Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Pamit


__ADS_3

"Terimakasih buya ummi sudah mau datang."ucap Zain sambil mencium tangan buya Latif.


"Macam sama siapa saja kau ini, waktu Dzaki bilang ada undangan mengayunkan ponakanmu, buya langsung meng- iyakan. Karena pas ada jadwal mengunjungi travel buya yang di Kisaran." jawab buya


Selain memiliki pesantren, buya Latif memiliki usaha Travel Umroh yang cukup besar. Dan sudah membuka banyak cabang di beberapa kota.


"Ummi juga senang sekali bisa mampir kemari, jadi bisa kenal dengan mamak Zain. dulu waktu Zain di pesantren ummi tidak pernah bertemu mamakmu saat ayahmu datang ke Pesantren." ucap Ummi Ana sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Iya... ummi, saya gak sanggup ikut menengok Zain di Pesantren, rasa mau ku bawak pulang aja dia, gak bisa saya jauh jauh dari anak. Tambah lagi kuliah, tamat kuliah makin jauh lagi dia. Haah... tapi jadi terbiasa aku sekarang, ummi." ucap Mai sambil bersalaman dengan Ummi Ana.


"Pamit dulu om...." Arif menyalami Arpin.


"Kadang kau panggil aku paman, pak,ini om pula. Panggil saja aku Ayah!" kata Arpin menepuk bahu Arif.


"Iya ayah... Arif permisi." Arif berjalan kemobilnya.


"Zain, jadi besok antum pulangkan? Biar ana jeput, nanti sekalian ana antar ke Kuala Namu. ( bandar udara di Sumatra Utara ).


"Tak usah la, merepotkan!" jawab Zain


"Besok jam 8 Insya Allah kami sudah berangkat, ana tunggu di Simpang Lima. (persimpangan menuju Medan dari kecamatan tempat tinggal keluarga Zain)."


Arif menutup pintu mobilnya.


"Hhm...." Zain menghela nafas,temannya yang satu itu memang tidak bisa dibantah kalau sudah punya kemauan.

__ADS_1


Bismillahirrohmaanirrohim.


cciiiiit... Arif membuka kaca mobilnya.


"Assalamu'alaikum." Arif mengangkat tangan kanannya.


"Wa'alaikumsalam." jawab Zain kemudian masuk kedalam rumah.


\=\=\=\=\=


"Tak bisa nya di tambah dua-dua hari lagi kau disini, amang (panggilan kesayangan untuk anak laki laki)."Mai membuka pembicaraan


"Enggak la mak, nanti Lebaran baru bisa seminggu Zain ambil cutinya." Zain memeluk Mai, menenangkan hatinya yang juga masih merasa rindu.


"Gak mau pindah ke sini, kau? kan disini ada juga Pt. Tempat kau kerja, ntah minta mutasi gitu!" Mai terus mengoceh.


"Ayah pigi dulu, mananya si Nando tadi?" Arpin mencari Nando kekamarnya.


"Ayokla yah... ketinggalan nanti kita" Nando sudah duduk diatas kereta.


"Dengaren rajin, kau!" ucap Mai (dengaren itu bahasa jawa disini artinya kira - kira Gak biasanya).


"Mamak ini pun, aku rajin mamak heran, nanti malas aku mamak merepet, hah."Nando menghela napas.


.

__ADS_1


.


.


Ditempat lain, Mila baru saja selesai menyapu halaman sekolah. Hari ini giliran Mila piket. Jadi dari jam 6.15 tadi dia sudah berangkat sekolah. Setelah membuatkan nasi goreng untuk tamu abangnya dan sekalian untuk bekalnya disekolah karena tidak sempat sarapan.


"Kayaknya enak nih!" Juna datang menghampiri Mila yang sedang sarapan di bangku depan kelas.


"Iya... Nasi goreng ala chef Mila, yok makan kita!"


Mila memberikan satu kotak bekal kepada Juna. Memang sengaja Mila membawa dua kotak nasi goreng, karena Juna sangat suka dengan nasi goreng.


"Padahal tadi udah sarapan di rumah, tapi gak papa lah, nasi goreng mana boleh diabaikan!" ucapnya sambil memasukkan nasi goreng kemulutnya.


"Baca do'a!" Mila menahan tangan Juna yang sudah bersedia memasukkan satu sendok penuh nasi goreng.


"Iya mak... Bismillaaahirrohmaanirrohiim". Juna menirukan anak Tk yang membaca doa dengan sangat lambat.


\=\=\=\=\=


"Adiknya Zain cantik ya buya, ummi suka!" perempuan dalam mobil itu membuka percakapan.


"Iya ya, Ummi. Masih muda, sopan. Buya juga suka, kau suka tidak Dzaki?" tanya buya pada Arif sambil tersenyum.


"Buyyaaa...." Arif menanggapi malas. Dan menambah kecepatan mobilnya.

__ADS_1


"Nasi goreng buatannya juga enak " ucap Dzaki dalam hati.


Buya dan Ummi serta keluarga dekat memanggilnya dengan Dzaki, sedangkan teman-teman sekolahnya memanggilnya Arif


__ADS_2