Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Adat yang bercampur


__ADS_3

Menikah bukan mencari bahagia, tapi untuk beribadah. Bahagia hanyalah makmum dari ibadah dan berkah dalam sebuah pernikahan. Salim A Fillah


Kamar dengan nuansa biru langit, dengan beberapa bunga yang disusun di tengah-tengah ranjang terlihat cantik walau sederhana. Wanita bergaun dengan warna senada dengan tirai-tirai menjuntai dikamarnya memandangi wajahnya dicermin besar dihadapannya. Kuku tangan sampai ke hujung jari tangannya tampak merah kehitaman. Tanpa coretan layaknya hena atau mahendi istilah orang India, melainkan olahan daun pacar yang di tumbuk dengan sedikit gambir sebagai campurannya. Tradisional kan!


ckreeek! pintu kamar terbuka


"Sudah selesai Mil?" perempuan bergamis putih senada dengan jilbabnya masuk kekamar.


"Kau tak mau ganti baju?"


"Ya gantilah..., apapula aku menerima tamu pake baju ini aja, nanti dipanggil orang pula aku nek hajjah!" oceh perempuan itu.


Tradisi di daerah kami, kalau ada acara Walimah atau Khitanan, biasanya acara dimulai dari jam 8 pagi. Acara Khatam Qur'an. Sipengantin wanita atau laki-laki yang di khitan akan membaca Al-Qur'an. Dan mereka menggunakan pakaian berwarna putih.


"Ya gantila bajumu, kau tarok dimana tadi tasmu?" tanya Mila


"Tu dibawah kakimu!" Perempuan itu mengambil pepper bag persis dibawah kaki Mila.


"Ih...kau pijak pula bajuku!"


"Mana ada, kesenggol ajanya sikit! Jangan marah-marah nanti makin tua kau."


"Kok kau ya Mil, nyesal aku pulang. Jauh-jauh aku dari Makassar cumak mau kau bully aja aku!" Perempuan itu menyilangkan tangannya didada.


"Jelek ah...,gak pantes ngambek, udah gede!" pujuk Mila menarik jilbab Juna


Teman lama itu tak berhenti bercanda, melepas kerinduan yang dalam. Juna kini telah kembali berkumpul dengan keluarganya. Baru saja sampai dirumah, Juna langsung berangkat kerumah Mila.


Setelah selesai berganti pakaian dan sedikit berdandan, Juna keluar dari kamar, melihat situasi diluar. Ternyata Akad Nikah akan segera dimulai. Dzaki beserta keluarga sudah sampai.


Dzaki terlihat tampan, baju kurung laki-laki khas Melayu berwarna biru muda dipadu dengan songket dengan warna yang lebih tua tampak sempurna bak raja Melayu. Senyum tak pernah lenyap dari wajahnya, terkadang menunjukkan giginya yang putih bersih.


"Saya terima nikahnya,Milatul Ulya binti Arpin Sibarani dengan maskawin tersebut tunai!"


Pengantin laki-laki, Pengantin Perempuan, Wali, Saksi dan Ijab Qabul. Lengkap, rukun nikah terpenuhi. Sekarang Mila dan Dzaki sudah sah menjadi suami istri.


Didampingi Juna, Mila keluar dari kamar. Sambil menunduk dia duduk disamping suaminya. Sighat taklik dibacakan lantang oleh Dzaki, Mila mencium tangan suaminya, ada haru sekaligus lega disertai rasa syukur disana. Setelah menanda tangani buku nikah acara akad selesai, disusul datangnya satu nampan berisi satu gelas air putih, dan beberapa cawan kecil berisi aneka macam. Ada garam, gula, dan jeruk.


Dzaki mengernyitkan dahi, pandangannya dialihkan kewajah istrinya yang tersenyum.


"Ini hanya adat...,ambillah sesuai dengan keinginanmu!" kata ayah


Dzaki mengambil gelas yang berisi air minum, diteguknya air itu sampai habis tak bersisa.


"Apa maksudnya semua ini yah?" tanyanya


"Hm...kata orang-orang tua dulu, apa yang diambil pertama kali oleh pengantin laki-laki adalah gambaran dari kehidupannya berumah tangga nantinya, kalau ambil gula,berarti laki-laki itu hanya mau manisnya saja, kalau ambil jeruk bisa bersama saat manis atau masamnya hidup."


