipis lelaki tampan itu.
Pandangannya beralih ke arah tangannya yang masih bergetar, tak pernah terfikirkan oleh Aram bahwa melahirkan akan sangat menegangkan ini.
wajah kesakitan Amara dan tetes keringat Amara yang bercampur dengan air mata masih lekat di otak Aram.
Banyak darah yang terus keluar dan bahkan menetes ke lantai rumah sakit membuat pertahanan Aram semakin lemah.
Sekarang ia hanya dapat menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit masih di tempat persalinan karena Amara yang sedang dibersihkan oleh bidan.
tangisan anaknya masih terdengar jelas di telinga Aram pada saat sang anak keluar dari dalam perut Amara dan kini bayi kecil itu sedang dimandikan.
setelah tubuh Amara bersih ia langsung dipindahkan oleh suster ke ruangan yang lebih nyaman.
Aram duduk disamping tempat tidur Amara, tangannya menggenggam tangan Amara dengan erat.
"aku benar benar takut tadi."kata Aram mencium tangan Amara.
"aku nggak apa apa."kata Amara sangat lirih tenaganya benar benar habis dan ia tidak boleh tidur.
"terima kasih."kata Aram tulus yang ditanggapi senyuman oleh Amara.
__ADS_1
ceklek
Mama Rani masuk ke dalam ruangan itu dengan menenteng sebuah paper bag berwarna biru.
"bagaimana keadaan mu sekarang Amara?"meskipun nada suaranya masih datar tapi Amara cukup senang karena mama Rani sudah khawatir padanya.
"sudah tidak apa apa cuman masih lemas."jawab Amara sambil tersenyum.
"bagaimana dengan anak kalian?"tanya mama Rani.
ceklek
seorang perawat membuka pintu ruangan itu dan setelah itu ia mendorong sebuah ranjang bayi masuk ke dalam ruangan itu.
semua pandangan orang yang ada dalam ruangan itu terpusat hanya pada bayi mungil yang tertidur pulas.
"ini bayi anda ibu Amara, dia bayi yang sangat tampan."kata suster itu menggendong bayi itu dan menidurkan di sebelah Amara.
Amara tersenyum melihat bayi mungil itu, tangannya terangkat mengelus pipi lembut bayi tampannya.
"saya permisi dulu."kata suster itu lalu ia pergi.
"cucu nenek sangat tampan ya mirip sama papanya."kata mama Rani sambil mengelus pipi bayi kecil itu.
Amara hanya tersenyum melihat antusias mama Rani pada anaknya dan tak lama bayi itu pun membuka matanya, manik coklat yang mirip dengan Amara itupun terlihat.
mata itu mengerjap ngerjap dan tak lama mulut kecilnya pun menangis mungkin karena haus.
__ADS_1
"coba kamu susui mungkin dia haus."perintah mama Rani.
akhirnya Amara menyusui bayi tampan itu dengan diajarkan oleh mama Rani cara caranya.
Aram yang melihat hal itu pun tak bisa melepas senyumannya, akhirnya ibu dan istrinya bisa akur dan tidak saling bermusuhan lagi.
.
.
"apa kamu udah memikirkan nama untuk putra kita?"tanya Aram pada Amara.
saat ini mereka hanya bertiga di ruangan itu, mama Rani sudah pergi karena ada suatu hal yang harus ia urus dan hari juga sudah malam.
"Aku tak memikirkan nama lengkapnya tapi aku ingin di dipanggil dengan nama Asa."kata Amara menatap lembut bayi yang tertidur di sampingnya.
"kenapa Asa?"tanya Aram.
"Karena dia adalah harapan dan juga semangat aku."
.
.
.
bersambung
__ADS_1
salam hangat dari author 😘