
Di ruangan panitia gadis bergamis ungu sedang mondar-mandir kesana kemari sambil menggulung ujung jilbabnya ke jari telunjuknya. Bagaimana ini... rasanya aku tidak mampu, ucapnya. Matanya berkaca-kaca, rasanya mau menangis, tapi malu.
"Bisa dek... kamu pasti bisa!" Ukhti Sarah mencoba menenangkan Mila.
"Kenapa harus ana, Ukhti... kan ada yang lain."
"Kami percaya kamu bisa, Mila " ucap Amira menambahi. Menepuk bahunya memberikan semangat kepada perempuan yang sudah dianggapnya sebagai adik itu.
Tadi pagi akhi Haikal ketua panitia pelaksanaan seminar yang di adakan Ldk kampus memberikan kabar bahwa satu pemateri tidak bisa hadir karena orang tuanya meninggal dunia. Rasanya tidak mungkin kita paksakan walaupun ustadzah Layla bersikap profesional, mengusahakan agar dia tetap hadir tapi kita harus mencari penggantinya. Ya Kita harus cari pengganti! ucap Haikal
Karena temanya tentang Hijrah mereka menemukan satu nama pengganti.
\=\=\=\=
Masing-masing anggota Panitia berada dipos-posnya, peserta seminar mulai berdatangan. Seminar ini bukan hanya untuk mahasiswa saja, tapi juga untuk anak-anak SMA.
Sebelum seminar dimulai peserta melaksanakan shalat Dhuha terlebih dahulu.
**
Hati-hati Dzaki, tidak perlu mengambil lajur kiri. Ucap Hasan.
Sebentar ana liat ada apa didepan! Dzaki keluar dari mobilnya dan berjalan melihat penyebab kemacetan.
"Halo... Assalamu'alaikum. Maaf Akhi, jam berapa ana mulai nya?"
"Habis Dzuhur, Ustadz! jam 10.00 sampai jam 11.30 ini di isi oleh Ustazah Mila dulu, setelah itu baru Ustadz."
"Oke... disini ada kecelakaan, mungkin ana sedikit terlambat."
Ustadzah Mila... apa itu Milatul ulya ucapnya dalam hati. Dzaki langsung teringat dengan nama itu.
\=\=\=\=
Mila duduk di temani moderator. Kadang ia terlihat menuliskan sesuatu di catatannya. Terkadang ia terlihat menghela nafas... matanya melihat kedepan, melihat peserta yang sudah duduk mempersiapkan diri mendengarkan materi hijrah yang akan ia sampaikan, bukan tausiah hanya berbagi pengalaman saja fikirnya.
__ADS_1
**
Moderator memulai acara.
Bismillah... ucap Mila
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Setelah mengucap syukur dan sholawat Mila pun mulai bicara masuk ke tema.
Kata Hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang artinya perpindahan. Dalam konteks sejarah hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah,dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.
Dalam konteks modern saat ini hijrah dipahami sebagai upaya untuk merubah perilaku dan mental dengan semangat yang baru.
Lebih mudahnya lagi Hijrah yang kita bahas kali ini adalah bagaimana kita mengubah diri kita saat ini menjadi kita yang lebih baik di masa depan.
Teman-teman sekalian, ada sebuah kisah. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah yang akan saya ceritakan.
Kisah ini dimulai dari seorang anak perempuan nakal yang berperilaku seperti anak laki-laki. Kenapa seperti laki-laki? mulai dari penampilannya yang tidak mau memakai rok kecuali pergi sekolah, dia juga suka bermain permainan laki-laki, memanjat pohon, main kelereng dia juga sangat suka main bola.
Kebetulan para anak tetangganya yang sebaya dengannya juga lagi-lagi kebetulan jadi teman sekelasnya itu laki-laki semua. Jadi tidak ada satupun temannya perempuan.
Kalau di rumah dia lebih suka bermain dengan abangnya dari pada dengan kakaknya. Lalu bagaimana dengan kewajiban terhadap agamanya? Shalat misalnya? ketika adzan berkumandang si anak tadi memilih masuk ke kamar mandi dan mengkuncinya rapat-rapat.
Orang tuanya tidak pernah putus asa. Mereka terus menerus mengingatkan, mengajari walau kadang tetap memberikan sanksi atas perbuatan nakal sianak tadi.
Pernah suatu ketika si anak tadi sedang bermain bola. Bola itu mengenai Jendela salah satu rumah disekitar lapangan tersebut. Dan pecah!
Si empunya rumah bukan main marahnya. Selanjutnya apa yang terjadi? Di panggilah orang tua anak yang nakal itu.
Orang tuanya bukan orang kaya, orang tuanya hanyalah seorang guru dan ibunya ibu rumah tangga.
"Bagaimana bapak bisa mendidik murid bapak, sedangkan anak bapak sendiri tidak bisa bapak didik!"
Anak itu mendengar dan melihat dengan jelas ayahnya di hardik, di permalukan oleh si empunya rumah di depan banyak orang
Kemudian anak tadi menangis teman-teman sekalian, dia menangis sejadi-jadinya menyesali perbuatannya. Dia tidak terima ayahnya diperlakukan seperti itu. Ini salahku bukan salah ayahku fikir anak tersebut.
__ADS_1
Apakah dia berobah setelah kejadian itu? jawabannya Iya, dia mulai sedikit berubah.
Pelan-pelan dia mulai mengurangi kebiasannya bermain-main dengan anak laki-laki, mulai membuka diri beteman dengan anak perempuan, mulai melaksanakan Shalat, membantu ibunya di dapur dan kebaikan-kebaikan yang lain.
Perubahan itu sangat disyukuri oleh kedua orang tuanya, Inilah buah dari do'a dan kesabaran kita begitu kata orang tuanya.
Pernah suatu ketika, ada kesempatan untuk si anak tadi berdua dengan ibunya. Ibunya bercerita,
"Ibu sangat ingin punya anak yang semuanya santri... ibu ingin nanti anak-anak ibu yang menshalatkan ibu dan ayah nanti setelah kami pergi." Ibu itu sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang soleh
Perkataan ibunya di resapinya. Timbul keinginan untuk membahagiakan ibunya.
Anak tersebut memutuskan untuk masuk ke Pesantren. Mewujudkan impian sang Ibu. Kalau ini bisa membahagiakan ayah dan ibunya kenapa tidak fikirnya. Mungkin ini satu satunya cara membuat mereka bahagia ucapnya dalam hati.
Kemudian masuklah anak tersebut ke pesantren, dia mulai serius belajar, memperdalam ilmu agamanya, menjaga sholatnya, dia juga aktif berorganisasi, Tapi ini lah hidup. Pasti ada ujian. Apa ujiannya?
Karsinoma Nasofaring
Mila menghentikan ceritanya, matanya menatap audiens yang sepertinya antusias mendengarkan ceritanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
mohon kritik dan sarannya ya guys... kalau suka juga boleh love, paforit dan rate juga boleh... bolehh bangeeet.
Terimakasih sudah baca