
Suara benda yang jatuh bertabrakan mengeluarkan suara berisik. Bedak, beberapa lipstik bermacam warna, sisir, pena, agenda bertumpuk menggunung di karpet hotel. Membangunkan siapapun yang tertidur dikamar itu.
"Cari apa sih, yank?" Dzaki mengucek-ngucek matanya. Mila masih konsentrasi mencari sesuatu dalam tasnya, dan kini pencarian sudah merambah ke sling bag suaminya.
"Adek, cari apa?" ucap Dzaki berjalan kearah lemari. Dibukanya laci lemari itu, dan mengambil barang yang mungkin eh... bukan mungkin, yang pasti dicari istrinya kalau bangun pagi.
"Adek,cari ini!" Dzaki menunjukkan benda pipih berbungkus plastik warna biru.
"Kok bisa ada sama kamu, Mas?" Mila mengehentikan pencarian.
"Lupakan ini, jangan terus membebani pikiranmu. Mungkin menurut Allah,kita belum mampu, Allah akan kasi disaat yang tepat." Dzaki memasukkan kembali beberapa alat tes kehamilan yang kemarin tanpa sengaja dilihatnya dalam tas istrinya.
"Jangan diambil. Ini perintah!" ucap Dzaki berlalu meninggalkan Mila yang hendak menarik laci lemari.
Sudah menjadi hal biasa bagi Mila selama 6 bulan terakhir ini. Dia menyetok alat tes kehamilan didalam tasnya. Hampir setiap pagi dia menggunakannya.
"Nanti saja, kalau sudah terlambat Haidnya."
Mila teringat kata-kata mamaknya, saat dia bertanya, apa mungkin mak bisa bergaris dua!. Selain rasa bersalah kepada Dzaki dan keluarganya, karena sampai saat ini dia belum memberikan kabar bahagia, Mila juga merasa tak percaya kalau-kalau alat tes itu bisa menghasilkan garis dua.
"Melamun aja, yank. Ngelamunin apa sih? nanti kesambet loh." Dzaki mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Masak di mekah ada setan, mas?"
"Jangankan di Mekah, dulu iblis juga ada di syurga kok."
"Oiya, Mas. Eh... tunggu, jangan tinggalin adek. Mas... sebentar ya, sebentar aja adek mandinya. Ini sholat kita terakhir disini. Tunggu ya mas, tunggu!" Mila setengah berlari masuk kedalam kamar mandi, sesekali memutar badannya berjalan mundur, memastikan Dzaki tetap menunggunya.
"Iya, mas tunggu. Cepat!"
***
Adzan subuh bergema menembus langit kota mekah. Seluruh jamaah shalat subuh telah memenuhi hampir seluruh lapangan yang berlantai putih itu. Suara imam masjid Abdurrahman as-Sudais terdengar lantang nan merdu, serasa mendengarkan rekaman mp3nya bermurottal. Tapi ini asli dari sumber suaranya langsung.
Mila POV
Sudah lima hari aku disini. Dinginnya lantai masjid, ramainya orang dari seluruh negara yang sama-sama beribadah disini,membuatku tak ingin pulang. Jika boleh tinggal, aku akan tinggal disini. Aku akan berkunjung kesini lima waktu full. Insya Allah.
Seperti biasa mas Dzaki menggenggam tanganku saat tawaf. Jangan jauh dariku katanya. Ah... bukan hanya saat tawaf. Dimanapun kapanpun mas Dzaki memang selalu begitu. Kadang yang sudah selalu dilakukan menjadi tidak sweet lagi ya. Astaghfirullah... harusnya kan aku bersyukur.
Ini hari terakhirku disini. Mas Dzaki belum juga menjemputku, setelah selesai shalat subuh, dia selalu menyuruhku menunggunya disini, tapi kenapa lama sekali. Sebaiknya aku tunggu saja. Kalau aku pergi nanti repot urusannya. Akan ada ritual cari mencari berjam-jam lamanya. Area masjidil Haram ini kan sangat luas.
Kulihat mas Dzaki dari kejauhan. Sambil sedikit berlari, tak lupa menyunggingkan senyum terbaiknya. Lesung pipi kembar di pipi kiri kanannya, menambah indah pahatan yang maha kuasa.
"Terimakasih ya Allah, kau berikan aku suami setampan dan sesoleh dia. Jika boleh putus asa, aku tak pernah terpikir sedikitpun memiliki suami seganteng dia."
Memperbaiki keturunan buatku. Tapi memperburuk keturunan untuk dia.
Semua sudah diatur oleh Allah, bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang mau ku dustakan.
"Da'na nadzhabu ilal manzili" ucapnya mengulurkan tangan.
__ADS_1
Kusambut uluran tangannya. Sebenarnya aku tidak mengerti apa arti ucapannya. Sejak datang kemari aku semakin kagum pada suamiku. Bahasa Arabnya seperti air yang mengalir, bebas tanpa hambatan. Jelas saja, delapan tahun tinggal dimesir ditambah enam tahun dipesantren. Apalah aku yang hanya satu semester. Ini sebuah kesempatan untukku. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Kapan lagi aku bisa belajar Bahasa Arab gratis, sama dosen bahasa arab pula. Tapi, apa untung yang dia dapatkan dariku.
Kupalingkan wajahku menghadapa kiblat, terlihat bangunan berbaju hitam yang dibangun oleh nabi Ibrahim dan Ismail. Allahu Akbar, Allahu akbar... ijinkan aku kembali kesini walau untuk yang terakhir kali ya Allah. Dan segerakan beri kami kepercayaan menjadi orangtua. Aamiin
Bruukk
Aku menabraknya.
