
Mendung.. gadis itu mempercepat langkahnya, meletakkan sapu ke sudut teras, ia baru saja selesai menyapu halaman rumahnya yang mungil.
" Tidak usah disiram lah, sebentar lagi mungkin akan hujan " ucap Mila melihat bunga-bunga mawar yang tampak layu
Mila menyingsingkan lengan bajunya sampai siku. Ruang tamu halaman sudah beres, sekarang tinggal dapur. Matanya fokus kepada piring dan gelas kotor yang menumpuk di wastafel.
Ramainya tamu yang silih berganti berdatangan ke rumah Mila tidak menyisakan piring atau gelas bersih satupun di rak piring.
Sambil bersholawat Mila mencuci piring, untung pakai ini, cuci cepat bilas cepat! ucap Mila sambil menuang cairan pencuci piring.
Tiga Puluh menit berselang semua sudah tersusun rapi di tempatnya. Semua sudah bersih sebersih meja makan didepan Mila. Tudung saji sudah tidak lagi dalam posisi biasa menyimpan makanan. Tudung saji itu mungkin lelah.. dengan posisi terlentang.
" Enaknya punya anak gadis! " ucap Mai menuju dapur
" Sebentar lagi anak gadis kita akan pergi.." ucap Arif sambil menarik kursi makan
" Mila... sini duduk dekat ayah! "
Mila menoleh, matanya berair.
" Kenapa kau, kok menangis? " tanya Mai
" Nahla... mamak aja yang masak, pedih kali mataku " Mila memberikan mangkok plastik berlobang-lobang kecil berisi beberapa buah bawang merah,putih, tomat dan cabai.
Mai mengambilnya, baru motong bawang udah nangis, cemana menghadapi pedasnya hidup berumah tangga nanti! ucap Mai
" Ah.. mamak ini, rupanya berumah tangga itu pedas?, bukannya manis? " jawab Mila bercanda
" Nanti kau rasakan lah sendiri..."
Mila menarik kursi makan tepat di samping ayahnya.
" Ada apa yah?"
" Mila sudah besar sekarang, sudah dewasa, ayah sudah percaya Mila sekarang sudah jadi anak ayah yang solehah. Minggu depan Aisyah menikah, diakan adikmu. Adikmu saja sudah punya pilihan, Mila sudah punya? sudah ada orang yang Mila taksir?" tanya Arpin panjang lebar
" Belum ada yah, gak berani, takut ayah marah. Mila kan masih kuliah.."
" Bagus kalau begitu, Dzaki mau melamar mu. Kalau Mila setuju Dzaki dan keluarganya akan datang melamar lebaran haji nanti. Apa Mila mau menerima Dzaki menjadi suamimu? "
Mila tertunduk, air matanya jatuh deras. Sederas hujan yang turun sore itu.
" Sebenarnya Mila sudah menyerahkan semua keputusan masalah ini ke ayah. Mencarikan suami yang baik untuk anak kan termasuk hak dari kedua orang tua. Mila yakin ayah pasti memikirkan kebahagiaan Mila, tapi yah Mila tidak mau menikah dengan suami orang" ucap Mila terisak
__ADS_1
Handphone Arpin berdering.
" Eh...kenapa pula menangis! Ambilkan dulu hape ayah itu! "
Mila berdiri dan mengambilkan handphone ayahnya yang terletak di atas meja ruang tamu.
Nomor tidak dikenal,
" Nomor baru yah, gak ada namanya! " jerit Mila
" Angkat saja dulu, sempat mati teleponnya nanti.." kata Arpin
" Biar saja, kalau penting nantikan nelpon lagi! " ucap Mila dalam hati
Mila memang tidak suka menjawab panggilan telepon kalau nomor tidak dikenalnya. Dengan malas dia mengangkatnya nyaris sebelum teleponnya mati
" Halo Assalamu'alaikum ayah.." ucap suara dari seberang sana
" Ayah.. halo..halo.." laki-laki itu terus bicara
" Wa'alaikum salam, tunggu sebentar ayah di dapur.." jawab Mila sambil berjalan menuju dapur.
Sepertinya Mila kenal dengan suara laki-laki yang menelepon itu. Mata Mila menyisir seluruh tempat di dapur, tapi Mila tidak mendapati ayahnya dimana-mana.
" Di kamar mandi! Siapa? " tanya Mai
" Gak tau mak, ya udah nih.. mamak aja yang becakap ( maksudnya ngomong )!"
