
Terik matahari menyinari tempat yang paling dirindukan semua ummat muslim. Semua yang berada disana disibukkan dengan ibadah terbaik mereka. Sibuk dengan semua do'a do'a yang mereka panjatkan kehadirat-Nya.
Berdoalah... hanya kepada Allah kita meminta. Sisanya urusan Allah hanya dia yang berhak memutuskan dikabulkan atau ditangguhkan do'a do'a kita. Ditangguhkan... bukan tidak dikabulkan. Karena Allah tidak pernah menolak do'a hambanya.
Tangan itu menengadah, kedua matanya terpejam. Cairan bening tak bisa ia tahan jatuh dari matanya. Harapannya sangat besar, do'anya dikabulkan. Tak lupa syukur pun ia panjatkan atas segala keberkahan ilmu yang ia dapatkan.
\=\=\=\=
Laki-laki berkemeja hitam itu masih duduk saat semua penumpang Saudi Arabian Airlines keluar.
Alhamdulillah... ucapnya. Diambilnya ponsel disaku celananya. Tak berapa lama setelah ponselnya diaktifkan ia mengetik pesan dan kemudian menelfon seseorang.
"Halo... Assalamu'alaikum, Buya!Alhamdulillah Dzaki sudah dibandara." ucapnya
"Alhamdulillah... naik kereta api saja, Ki. Nanti biar Hasan menjemputmu di stasiun. " ucap buya Latif.
Dzaki membeli tiket dan bergegas masuk kedalam kereta dan memilih kursinya.
"Zain... masih di kampung?"
"Iya...ana ambil cuti sekalian lebaran, antum sudah di Indonesia?"
"Waw... perusahaannya nenek moyang loe punya? haha... Ana sudah di Medan, sedang di kereta api ini!"
"Mau terus kesini?"
__ADS_1
"Eh... kenapa kau yang tak sabar?"
"Haha... iya gak sabar kali pun aku Rif, masih belum berubah fikiran kan?"
"Apakah sudah ada yang mengkhitbah?"
"Gak tau aku, sampai sekarang ayah belum ada cerita sih!"
"Oh... baguslah." tersungging senyum disudut bibirnya, merasakan kebahagian mendengar kabar yang baru saja diterimanya.
Zain menutup telfonnya. Ia masih di rumah orang tuanya. Apa aku harus memberitau ayah dan mamak sekarang? ucapnya dalam hati. Ah... nanti sajalah mungkin lebih baik ayah tau sendiri.
Zain merebahkan tubuhnya di tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar ayah dan mamaknya itu. Karena kamar dirumahnya hanya tiga, Zain dan istrinya tidur dikamar itu sedangkan Arpin dan Mai mengalah dan memilih tidur di depan Tv.
Mata Zain berkaca-kaca mengingat percakapan ia dan Dzaki beberapa tahun yang lalu.
"Zain... ada yang mau ku bicarakan, serius!"
Dzaki mengajak Zain duduk.
"Ada apa?" ini pasti serius, fikir Zain karena sebelumnya Dzaki gak pernah terlihat seserius ini.
"Ana mau mengkhitbah adikmu "
"Hah!!" Zain terkejut. Bahkan sangat terkejut.
__ADS_1
"Nando?" candanya
"Hahaha... iya Nando!" jawab Dzaki. Ia meninju tangan temannya itu.
"Ana serius... selain Ummi yang kelihatan sangat menyukai adikmu, sepertinya ana juga tertarik padanya. Semoga Allah menjaga perasaan ini sampai nanti bisa ana halalkan dan tidak menjadi dosa jika ketertarikan ini berobah jadi cinta." Ucap Dzaki serius
"Tahun depan ana akan melanjutkan S2, Insya Allah sepulang dari sana nanti ana akan mengkhitbahnya, bagaimana menurut antum?"
"Terserah kau saja, istikhoroh lah. Kalau ana sangat setuju kalau memang ini yang terbaik, ana percaya kau bisa membimbing Mila." Jawab Zain pula
\=\=\=\=
"Ini bapak, Ummi?" tanya anak kecil yang memeluk erat kaki Amira
"Iya... ini bapak, coba liat boneka ini cantikkan, ini bapak belikan khusus buat Zizi. Disini mana ada jual yang seperti ini!" Dzaki memegang boneka Unta yang di belinya di pasar di sekitar Makkah.
Gadis kecil itu mulai melepaskan pelukannya, dan melihat boneka yang di pegang Dzaki.
"Itu buat Zizi? Untanya perempuan atau laki-laki?" tanya anak kecil itu polos.
Dzaki mengernyitkan dahinya dan memberikan kode ke Amira menanyakan apa maksudnya.
"Kata ummi, Zizi gak boleh temenan sama laki-laki, Laki-laki itu semuanya bahaya."
Ucap Zizi
__ADS_1
Dzaki dan semua orang yang ada disitu tertawa. Ummi Ana, Amira dan buya Latif sengaja membiarkan mereka berkenalan dulu.
Malam itu rindu yang telah menggunung seolah telah meletus dan memuntahkan larfanya... Rasanya malam itu mereka tidak ingin tidur.