Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Drop


__ADS_3

Pendaratan sempurna, seluruh penumpang bernafas lega. Pesawat sudah berpijak di darat. Dzaki menggendong Hafiz yang baru terbangun dari tidurnya. Menggandeng Mila ditangan satunya. Sentuhan itu menangkap hawa panas ditubuh istrinya.


"Panas lagi badannya,dek!"


"Apa iya, Mas? Mila gak ngerasain apa-apa!"


"Kepalanya sakit gak?"


"...." Mila membalas dengan meng-gelengkan kepalanya.


Mungkin karena kelelahan, pikir Dzaki. Bagaimana tidak perjalanan cukup memakan waktu yang sangat lama, apalagi harus transit sampai dua kali.


Jam tiga dini hari mereka sampai di Bandara internasional Penang, Dzaki segera mencari taxi. Setelah sopir memasukkan koper kedalam bagasi mobilnya mereka pun berangkat menuju lokasi yang sudah di share oleh Ana.


"Kita langsung kerumah sakit, Mas? Enggak tunggu Ummi sampai dulu?" Mila memang belum tau kalau kedua orang tuanya sudah berada disana lebih dulu.


"Kita ke penginapan! Ummi sudah sampai duluan tadi siang!" ucap Dzaki dari depan. Dia duduk disebelah pengemudi, bercerita mengakrabkan diri. Sekaligus bertanya tentang rumah sakit yang akan mereka datangi besok pagi.


Taxi pun berhenti. "Dah sampai, Ncek!" ucap sopir taxi yang masih sangat muda itu.


Dzaki membayarnya dengan memberikan tip. "Terimekasih, Ncek!" ucapnya sangat bahagia.


"Assalamu'alaikum, Ummi!" Dzaki mengetuk pintu homestay. Dia masih menggendong Hafiz yang tertidur.


Handle pintu bergerak, perempuan bermukena terlihat dari balik pintu.


"Mamak!" perempuan bergamis itu terkejut, melihat sosok yang membukakan pintu. Mereka pun berpelukan.


"Hu... uu," Mila menangis, tak seperti biasanya. Kali ini dia menangis dengan bersuara. Rasa bahagia karena melihat mamaknya, dicampur dengan rasa bersalah karena merasa merepotkan mamak dan Umminya, karena dia sakit mereka rela meninggalkan buya dan ayahnya untuk menemaninya disini.


"Jangan cengeng! yang semangat dong! Mamak sudah datang kemari! Harus sehat!" ucap Mai menghapus air mata Mila.


"Harus Happy, Nduk!" peluk Ana yang baru selesai tahajjud.


Dzaki sudah meletakkan Hafiz diatas kasur. Mereka semua menghabiskan waktu untuk bercerita membahas apa yang akan dilakukan terlebih dahulu besok. Siapa yang akan menjaga Hafiz dan siapa yang ikut bersama Mila dan Dzaki kerumah sakit.


\=\=\=\=\=


Gleneages Penang berdiri sejak 1973 sebagai rumah sakit swasta pertama di Penang, Malaysia. Dengan bangunan baru yang mencapai 19 lantai, Gleneagles Penang kini memiliki 360 tempat tidur rawat inap yang melayani pasien dari Malaysia maupun Indonesia.

__ADS_1


Gleneagles Hospital Penang memiliki peralatan medis yang lengkap dengan teknologi terbaru untuk memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan yang maksimal. Pelayanan medis di Gleneages Penang didukung oleh lebih dari 60 dokter spesialis tetap (full time), dan sekitar 20-an dokter spesialis part-time.


Sebagai rumah sakit dengan standar internasional, Gleneagles Penang mendapatkan akreditasi internasional dari Joint Commission International (JCI) dan juga dari The Malaysian Society for Quality in Health (MSQH).


Dzaki melangkahkan kakinya menuju meja yang bertuliskan RECEPTION. Bertanya kepada resepsionis yang bertugas, pelayanannya ramah. Dzaki memandang istrinya yang berada di kursi tunggu yang duduk dengan wajah yang sangat tegang meski mencoba untuk terus tersenyum.


Dzaki berjalan menemui istrinya.


"Ayo!" ajaknya memegang beberapa berkas hasil tes yang dibawanya dari Indonesia.


"Kita akan melakukan pemeriksaan ulang, kita diarahkan ke dokter siapa tadi namanya?" Dzaki membaca kertas yang ada ditangannya.


"Dokter M. Amir Shah, dokter spesialis Kanker,Sub Radioteraphy." ucapnya.


Sebelum bertemu dengan Dokter, Mila harus melakukan beberapa pemeriksaan seperti saat di Indonesia seperti periksa darah dan CT Scan seperti kemarin. Ditambah MRI. Setelah menunggu beberapa saat, perawat yang berperawakan tinggi dan berkulit hitam memberikan hasil pemeriksaannya. Sambil mempersilahkan mereka masuk kedalam ruangan dokter.


