Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Jangan membantah!


__ADS_3

Dari sakit yang menimpa kita, ada sesuatu yang akan mengingatkan kita tentang makna sehat, yang akan mencabut pohon kesombongan dalam diri kita, dan yang akan menurunkan tingkat ujub dalam diri kita agar hati terjaga dan tidak tidur seperti tidurnya orang-orang yang lalai. – Dr. Aidh al-Qarni


___________


Aktifitas kembali berlanjut, Malang masih menjadi tempat terbaik untuk menuntut ilmu. Ya, menuntut ilmu itu bukan hanya dibangku sekolah atau kuliah saja. Ilmu itu bisa didapatkan dimanapun, tergantung bagaimana kita melihatnya.


Ilmu sabar, bisa didapatkan ketika seorang ibu menghadapi kenakalan buah hatinya. Ilmu syukur, ketika hanya memiliki waktu sedikit yang bisa diberikan suami karena kesibukannya sendiri. Dan ilmu Ikhlas, ketika menerima segala cobaan yang dijalani. Seperti sakit ini.


Mila menghela nafas panjang, tangannya membelai lembut kepala laki-laki kecil kesayangannya. Tangannya menyibakkan rambut hitam nan lebat itu. Hafiz sudah tertidur lelap di atas kasur kecil miliknya. Usianya kini sudah tiga setengah tahun.


Perempuan berdaster itu beranjak meninggalkan anaknya. Perlahan membuka pintu, dan mematikan lampunya.


Kakinya berjalan menuruni tangga, mendapati suaminya yang masih duduk di depan televisi sedang melihat lakonan wayang, sesekali terdengar suaranya tertawa.


"Sudah tidur, yank!" panggilan itu kembali didengar, saat mereka berduaan.


"Sudah, Mas." Mila duduk disebelah Dzaki.


"Boleh pinjam bahunya gak, Mas?" ucap Mila pelan, rasa lelah seorang ibu rumah tangga,serasa hilang jika suami memberikan perhatian.


"Jangankan bahu, yang lain juga boleh!" Dzaki merentangkan tangannya, memeluk Mila dengan tingkat kegemasan yang masih sama seperti saat dulu mereka masih berdua. Dzaki menggendong tubuh yang terbilang langsing itu. Sedikit lebih berisi dari pada saat mudik beberapa tahun yang lalu.


Mila melingkarkan tangannya di leher suaminya. Rasanya sudah lama mereka tidak seperti ini. Bukan karena adanya sikecil membuat kemesraan mereka berkurang, hanya menjaga saja agar Hafiz tidak melihatnya.


"Mas, kita pulang gak lebaran tahun ini? kami ada reuni!" ucap Mila hati-hati.


"Jangan cerita yang lain kalau lagi berduaan!" ucap Dzaki. Wajahnya pura-pura cemberut. Seolah-olah tak terima istrinya menceritakan hal lain.


Terkadang suami istripun disaat sedang berdua bisa bertingkah layaknya remaja.


"Maaf!" ucap Mila menahan tawa. Kalau saja Hafiz melihat wajah Abinya seperti itu pasti dia sudah menarik hidung Abinya.


Hafiz dibesarkan dengan tingkat kedisiplinan tinggi. Latarbelakang Mila yang "BAR-BAR" tak mengizinkan anaknya menjadi sosok yang cengeng, dan Moody. Cemberut sedikit saja, Mila menarik hidungnya.


"Jangan cemberut gitu! Jelek!, anak laki-laki gak boleh gitu!" ucap Mila.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Dzaki terbangun disepertiga malam. Sebelum turun dari pembaringannya, dia memeluk istrinya yang masih terlelap disampingnya.


"Astaghfirullah!" Dzaki terkejut begitu badannya bersentuhan dengan tubuh istrinya.


"Panas sekali tubuhmu. Sayang bangun!" panggil Dzaki sedikit menggoncang tubuh itu.


"Iya, Mas!" Mila duduk, matanya masih terpejam.


"Mas mau tahajud, ya?" tanyanya melihat jam menunjukkan pukul setengah empat pagi.


"Adek, badanmu panas lagi! besok pagi kita kedokter!" Dzaki meletakkan punggung tangannya ke kening istrinya.


"Tapi...."


"Jangan membantah! ini perintah!" balas Dzaki berdiri, menatap istrinya iba. Meyambar handuk di towel stand, masuk kekamar mandi dengan membanting pintu.


Mila yang menyaksikan terkejut. Kenapa harus semarah itu! gumamnya dalam hati.


Air matanya jatuh dari sudut netranya, aku tidak mau kehilangan rambutku,Mas! ucapnya lirih. Membaringkan badannya dikasur, meringkuk dengan tangis yang tertahan.


Dibalik pintu kamar mandi, sosok laki-laki itu memandangi wajahnya di depan kaca westafel. Semoga semuanya belum terlambat, pokoknya besok harus periksa. ucapnya meyakinkan dirinya untuk tak lagi berkompromi dengan penyakit istrinya.


