Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Menghindar


__ADS_3

Gadis itu masih duduk dengan menengadahkan tangannya, matanya terpejam. Cairan bening tak berhenti keluar dari kedua matanya. Mulutnya hanya diam, mungkin hatinya yang bicara, hatinya yang curhat kepada Tuhannya.


" Ya Allah... hamba sangat bersyukur, jika kau memberikan hamba suami sebaik dan sesoleh bang Dzaki, tapi ya Allah... hamba tidak sanggup menghancurkan hati ukhti Amira dan juga Zizi. Bisakah Engkau menggantikan orang yang ingin melamar hamba itu dengan laki-laki lain yang masih belum menikah ya Allah " ucap Mila dalam hati.


Tangisnya semakin pecah mengingat percakapan Zain dan ayahnya tadi malam.


" Alhamdulillah... kejutan apa lagi ini " ucap Arfin


" Siapa yang akan menolak jika mempunyai menantu sesoleh Dzaki, bukan hanya soleh dia juga seorang dosen dan anak kiyai pula, justru ayah yang merasa tak pantas menjadi mertua dan besan mereka Zain " ucapnya lagi


" Mila belum tau masalah ini yah, tadi waktu di mobil Zain tanya kalau ada yang melamar Mila bagaimana?, terus adek bilang semuanya diserahkan ke ayah syaratnya hanya satu harus lajang "


" Ah... kalau Dzaki sudah beristri juga ayah tetap menerimanya, ayah yakin Dzaki bisa berlaku adil " jawab Arpin


" Kalau tidak ada halangan, Lebaran haji Dzaki pulang dan kalau ayah setuju dia akan melamar Mila dan kalau ayah setuju juga Dzaki tidak mau lama-lama. Soalnya dia sudah cukup lama cuti mengajar, gak enak cuti-cuti terus "


" Bilang sama Dzaki kalau Mila sudah menyerahkannya semua sama ayah, kalau Dzaki datang besok ayah akan terima! "


Mata gadis itu bengkak, sepertiga malam itu di lewatinya dengan terus menerus bermunajat memohon petunjuk dari Rabb-nya. Karena sangat lelah dia tertidur diatas sajadahnya.


Laki-laki yang berjonggkok itu menggenggam erat tangan perempuan yang ada di depannya, perempuan itu sangat pucat, matanya sayu, badannya terlihat sangat lemah.


" Adik pasti sembuh, yakin sama Allah " laki-laki itu berdiri dan kembali mendorong kursi roda


" Seharusnya aku bisa berlari mas, seperti Siti Hajar yang mencari air untuk putranya Ismail " ucap perempuan itu


" Adik mau mas gendong sambil berlari? Ayo! " Laki-laki itu hendak mengangkat perempuan di atas kursi Roda


" Maaf kan aku mas.." perempuan itu menangis


Air matanya terus mengalir, tangisannya tak bisa ia bendung. Dia merasakan kesedihan yang amat dalam.


" Kenapa aku tak bisa beribadah di rumah sucimu ini dengan sempurna ya Allah.." ucapnya lirih


Gadis diatas sajadah itu mengusap matanya, mukenanya basah. Entah berapa liter air matanya jatuh malam itu.

__ADS_1


" Mimpi itu lagi, tapi kenapa aku sepertinya lumpuh? dan laki-laki itu...bang Dzaki!! Ya Allah.. apa ini " Mila bertanya pada dirinya sendiri


\=\=\=\=


Pagi ini gerimis jatuh di kota kecil Mila. Mila sudah sampai di kampus dengan menggunakan mantelnya, ia memukul-mukul roknya menepiskan sedikit lumpur yang menempel dihujung roknya.


Hari ini hari terakhir kegiatan di kampus. Libur lebaran akan segera tiba. Mila masuk kedalam kelasnya.


" Erna... hari ini kita ada liqo' kan? "


" Tolong permisikan aku ya, aku gak enak badan, aku mau pulang aja " ucap Mila


" Oke, Erna membulatkan jari telunjuk dan jempolnya setengah berlari meninggalkan Mila yang masih duduk didalam kelas.


"Erna sepertinya sedang kebelet.. kalau tidak, mana mungkin dia cuman bilang oke, tapi baguslah.." fikir Mila


Mila memakai jaketnya, dia melangkahkan kakinya menuju perpustakaan kampus. Ya..Mila memang berbohong, dia sengaja tidak ikut ta'lim karena Amira pasti ada disana.


" Mila mau kemana? kita kan mau Liqo'! " ucap perempuan yang menggandeng anak kecil


Mila menghentikan langkahnya melihat asal suara, Mila mematung...Bingung harus berbuat apa.


" Gak biasanya Mila begitu, sampai Zizi pun dicuekinnya " gumam Amira dalam hati


Mila mengambil keretanya diparkiran dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Dia menyesal. Kenapa tadi harus lewat ruangan dekan sih aku...kan ukhti Amira lagi sidang! Mila memukul-mukul keningnya.


Keretanya pun berhenti didepan gedung bercat merah bata. Mila masuk kedalam. Tak menunggu lama beberapa buku sudah ada dipelukannya. Mila mencari bangku kosong, oke... disini saja. Mila duduk persis dihadapan pendingin ruangan karena dia sangat kepanasan.


Tiga puluh menit berselang Mila memijit pangkal hidungnya.


" Kenapa, kepalamu sakit? kena bola lagi? " ucap laki-laki di seberang mejanya.


" Siapa yang kena bo.... " Mila menghentikan ucapannya


" Ahmad!! " ucap Mila keras. Dalam sekejab semua mata pengunjung perpustakaan tertuju kepadanya.

__ADS_1


" sssssttttt.... " Ahmad menaruh telunjuk didepan bibirnya


Mila merasa malu menutup wajahnya dengan bukunya.


Ahmad menghampirinya,


" Apa kabar ustazah? "


" Alhamdulillah.. ana bii khoir " ucap Mila


" Ahmad apa kabar? dengar-dengar Ahmad di Malaysia, kapan pulang? " tanya Mila


" Ada lah setengah bulan, kan dah nak raye.." jawab Ahmad


" Hah... sudah jadi Upin Ipin ngomongnya ya! "


" Ah..kau, taunya Upin Ipin aja, boboboy dong! " ucap Ahmad tersenyum


" Sama aja memet.." Jawab Mila masih di balik buku


Dua teman lama itu saling bertukar cerita. Dunia terasa milik berdua yang lain cuman numpang.


Deeerttt.... hape Mila bergetar.


[ Mil...Ukhti Amira titip salam, katanya cepat sembuh ya... trus tadi pamitan juga ukhti Mira mau ke Malang, lebaran disana mungkin lama baru pulang ke Medan lagi, kita ganti Murobbi ]


Ceklis biru


Mila hanya membaca pesan dari Erna, di taruhnya kembali Handphonenya. Moodnya tiba-tiba berubah. Ahmad yang melihat perubahan diwajah Mila menegurnya.


" Kenapa Mil? "


" Gak ada apa-apa kok Mad " jawab Mila memaksa tersenyum.


" Lebaran di Malang..ya iyalah, istri kan harus ikut suami " gumamnya dalam hati

__ADS_1


Ya Allah..... Mila menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, kepalanya dijatuhkannya keatas meja.


Ahmad melihat tingkah teman lamanya itu geleng-geleng kepala. Mungkin dia lagi dapet pikirnya.


__ADS_2