
Senja menjelma, awan jingga pertanda waktu maghrib tiba. Suasana kediaman Arpin tampak ramai, semua laki-laki sudah meninggalkan rumah itu untuk shalat berjama'ah di Mesjid. Sedangkan yang perempuan masih sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang masih membereskan pakaian-pakaian yang disusun kedalam koper, ada yang menyiapkan makanan, ada yang sedang shalat, dan ada juga yang di dalam kamar mandi.
Siapa lagi kalau bukan Mila. Tapi tenaang! Mila gak balik ke kebiasaannya dulu kok! Mila udah tobat.
Mila masih betah dikamar mandi. Hari ini kegiatannya sangat padat, selain kuliah yang sudah aktif kembali setelah libur lebaran, Mila juga harus mengunjungi sekolah yang akan menjadi tempat KKN nya.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) baik prodi pendidikan matematika maupun pendidikan bahasa inggris dimana tujuan dari KKN ini adalah pengabdian masyarakat di bidang pendidikan dan kebersihan lingkungan desa.
Mila beserta beberapa temannya yang lain akan mengunjungi desa diujung kota kecilnya.
" Deeek... cepat, gantian. Kakak mau ambil wudhu! " ucap Maya mengetuk pintu kamar mandi
Tak berapa lama Mila keluar dengan handuk dikepalanya.
" Mandi apa nguras bak sih dek! " tanya Maya mengejek
" Sekalian kak, biar habis airnya haha."
\=\=\=\=
Kedua perempuan itu saling peluk, seolah-olah tidak ingin melepas satu sama lain. Laki-laki yang membawa koper di tangan kanan dan kirinya mematung, bosan, capek!.
" Udah dong pelukannya, gantian!" ucap Erwin
" Maksudnya? mas mau peluk mba Mila juga gitu!" Aisyah memajukan bibirnya beberapa senti.
" Becanda!, gitu aja ngambek." Erwin menarik hidung istrinya.
" Kenapa semuanya pergi sih!" ucap Mila sedih.
__ADS_1
" Kakak yang sabar ya, yang kuat, ikhlasin aku ya kak! " jawab Aisyah mengejek
Kebersamaan mereka berakhir saat nama Aisyah dan Erwin di panggil melalui pengeras suara.
Pagi itu Mila mengantar ayah,mamak dan abangnya ke bandara pergi umroh, bersamaan dengan keberangkatan Aisyah dan juga Erwin ke Jakarta.
Mila melangkahkan kakinya menuju tempat parkir, di dalam mobil Nando dan laki-laki paruh baya pak Zamal namanya, supir Zain sudah menunggunya.
" Ayo kak, antarkan aku beli makanan dulu ya! " ucap Nando tak sabar
Nando sekarang sekolah di Pesantren. Kebiasaannya kalau ada kunjungan keluarga dia akan meminta banyak-banyak stok makanan. Alhamdulillah Nando sekarang sudah banyak perobahan.
Mata perempuan itu menyisiri setiap sudut pesantren, ada kerinduan disana. Dia teringat kebersamaannya dengan teman-temannya dulu. Walau sebentar aku mengenyam pendidikan disini tapi sudah sangat berkesan sekali dihati ini. Disini tempatku memulai kemandirian, merobah diriku menjadi lebih baik.
Mata itu berhenti memandang sebuah kursi panjang dibawah pohon, disitu tempat ku duduk bercerita dan menangis merengek kepada bang Zain menumpahkan segala keluh kesahku, dan disitu pertama kali aku merasa malu dengan tingkahku sendiri, karena bang Zain tidak datang sendiri melainkan dengan sahabatnya.
Mustahil memang ada anak yang baru pertama kali sekolah di Pesantren tidak menangis, jadi pemandangan santri yang merengek-rengek bahkan menangis minta pulang bukan hal yang aneh.