"Hafiz sudah tiga setengah tahun, sudah besar. Sudah bisa kalau ditinggal-tinggal. Lagipula dia juga nurut sama bi Lastri! Tidak ada alasan lagi, dek!" ucap Hafiz mendapati istrinya yang meringkuk diatas kasur.


"Mandilah, ayo kita tahajjud bersama. Jangan bersedih, Bila engkau bisa tersenyum di saat hatimu penuh dengan duka nestapa, maka sesungguhnya engkau sedang meringankan bebanmu sendiri dan membuka satu pintu untuk kebahagiaan!"


"Kata Dr. Aidh al-Qarni!" ketus Mila mendengar ucapan suaminya.


"Na'am" jawab Dzaki membenarkan.


"Gak kreatif!"


"Biarin, Lancar kaji karena diulang!" jawab Dzaki dengan mencantumkan pepatah melayu.


"Okelah!" Mila beranjak dari tidurnya, menuju kamar mandi.


\=\=\=\=

__ADS_1


"Ganglioglioma, tumor otak tingkat satu. Tergolong jinak karena tidak menembus jaringan otak disekitar tumor. Pertumbuhannya pun lambat. Ini bisa diatasi dengan tindakan radiasi. Saya sarankan secepatnya dilakukan, mengingat ibunya sudah sangat lama mengalami sakit kepala kan? Apalagi suhu badan yang bisa tiba-tiba panas tinggi!" ucap dokter spesialis syaraf, setelah melihat hasil CT scan dan selembar kertas dari laboratorium.


"Baik, Dok! Terimakasih, saya mau yang terbaik untuk istri saya!" ucap Dzaki mengulurkan tangannya. Kemudian keluar dari ruangan dokter menggandeng Mila yang sedari tadi sudah tertunduk lesu.


Tak ada percakapan sepanjang menyusuri koridor rumah sakit. Keduanya membisu, sampai kedalam parkiran mobil. Mereka masuk kedalam mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Mas, adek gak mau!" ucap Mila yang sudah menangis. Dzaki memperlambat laju mobilnya.


"Adek gak sayang sama, Mas?" Dzaki menatap sekilas wajah istri manisnya.


"Masih bisa disembuhkan, Sayang! masih stadium satu. Hanya radiasi, bukan kemo!"


"Hafiz gimana?" masih terisak.


Ciiiit!


Dzaki menghentikan mobilnya.


"Kita pulang! Hafiz biar sama neneknya. Adek tinggal pilih, mau sama ummi atau sama mamak!, kita berobat di Penang! Besok kita berangkat!" pikiran itu langsung saja ada dibenaknya, kalau meninggalkan Hafiz pada bi Lastri, pasti ada rasa cemas dalam hati mereka. Walaupun bi Lastri sudah seperti saudara.Tapi kalau Hafiz bersama neneknya, pasti mereka lebih tenang meninggalkannya.


"Apa mas bisa libur? Kan sebentar lagi ujian akhir, mahasiswa bimbingan Mas bagaimana?" Dzaki tampak berfikir mendengar ucapan istrinya.


"Mas! selesaikan dulu pekerjaanmu disini! Kita membutuhkan waktu yang lama untuk berobat, gak mungkin tindakan radiasi itu dilakukan hanya satu kali!" ucap Mila tak rela karenanya pekerjaan suaminya terbengkalai.


"Mas akan usahakan selesai secepatnya, kalau perlu,mas cari pengganti dulu untuk sementara waktu! Kesehatanmu lebih penting!" wajah serius Dzaki terlihat tak ingin dibantah lagi.


"Ya Allah... padahal bulan depan Anniversary kita, Mas! Tadinya aku mau minta sesuatu! Tapi Allah kasi seperti ini." Mila menyandarkan tubuhnya, jok mobil yang tadinya empuk menenangkan, sejenak berobah menjadi seperti batang kayu yang menyakitkan punggung saat bersandar disana.


"Memangnya mau minta apa?" tanya Dzaki mengerutkan kedua alisnya. Jarang sekali istrinya meminta sesuatu darinya.


"Tidak ada, lupakan saja!" ucap Mila, tak berselera melanjutkan percakapan.


Mobil kembali melaju, dua makhluk yang berada dalam mobil larut dengan pikirannya masing-masing.


"Apa yang diinginkannya?" gumam salah satunya.


"Bagaimana kalau aku tak bisa bertahan?" gumam satunya lagi.

__ADS_1


Sementara laki-laki kecil sedang berada dalam kamarnya mendengarkan murottal Al-Qur'an dengan mobil-mobilan ditangannya. Matanya menatap langit-langit kamar. Bertanya dalam hati, kenapa Ummanya belum juga pulang. Bi Lastri masih saja membelai pucuk kepala laki-laki kecil itu, perlahan mata itu tertutup meski mobil-mobilan tetap erat dalam genggaman.


__ADS_2