
Suara weker membangunkan dua pasang mata yang masih ingin terpejam. Salah satu dari mereka meraba sisi nakas dan mengambil jam dengan gaya vintage itu. Hampir subuh, laki-laki jangkung itu memeluk istrinya yang masih tampak mengantuk. Diletakkannya punggung tangannya ke kening wanita yang sangat dicintainya. "Alhamdulillah....,panasnya sudah turun." ucapnya lirih.
"Tidurlah, kalau masih mengantuk. Mas,mau mandi dulu. Nanti setelah selesai mas bangunkan." ucapnya menarik selimut menutup sebagian tubuh istrinya.
Perempuan itu meraba kepalanya. Handuk kecil namun tebal masih melekat dikeningnya.
Dia posisikan badannya duduk bersandar ditempat tidur.
"*Alhamdulillahilladzi ahyanaa ba'dama amatana wa ilaihinnusyur"
Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan kami setelah kami mati (membangunkan kami dari tidur) dan hanya kepada-Nya kami dibangkitkan*.
Dia mengumpulkan seluruh tenaganya, perlahan-lahan dia menurunkan kakinya kelantai. Berdiri disamping ranjang sebentar mengatur keseimbangan, kemudian berjalan mengambil handuk yang tergantung rapi di towel stand.
Kakinya berhenti di depan pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam.
"Oh iya, mas Dzaki kan mandi." ucap Mila memukul kepalanya pelan
Pintu kamar mandi terbuka. Dzaki yang melihat istrinya tepat didepan pintu terkejut.
"Loh, adek sudah bangun. Mau mandi?, bisa sendiri kan?, kalau tidak tunggu mas pulang dari masjid saja, biar nanti mas bantu mandiin!"
"Apaan sih, mas." Mila tersipu, iya kali dimandiin suami, hehe
"Badan Mila pegel semua, mudah-mudahan habis mandi berkurang sakitnya. Kan katanya mandi pagi menyehatkan!"
"Kata siapa?"
"Kata Mila dong, he" Mila menyeringai
"Eh..sudah sana, nanti wudhunya batal loh, udah ngaji tuh di mesjid, nanti mas ketinggalan shalatnya." elak Mila,menghindari suaminya yang mau memeluknya
"Nanti kan bisa wudhu lagi!" Dzaki memeluk istrinya gemes, diciumnya pucuk kepala istrinya itu.
"Hm...aseeem" godanya.
"Salah sendiri, kan adek baru mau mandi."
*****
Pagi jum'at yang sejuk. Laki-laki bersarung itu sedang duduk diatas kasurnya, memegang Al-Qur'an di tangan kanannya. Sementara tangan satunya membelai kepala istrinya yang tiduran diatas paha kirinya. Kebiasaan baru Mila setelah tinggal bersama suaminya.
Lantunan merdu suara Dzaki membaca surat Al-Kahfi menjadi rutinitas setiap pagi dihari Jum'at.
Siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, dan siapa yang membaca keseluruhannya maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi.” (HR Ahmad).
Mila memainkan jari jemari suaminya. Indahnya pernikahan. Apa yang dilakukan menjadi pahala berbanding terbalik dengan pacaran, segala sesuatu yang dilakukan adalah dosa.
"Masih gak enak badannya, yank?" Dzaki menutup mushabnya.
"Sudah sedikit enakan,mas. Ya Allah!" Mila berdiri mengambil jilbabnya, dan berlari keluar kamar.
__ADS_1
"Mas, adek lupa kalau ada ummi!" ucapnya membuka pintu
Sedari bangun tidur tadi sampai selesai shalat dia tidak keluar dari kamar seperti hari biasa. Biasanya kalau sudah jam tujuh pagi Mila baru turun dari kamarnya untuk membuat sarapan. Bersihkan rumah dan pekarangan sudah ada bi Lastri dan mamang. Bagian Mila hanya mencuci dan memasak saja.
Sambil setengah berlari, Mila menuju dapur. Menemui mertuanya. Pasti ummi didapur,pikirnya. Kemana lagi perempuan kalau pagi-pagi begini.
"Selamat pagi ummi." ucap Mila memeluk Ana yang ada di dapur.
"Sini ummi, biar Mila saja yang teruskan." ucap Mila mengambil pisau ditangan Ana. Melihat bahan-bahan yang ada didapur sepertinya Ana ingin memasak nasi goreng.
"Selamat pagi, anaknya ummi udah sembuh!" ucap Ana, mengelus lengan menantu kesayangannya yang tampak sudah kembali ceria seperti biasanya.
"Tidak apa-apa, biar ummi saja yang masak. Mila gak kangen masakan ummi?" ucap Ana
"Kangen dong Mi, masakan ummi enak, (walaupun baru sekali mencicipi masakan ummi), sama seperti masakan mamak." wajah Mila yang tadi sumringah berobah menjadi sedih
"Loh..kok murung gitu mukanya, kangen mamak ya nak?" Ana menerka
"Iya, ummi. Mila rindu sekali sama mamak, ayah, bang Zain, Nando,buya, ukhti Amira, Zizi, pak Joko eh... pak Joko nggak deh."
"Dulu waktu ummi ikut buya ke Medan rindu gak sama mbah? terus ummi ngobati rindunya gimana?" tanya Mila
"Ya ditelepon saja. Dulu cuman bisa dengar suara simbok saja sudah senang sekali ummi, kalau sekarang lebih gampang kan, kalau rindu bisa video call. Langsung lihat wajahnya."
"Mila gak mau ah, ummi"
"Loh, kok gak mau?"
"Nanti Mila nangis, hehe" ucap Mila malu.