"Kalau garam?" tanya Dzaki


"Kalau garam, kata orang-orang tua dia bisa ada disaat apapun, mau susah mau senang, dari muda sampai tua. Diambil dari kegunaan garam yang bisa ditempatkan dimana-mana. Kalau memasak pasti dikasi garam, membuat kue juga pakai garam, jangan pala dipikirkan nak..., ini hanya adat. Hanya menghormati, nanti dibilang kita tak beradat!" jawab Arpin disusul tawa semua tamu yang hadir.


"Hm..kalau pilihnya air?, berarti pengantin itu sedang haus!" jawab Dzaki sendiri


Setelah mengambil berkah acara dengan berdo'a, pasangan pengantin sungkem, meminta izin kepada orang tua mereka. Menikah bukan hanya menyatukan sepasang laki-laki dan perempuan saja, melainkan penyatuan dua keluarga.

__ADS_1


Tangis Arpin pecah saat Mila mencium tangannya memohon restu. Sedangkan Mai lebih terlihat tegar, ini momen bahagia, jangan ada air mata,fikirnya.


Saat Dzaki menjabat tangan mertua laki-lakinya, Arpin menarik Dzaki kepelukannya, tak sungkan laki-laki paruh baya itu menitikkan air mata dihadapannya.


"Aku tidak malu menangis dihadapanmu, ini bukan air mata kesedihan, ini air mata bahagia. Tolong bimbing anakku kejalan Allah, kuserahkan dia kepadamu. Tolong jaga kepercayaanku"


Benar kata ustadz Felix siau, bagaimana tidak menangis orang tua saat menikahkan anak gadisnya. Coba bayangkan, sedari kecil bahkan sejak anak itu didalam kandungan, dia sudah menyayanginya, memberikan semua yang terbaik, setelah lahir sampai dewasa diberikan pendidikan juga yang terbaik, setelah tiba waktunya dia menyerahkan anak yang dijaganya itu kepada laki-laki yang baru dikenalnya.


Ummi Ana menyambut tangan Mila dengan senyum bahagia, dipeluknya menantunya itu.


"Akhirnya ummi punya anak perempuan. Titip Dzaki nak," Ana menciumnya


"Barokallahulaka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir, Saat seorang pria mengatakan “saya terima” dalam sebuah akad pernikahan, maka itu berarti ia mengatakan “bahwa saya menerima tanggung jawab untuk melayani, mencintai dan melindunginya”, jaga istrimu dengan baik" ucap buya Latif menepuk bahu anaknya pelan


\=\=\=\=


Pasangan pengantin didalam kamar, Dzaki duduk diatas kasur dengan masih memakai pakaian sewaktu akad, sementara Mila sudah berganti pakaian memakai pakaian adat Melayu, baju berwarna kuning dengan sunting tinggi diatas kepala. Dzaki yang melihatnya merasa kasihan.


"Berat dek?"


"Hm...banget bang" jawab Mila tanpa menolehkan pandangannya. Dia hanya melihat pantulan suaminya dari kaca


Perias pengantin masih terus merapikan penampilan Mila.


"Ki..ayok keluar, udah betah aja nampaknya disini!" goda Zain.


Mila memang suku Batak, sedangkan mamaknya Banjar, tapi adat yang dipakai saat resepsi adalah adat Melayu. Mila memilih adat melayu karena neneknya orang Melayu asli, nenek Mila kelahiran Tanjung balai. Kota kecil yang bersebelahan dengan kota tempat tinggal Mila. Qodarullah..,Buya Latif,mertuanya juga orang Melayu Deli.


Dzaki dan keluarga berada dirumah orangtua Aisyah. Dzaki sudah memakai pakaian adat Melayu serupa dengan Mila.


Setelah sampai ke lokasi resepsi rombongan pengantin disambut dengan beberapa orang yang berbalas pantun. Seperti palang pintu kalau di tradisi Betawi.


Setelah selesai semua prosesi adat, pengantin disandingkan di pelaminan.


Disusul lagi dengan acara tepung tawar.