\=\=\=\=
Jauh di pulau Jawa, laki-laki dengan kemeja biru muda dengan celana hitam dan sepatu yang senada berjalan menyusuri koridor kampus menuju ruangannya. Alisnya berkerut melihat satu set rantang berwarna warni di meja kerjanya dengan secarik kertas diatasnya.
Selamat makan pak, semoga suka dengan masakannya. Winda
Dzaki melempar kertas itu kesembarang arah. Lalu mengambil ponselnya.
" Assalamu'alaikum pak..." suara lembut dari balik pintu
Dzaki membuka pintu dan melempar senyum kepada wanita tua di depannya. Wanita itu yang barusan di teleponnya.
__ADS_1
" Bibi belum sarapan kan? ini Dzaki ada makanan!" Dzaki menyerahkan kotak makanan bertingkat empat kepada bi Lastri
Bi Lastri, umurnya sekitar 60 tahun, perawakannya kurus, tidak tinggi, bisa dibilang mungil. Bekerja sebagai OB di kampus. Dzaki sangat mengenalnya karena suami bi Lastri juga bekerja dirumahnya.
" Terimakasih pak, alhamdulillah.. bisa untuk lauk buka puasa nanti ini pak." ucap Lastri yang melihat isi makanan yang dipegangnya.
" Bibi puasa?"
" Iya pak, bibi puasa enam ( puasa sunnah syawal )! haha...puasanya sudah di akhir-akhir pak!" jawab Lastri malu-malu
Dzaki hanya tersenyum, dan melihat jam dipergelangan tangannya. Lastri yang melihatnya mengerti.
" Sekali lagi terimakasih pak, besok tempatnya saya kembalikan! "
" Tidak usah bi, buat bibi saja, bonus! " ucap Dzaki melewati Lastri yang masih memandangi kotak makan warna warni.
Sambil melanjutkan pekerjaannya Lastri teringat sesuatu.
" Ini kan rantang yang dibawa anaknya pak Yahya tadi, berarti makanan ini dari non Winda.." ucap Lastri pada dirinya sendiri
\=\=\=\=
Dzaki merasa semakin tidak nyaman dengan perlakuan Winda yang rasanya semakin berani. Sepertinya ini harus segera di selesaikan fikirnya. Tapi bagaimana caranya, mau bilang langsung takut nanti malah jadi Fitnah karena berbicara dengannya berdua. Kalau bilang ke pak Yahya gak enak. Ah...sudah lah! Dua bulan lagi insya Allah masalah ini akan selesai. Setelah aku membawa Mila kesini, semuanya akan beres. Winda tidak akan mengganggu ku lagi.
"Oh..ya, hari ini jadwal keberangkatan ayah ke mekkah kan, kalau ayah,mamak pergi Mila pasti sendirian dirumah. Nando kan mondok. Apa dia berani? Ah... jaga calon istriku ya Allah."
\=\=\=\=\=
Perempuan bergamis biru duduk di depan cermin, memandangi wajahnya yang cantik dengan riasan make up tipis. Menyunggingkan senyum manis
__ADS_1
" Apa dia sudah memakannya, apa dia menyukainya? hah.. semoga saja. " ucap Winda yang merasa penuh perjuangan. Mulai dari bangun pagi terus belanja kepasar, memotong bumbu sampai tangannya tersayat,sampai berlagak gak butuh dibantuin bi Ijah.
" Sudah cukup lama aku menunggumu bang Dzaki, aku berusaha untuk tetap berpakaian seperti ini, semua lamaran yang datang ku tolak hanya untukmu. Tapi kenapa kau malah memilih dia menjadi istrimu, bahkan kau tidak memberitahuku kalau kau sudah menikah! Tak apalah bang... aku bersedia menjadi yang kedua. Tidak ada salahnya kan, asal kau bisa berlaku adil " Winda berbicara kepada bingkai foto yang dipegangnya. Foto Dzaki bersama pak Yahya ayahnya.