Seperti saat dipesantren dulu, dia tidak mau dikunjungi ayah dan mamaknya. Selama enam bulan dipesantren, Arpin hanya menjenguknya satu kali saja. Sisanya hanya Zain yang melihatnya. Itupun karena Zain juga ada dikota yang sama.
"Gak boleh gitu dong nak, pikirkan juga ayah dan mamak disana, Kali ini Mila sudah berumah tangga loh, beda... Mila bukan sekolah dipesantren. Kalau sekolahkan ada jadwal liburnya, jadi bisa pulang kerumah. Sekarang,sebagai istri kita tidak ada jadwal liburnya nak..., lagipula jarak Medan ke Malang kan cukup jauh. Teleponlah nanti kalau ada waktu, Video call. Kasitau mamak dan ayah Mila disini bahagia, makin cantik lagi" ucap Ana panjang lebar.
"Iya,ummi. Nanti Mila coba Video Call." jawab Mila memasukkan kerupuk mentah kedalam minyak panas.
sreeeeeng.
Kerupuk pink bermekaran seperti bunga, satu persatu diangkatnya dan ditiriskan diatas piring yang sudah beralas tissu.
"Mau Vidio Call pakai apa? Jangankan panggilan vidio, panggilan biasa saja sudah tidak bisa,hiks... handphone kesayanganku telah tiada." tangis Mila dalam hati
Setengah jam lebih proses masak memasak, Ana dibantu Mila menyiapkan sarapan pagi. Sekarang semuanya sudah siap disantap. Nasi goreng, Telur dadar dan telur mata sapi, kerupuk udang, dan selada yang sudah dicuci bersih. Oh..ya ada yang ketinggalan, teh manis panas.
"Mila..."
"Iya, Mi" Mila menoleh,melihat Ana seperti memikirkan sesuatu
"Kenapa banyak stok daun selada di dalam kulkas, sampai berapa hari habisnya selada sebanyak itu?"
"O..dua hari juga paling sudah habis, Mi"
__ADS_1
"Mila suka selada?"
"Iya,Mi,Mila suka...,tapi yang paling suka mas Dzaki!"
"Loh,kok bisa! Alhamdulillah kalau gitu." ucap Ana bahagia
"Tadinya waktu Mila makan nasi goreng pakai selada,mas bilang ih...adek kayak kambing!, trus Mila bilang, mas kenapa gak suka makan sayur?, mas jawab,gak suka aja. Udah pernah dimakan belum? trus mas geleng-geleng. Lucu ya Mi, gak tau rasanya kok bisa bilang gak suka, eh...sekarang udah tau rasanya,ketagihan. Kalau Mila masak nasi goreng gak pake selada, kata mas seperti ada yang kurang, Ummi." jelas Mila panjang lebar.
Karena keasyikan ngobrol, mereka tidak menyadari kehadiran sosok yang jadi bahan gunjingan. Astaghfirullah...maksudnya yang jadi topik pembahasan.
"Perubahan untuk jadi yang lebih baik ummi." ucap Dzaki duduk bersiap untuk sarapan.
Pagi itu ruang makan terasa beda, lebih hidup rasanya, karena ada ummi. Mila membayangkan seandainya ada mamak dan ayahnya juga disini.
"Oh iya nak, perempuan yang kamu tolong kemaren kabarnya bagaimana?" tanya Ana, mengingat cerita menantunya tadi malam
"Kurang tau, ummi. Kemaren malam Mila pulang gak pamit. Mas gak ngizinin." Matanya melirik Dzaki
Ana menatap Dzaki lekat. Seakan tau isi kepala umminya,Dzaki menjelaskan
"Yang ditolong Mila itu Winda, Mi!"
"Winda yang datang kemari waktu itu,Ki?"
Hah... Mila terkejut. Ternyata bukan hanya suaminya yang mengenalnya. Bahkan Ummi juga mengenalnya. Kalau saudara tidak mungkin Dzaki tidak mengenalkannya pada Mila.
"Ummi, kenal?"
"Tidak kenal sih, tapi waktu itu pernah main kesini waktu lebaran,"
"Eh... Ummi lamakan disini!" tanya Dzaki, berharap dua wanita paling berharga dihidupnya itu melupakan yang baru saja mereka ceritakan.
"Sampai besok lah, nanti sore juga buyamu sudah sampai kesini!" ucap Ana, buya Latif saat ini sedang di Surabaya, ada keperluan,urusan travel. Ana memaksa ikut, rindu sama anak dan menantu.
****
Setelah sarapan,Mila hendak mengambil obatnya didalam kamar. Bi Lastri datang, dan memulai aktifitas bersih-bersih didalam rumah.
"Selamat pagi bi..., bibi bisa ngurut gak bi?"
"Kalau ngurut capek aja sih bibi bisa, neng. Tapi kalau ngurut perut bibi gak berani, takut salah."
"Oke, kalau gitu setelah pekerjaan bibi selesai, tolong nanti pijitin saya ya bi. Badan Mila pegel semua." ucap Mila
Bi lastri melihat lebam di pipi majikannya. Tapi tidak berani untuk bertanya.
****
Dirumah sakit, Winda bersikeras minta pulang.
"Winda sudah tidak apa-apa, mas. Kita pulang saja. Malah tambah sakit kalau aku disini terus," rengek Winda pada suaminya Faruk.
__ADS_1
"Ya sudah, biar mas urus dulu. eh...yang nolong adek kemaren bagaimana kabarnya ya. Mas belum sempat berterimakasih padanya."
Winda mengingat kejadian waktu itu. Bagaimana bisa perempuan itu melawan preman yang berbadan dua kali lebih besar dari nya. Winda angkat topi atas keberanian gadis itu. Kapan waktu,dia ingin bertemu lagi.