Pada upacara adat pernikahan budaya melayu tepuk tepung tawar adalah suatu rutinitas, merupakan upacara adat dan rasa terima kasih bersyukur kepada Yang Maha Esa. Juga bermakna memohon doa restu dari hadirin dan menghadirkan kegembiraan atau kesenangan untuk kedua mempelai,di samping itu juga bermakna sebagai simbol penolakan terhadap segala bala dan gangguan yang mungkin diterimanya kelak. Upacara ini dilakukan oleh keluarga terdekat.


Acara berakhir ditutup dengan Do'a, dan setelah dzuhur acara dilanjutkan kembali, Pengantin kini memakai pakaian adat Jawa.


Modifikasi busana Jawa untuk yang berjilbab seperti Mila, tidak begitu sulit saat ini.


"Walau berjilbab tapi tetap bisa cantik pakai paes kok," ucap perias pengantin.


Dzaki masuk ke kamar, melihat istrinya sudah dengan pakaian Jawa.


"Eh...iki sopo? kok ayu tenan!" ucapnya


Mila hanya tersenyum malu, disusul guyonan mba Putri siperias pengantin.


"Loh..rak kenal to? yo wes mbae tak gowo muleh ae"


"Ojo lah mba..,mengko aku turue kambe' sopo!" jawab Dzaki


Disusul tawa keduanya

__ADS_1


"Supel, ternyata bang Dzaki bukan orang yang kaku seperti perkiraanku. Dia juga suka bercanda." ucap Mila dalam hati


Juna dan teman-temannya masuk kedalam kamar pengantin. Ada Uni, Ahmad dan Erwin.


Baarokallahulaka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir. Ahmad mengucap doa, saat menjabat tangan Dzaki. Aamiin jawab semua yang mendengar.


"Zahira mana Ahmad?" tanya Mila


"Dah balek Malaysia, dah habis cuti. Mesti balek penang, kuliah!"


"Sayang ya Mil,gak jumpa aku sama Zahira. Padahal kepengen banget cubit pipinya yang gembul itu, jadi gantinya kau aja!" Juna mencubit dua pipi Ahmad geram.


"Sakit lah Junaedi!"


"Eh..Jun, awas nanti ada yang cemburu lo." ucap Erwin melirik Uni


Juna yang melihat lirikan Erwin,langsung faham.


"Ha!,Uni...kau mau sama Memet?" tanya Juna meledak-ledak


Suasana riuh didalam kamar, seolah-olah mereka sedang reoni akbar.


Dzaki yang duduk diluar mendengar pembicaraan mereka tersenyum maklum.


\=\=\=\=\=


Diluar prediksi, ternyata tamu undangan sangat banyak. Teman sekolah Mila hampir semuanya datang, terjadilah tumpukan kado yang menggunung didalam kamar.


Sepulangnya dari shalat Isya Dzaki dan semua laki-laki yang ada dirumah itu dari masjid, Dzaki masuk kekamarnya.


"Sudah sholat?" tanyanya


"Ini baru mau shalat,bang! Tadi siapin makan abang dulu dimeja, abang makan lah dulu!" ucap Mila


"Shalatlah, abang tunggu di sini saja ya! Nanti kita sama-sama makannya." ucap Dzaki membaringkan badannya diatas tilam yang penuh kado


Acara resepsi memang sengaja hanya sampai sore saja, tak seperti biasanya. Kalau disini resepsi itu dari pagi sampai malam.


Ini semua permintaan Mila, capek katanya gonta-ganti baju terus.


Beberapa tamu masih ada yang datang, Arpin dan Mai menyambutnya didalam rumah saja. Beberapa orang masih nampak beberes membersihkan lokasi pesta, jalan komplek yang tadinya ditutup, sekarang sudah dibuka kembali.


"Bang.., bang Dzaki bangun,makan dulu!" Mila membangunkan suaminya yang terlihat letih.


Dzaki terkejut dan bangun seperti orang mengigau.


"Astaghfirullah...abang ketiduran."


"Yok...makan dulu" ucap Mila membukakan pintu


Canggung, mau diam aja rasanya kepingin bercerita, mau tanya-tanya tapi gak tau mau tanya apa, jadilah malam itu makan tanpa bersuara.


"Loh bang, kok cuman makan ayamnya aja?, sayurnya mana?" Mila melihat isi piring suaminya.


"Abangkan gak makan sayur he" jawab Dzaki

__ADS_1


Sudah berapa kali aku makan bersama disini, berarti dia tidak memperhatikanku. gumam Dzaki


__ADS_2