Mila memberikan handphone yang masih tersambung itu kepada Mai. Mukanya merah membayangkan laki-laki yang menelepon itu, Mila pun masuk kedalam kamarnya
Direbahkan nya badannya di tempat tidur. Tangannya meraba-raba bawah bantal. Ini dia..ucapnya.
Banyak sekali angka merah di atas aplikasi berwarna hijau. Mila membukanya satu persatu, eh... matanya tertuju pada satu pesan bergambar
" Maaf lahir batin ya dek, selamat hari Raya Idul Fitri "
Di atas tulisan itu terdapat foto keluarga, tampak buya Latif, ummi Ana, Amira yang sedang memangku Zizi yang cantik menggunakan gamis dengan rambut yang di kuncir kuda dan beberapa orang yang tidak dikenalnya. Melihat Zizi yang tak menggunakan jilbab seperti biasanya, Mila spontan berkomentar " Eh..mana jilbabnya nak?" tulis Mila di kolom balasan.
Sebelum dikirim mata Mila melihat sosok laki-laki dalam foto itu. Mila mengurungkan niatnya.
" Astaghfirullah... apa mungkin ukhti Amira sudah tau kalau suaminya mau melamar ku!, kenapa sikapnya tetap seperti biasa kepadaku! "
Mila bangun kemudian menarik kursi belajarnya. Diambilnya buku yang berukuran kecil berwarna biru di dalam laci.
__ADS_1
Semua beban dihatinya ia tuliskan dalam buku itu. Air matanya mulai menetes. Sudah lama dia tidak menyenggol buku itu lagi. Kali ini bebannya sangat berat. Selain berdoa Mila merasa menuliskan uneg-unegnya dalam buku diary lebih baik dari pada bercerita kepada siapapun, walau kemarin sempat keceplosan ke Juna.
Hujan semakin deras, sederas tangisan Mila yang mengurung diri dalam kamarnya, matanya bengkak. Kepalanya terasa sangat berat, tangannya memijat pangkal hidungnya. Semakin lama kepalanya semakin sakit. Mila pun berdiri hendak mengambil obat sakit kepala dalam tasnya.
Mila meremas gamisnya Maak..panggilnya yang sudah merasa sangat sakit. Matanya berkunang-kunang dan semuanya pun gelap
\=\=\=\=
Tangan laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Otaknya tak berhenti memikirkan sesuatu yang dibahasnya barusan di telepon.
" Hah... apa dibatalkan saja " ucapnya pelan
" Kenapa bang? " tanya perempuan yang menyiapkan makan malam
" Tidak apa-apa, hanya ada sedikit masalah " jawab Laki-laki itu datar
Perempuan tadi melangkahkan kakinya berniat memanggil orang tuanya untuk makan malam bersama-sama.
" Ayam gorengnya mana?" tanya anak kecil yang menggemaskan itu
" Stok ayam goreng kita habis sayang, besok ummi baru belanja, hari ini Zi makan telur saja ya nak! " Amira menenangkan anaknya, disusul anggukan dari Zizi
" Cucu atok pintar! gak boleh pilih-pilih makanan ya nak, makan apa yang ada, ini rezeki dari Allah " ucap buya Latif memegang kepala cucu kesayangannya itu
Semua orang makan dengan lahapnya. Rumah itu menjadi lebih hidup sejak kedatangan buya Latif,istri dan anaknya, biasanya rumah yang lumayan besar itu tampak seperti rumah hantu seram, karna hanya Dzaki yang tinggal sendiri disitu.
\=\=\=
Layar ponsel menyala, sang pemilik menyentuh aplikasi percakapan berwarna hijau.
" Hanya di read, kenapa tidak dibalas!, sebanarnya ada apa dengan Mila. Kenapa dia seperti menghindari aku. Biasanya dia tidak seperti ini "
Amira membaca status, matanya membulat ketika membaca status dari perempuan yang sudah dianggapnya seperti adiknya itu.
" Ya Allah... kenapa seperti ini. Apa tidak ada yang lain..." isi tulisan itu
Amira sudah lama mengenal Mila, dia tau betul kalau Mila ada masalah dia pasti menuliskannya di dalam buku hariannya tidak pernah di status percakapan seperti ini, dia juga tau betul kalau Mila tidak akan mau cerita masalahnya kepada siapapun. " Pasti Mila sedang ada masalah besar " ucap perempuan itu menaruh Handphone nya.
.
.
.
__ADS_1
Hay pembaca setiaku, terimakasih sudah mau like, dan vote aku. Ikutin terus novel ini ya, dan jangan lupa kritik dan sarannya. Terimakasih 😍😍