"Kenapa liat belakang terus?" tanya nya padaku
"Hm... rasa gak mau pulang,Mas!" jawabku
Semakin kuat dia menggenggam tanganku.
"Insya Allah, kita akan kembali kesini." ucapnya, seperti memberikan janji kepadaku.
Aku hanya bisa membalas senyumnya, dan mengucap aamiin. Kalau saja tempat ini dekat, bisa ditempuh dengan mobil dan sampai hanya dengan waktu satu hari satu malam. Aku akan memberikan jari kelingkingku padanya, agar dia mengingat janjinya untuk membawaku kesini. Tapi tidak dengan hal ini, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, bahkan bisa dibilang sangat menguras tabungan.
Tapi semuanya dengan izin Allah. Kalau Allah berkehendak, sesuatu yang tidak mungkin bisa jadi mungkin.
\=\=\=\=
Dzaki Pov
Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan temanku Amir. Kakak kelasku dulu sewaktu kuliah. Tapi kami satu asrama. Sekarang dia sudah menjadi cekgu besar di Malaysia, bukan merantau. Memang Amir warga negara Malaysia. Sehabis shalat subuh kami berbincang-bincang, melepas rindu, berbagi cerita.
Sampai-sampai aku hampir melupakan istriku. Kupandangi sekeliling, dan mataku berhenti disatu titik. Wajah manis itu selalu memberikan energi positif setiap pagi. Dengan setengah berlari aku menghampirinya, kalau didepannya aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Aku merasakan jalannya semakin lambat, kalau saja tangan kami tidak berpegangan mungkin dia sudah tertinggal jauh dibelakang. Kuhentikan langkahku dan memutar badan.
Bruuk
Dia menabrakku, dia seperti memikirkan sesuatu. Pasti dia merasa betah berlama-lama disini. Siapa yang tak betah shalat di tempat ini, pahalanya 100.000 kali lebih utama dari pada shalat di mesjid lain.
"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”
"Kenapa lihat belakang terus?" tanya ku
"Hm... rasa gak mau pulang,Mas!" jawabnya
Ku genggam erat tangannya, lebih erat dari biasanya.
"Insya Allah, kita akan kembali kesini." ucapku
Kata-kata itu seperti janji untukku, aku akan berusaha membawanya kembali bersujud di tempat ini.
Aku menunggu dia menunjukkan kelingkingnya seperti yang biasa dilakukannya. Aku hanya mendengar dia menjawab aamiin lirih.
"Panjangkan umur hamba Ya Allah, ijinkan hamba memberikan kebahagiaan pada istriku ini. Izinkan hamba membawanya kembali kesini." ucapku menarik tangannya, sebagai tanda melanjutkan perjalanan.
Hari ini aku akan membawanya ketempat kedua yang aku cita-citakan bersama istriku sejak dulu.
__ADS_1
\=\=\=\=
"Sepertinya kalian pengantin baru, ya?" tanya laki-laki paruh baya yang duduk persis disebelah Dzaki dan Mila yang sedang sarapan pagi.
"Alhamdulillah, pak. Sudah hampir 7 bulan. Masih bisa dibilang baru kan,pak." jawab Dzaki ramah.
"Masih lah, kalau seperti bapak ini, baru namanya pengantin lama. Sudah bosan." ucap bapak tadi sambil berbisik.
"Lihat, ibu yang berkerudung hitam disana!" bapak paruh baya itu menunjuk dengan telunjuknya tanpa terangkat dari meja, takut ketahuan istri mungkin, he.
"Iya, lihat. Istri bapak kah?" tanya Dzaki
"Ya, dia istri saya. Sudah hampir 55 tahun kami menikah. Sudah punya cucu, sebentar lagi cucu kami menikah."
"Oh, selamat kalau begitu. Kenapa tidak sarapan sama-sama disini, pak?"
" Itulah perbedaannya antara yang masih "baru" dan yang sudah "lama"." jawab laki-laki itu tertawa.
Mila hanya tersenyum, cuek. Menghabiskan makanannya dengan lahap. Mau ikutan cerita juga tidak mengerti. Entah apa yang diobrolkan Raja Arab itu dengan Raja Melayu. Mungkin mau barter Minyak sama tanah. ucap Mila dalam hati.
"Mas, ayo. Nanti kita ketinggalan pesawat, berarti nanti kita sampai rumahnya malam ya mas, huff... capeknya."
"Belum berangkat juga, udah bilang capek!, siapa yang mau pulang kerumah." jawab Dzaki
"Loh... terus? kita mau kemana?" tanya Mila.
"Kita ke Hurghada."
"Dimana pula itu!" biasa logat Medannya kambuh.
"Mesir".
Raja Arab tadi tersenyum mendengarnya.
"Hurghada, bulan madu selanjutnya, nak" masih dalam bahasa Arab.
"Semoga pulang dari sana nanti ada kabar gembira, ya!" lanjutnya lagi
"Aamiin" ucap Dzaki, berpamitan memeluk laki-laki paruh baya.
***
Tangan itu menggenggam kuat lengan laki-laki disebelahnya.
"Jangan cubit ya, dek! biru-birunya belum hilang." ucap Dzaki mengingatkan.
"Gak papa,mas. Tanda cinta itu." Mila memberikan senyuman termanis.
"Mau kasi tanda cinta,jangan disini dong. Ditempat lain kek."
Jawaban Dzaki membuat pipi istrinya memanas. Mila menyandarkan kepalanya dibahu kiri suaminya. Dzaki menyambutnya dengan ciuman di pucuk kepalanya.
__ADS_1
Burung besi pun mengudara, membawa penumpang dengan penuh cinta, menuju perjalanan berikutnya.