Tangan Mila berkeringat, wajahnya pucat. Bukan karena menahan sakit, tapi karena ketakutan yang berlebihan. Seakan tak siap menerima hasil pemeriksaan yang akan di jabarkan oleh dokter beberapa saat lagi.


"Silahkan duduk!" ucap Dokter itu ramah.


"Jangan takut! saya tidak galak!" ucap dokter itu dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Saya mau Radiotherapy dok!" ucap Mila tegas. Disusul senyuman dokter ganteng itu.


"Saya bisa sembuh kan, Dok?" tanya Mila memastikan.


"Insya Allah, berusahalah adek. Bantu kami dengan semangat, mu!" ucapnya.


Percakapan dilanjutkan dengan jadwal tindakan radiotherapy yang harus dilakukan.


\=\=\=\=\=


Hafiz mulai terbiasa bermain dan belajar dengan kedua neneknya, sesekali ia diajak kerumah sakit walau hanya sebentar melihat ummanya. Mila sedang dirawat inap, ini kali ke tiga jadwal radioterapi yang dilakukannya, masih ada sisa satu kali lagi.


Tindakan "Dibestral" istilah lain untuk radiotherapy yang akan dilakukan Mila adalah empat kali. Dilihat dari kondisi kesehatannya satu tindakan perminggu. Setiap minggu Mila harus memasuki ruangan yang menyeramkan itu, seperti mixer raksasa namun tak ada besi dua yang menggantung untuk adukan tepungnya.



Saat tindakan pertama sampai ke dua, Mila masih bisa pulang ke homestay, karena terapi ini tak perlu rawat inap, tapi setelah tindakan sinar ke tiga, HB Mila rendah, tekanan darahnya rendah, Mila drop, Terpaksa dirawat Inap. Dzaki dengan setia menemaninya. Walau para perawat sudah memastikan akan menjaga Mila dengan baik, tapi Dzaki memaksa ingin tetap berada di dekat istrinya.

__ADS_1


Deeert... deert Ponsel Dzaki bergetar diatas nakas di sebelah brangkar Mila. Mila mengambilnya. Ada panggilan video bertuliskan nama ayahnya disana.


Mila menangkupkan gawai itu didadanya. Air matanya menetes, bersamaan dengan langkah Dzaki memasuki ruangan. Dia baru saja selesai shalat maghrib di mesjid rumah sakit.


"Siapa yang telepon, Dek?"


"Ayah!" ucapnya berbisik. Bukan disengaja, melainkan memang beberapa minggu ini Mila merasakan sakit dibagian lehernya, dia juga sariawan. Mungkin itu efek dari dibestral.


"Mas, angkat ya!" ucap Dzaki disusul dengan anggukan dari istrinya.


"Halo, Ki! kekmana boru ku!" ucap Arpin.


"Ini dia, Yah. Alhamdulillah, udah gak lemah lagi! mulai cerahla wajahnya!" Dzaki memperlihatkan Mila dalam panggilan itu.


Mila tersenyum, melambaikan tangan kemudian mengacungkan jempolnya.


"Lehernya sakit, Yah. Sariawan juga, jadi susah dia ngomongnya!" jelas Dzaki.


"Ya sudah lah, sehat-sehat kalian disana ya! Mila, yang semangat kau ya, Nak!" ucap Arpin menyudahi panggilan videonya.


"Ya, Allah. Sembuhkan anak hamba!" Doanya menyeka cairan bening di sudut matanya.


Gawai itu kembali bergetar menampilkan panggilan yang sama seperti tadi, hanya saja kali ini tidak ada nama yang tertera disana. Dzaki segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Pak! Mba mana?" tanya perempuan dalam panggilan itu. Dzaki duduk di brangkar, merangkul Mila agar mudah menunjukkan wajah orang yang dicari-cari sipenelfon, dan dia menjadi jubirnya.


Mila melambaikan tangannya dengan senyum yang dipaksakan namun tulus.


"Mba, cepat sembuh ya!" ucap Aisyah iba, melihat kondisi kakak sepupunya itu.


Mila menangkupkan kedua tangannya didada. Mulutnya terbuka, namun tak mengeluarkan suara.


"Kata mba mu, mohon do'anya ya, Dek!" ucap Dzaki membantu.


"Iya, pasti kakak!" Aisyah menahan tangis, dan menyudahi panggilannya.


Semua orang bersedih melihat sosok yang periang itu kini terbaring lemah, melawan sakitnya.


"Makan ya! Mas suapin!" ucap Dzaki memeluk istrinya. Mila mengangguk. Walau tak berselera tapi dia harus memaksa dirinya untuk mau makan walau rasa sakit saat menelannya.

__ADS_1


__ADS_2