Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Pernikahan


__ADS_3

Pagi yang cerah ceria,gedung di hadapan perempuan bergaun hijau toska itu sudah terlihat rapi kursi-kursinya dibalut kain berwarna putih bersih dengan pita berwarna merah ditengahnya. Pelaminan dengan hiasan bunga-bunga juga berwarna putih terlihat begitu cantik, namun tetap terkesan mewah.


Dreeet..dreet...


" Halo dek..."


" Mba dimana? cepat kesini gak ada kawanku! "


" Mba di Ball room, iya tunggu sebentar, ini mba kesitu! "


Perempuan itu mengangkat sedikit gaunnya, berjalan meninggalkan tempat yang membuatnya ingin berlama-lama disana, ditekannya angka di dalam lif, tak berapa lama pintu pun terbuka.


Masih tetap mengangkat sedikit gaun yang dipakainya perempuan itu berjalan mencari kamar 203,


" Haduh... capeknya, Apa sih dek? " Mila mengusap keringat di keningnya dengan tissu


Mila ngos-ngosan, bukan karena jauhnya dia berjalan melainkan karena gaun yang dipakainya, entah kenapa rasanya memakai pakaian yang sangat feminim begini membuat susah berjalan.


" Kawani sini, Aisyah deg-degan! " Aisyah memeluk tangan Mila


Mereka berdua melihat Hape Aisyah, streaming Video, Erwin tampak gagah memakai pakaian Khas Melayu. Wajahnya terlihat santai, seperti tidak ada kecemasan dihatinya.


" Tengok kak, gantengnya la suamiku..." ucap Aisyah yang tidak bisa pecicilan


" Iya, kok ganteng ya Ewin. Macam Hang tuah dia pake baju itu..kalok kau macam Hang kwei ( nama tepung untuk membuat kue dan nama kuehnya juga itu ) "


" Embak!!" Aisyah cemberut


" Eh... jangan lasak-lasak pikirkan sunting kau itu, nanti lepas tak bisa aku memasangkannya! " ucap Mila


Sunting melayu, dengan keseluruhan warna emas, tinggi menjulang dan beratnya lebih lima kilogram. Membayangkan memakainya saja kepalaku sudah pusing! ucap Mila dalam hati.


Aisyah terus mengoceh sambil membetulkan suntingnya yang sedikit miring.


" Udah mulai ni.. jangan ribut dengarkan, ntah salah sebutnya dia.." ucap Mila lagi


" Maksudnya mba? "


" Iya dengarkan betul-betul ntah namaku yang disebutnya " jawab Mila menahan senyum


" Kalok bang Erwin nyebut nama kakak yang jadi biniknya kakak gitu gak jadi aku " tanya Aisyah polos


" Ya,iya lah.. "


" Jangan lah ya Allah... abang ingat nama adek bang! " ucap Aisyah sedih

__ADS_1


" Dasar kau ini, mana lah mungkin, maunya kau ditokohi ( maksudnya ditipu ).


Acara berlangsung lancar, saat saksi mengatakan SAH, kedua adik beradik itu berpelukan.


" Selamat ya dek, sekarang kau sudah jadi istri, dikurangi menggeknya ( maksudnya manja ), sudah punya tanggung jawab sekarang!"


" Iya mba.." Aisyah menyeka air matanya


" Baarakallahulaka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir " Mila berdoa disusul Aisyah mengaminkannya.


\=\=\=\=


Satu jam kemudian Mila sudah duduk di meja dengan satu piring penuh nasi dan lauknya. Gara-gara menemani pengantin dia melewatkan sarapannya. Pengantin juga sudah bertukar pakaian, Aisyah dan Erwin sekarang memakai pakaian adat Jawa.


Paes yang terukir di wajah Aisyah menambah kecantikannya. Kali ini Mila sangat menyukainya, entah kenapa..padahal Mila bukan suku Jawa, tapi memang dari dulu dia sangat suka melihat pengantin memakai pakaian adat Jawa.


Oh..iya, kalau kalian dengar kata Medan, pasti slalu ingat dengan kata Horas kan?, Medan memang terkenal dengan Horasnya sapaan khas Batak, tapi sekedar informasi di Medan bermacam suku yang berbeda hidup berdampingan dengan damai. Ada Melayu suku asli Medan Deli, ada Batak, ada juga Jawa, Banjar dan ada juga India loh.


****


" Ini sih bukan sarapan namanya, tapi makan siang " ucap Mila menyandarkan tubuhnya di kursi


Pernikahan Aisyah di selenggarakan di hotel, biar adil kata Abinya Erwin, karena resepsi pernikahan Aisyah dan Erwin hanya dilakukan satu kali, hari ini saja. Tidak ada acara ngunduh mantu karena lusa Erwin harus berangkat ke Jakarta untuk bekerja.


\=\=\=\=


Ummi Ana dan Amira juga berbicara dengan perempuan bergamis hitam dengan jilbab merah maroon di dapur.


" Sudah menikah nak Winda? " tanya ummi Ana


" Belum ummi, masih kuliah.."


" Kuliah S2? " tanya Amira


" Iya kak.. alhamdulillah, baru akan mulai S2. Kakak kok tau? " tanyanya seperti tidak senang


" Sepertinya kita seumuran... " Jawab Amira ramah


Amira melihat gerak-gerik Winda seperti mencari perhatian Dzaki. Amira sengaja berlagak istri Dzaki supaya perempuan dihadapannya itu berhenti berharap.


" Zizi... sama bapak ya mi " ucap Zizi ke Amira, disusul anggukan Amira meng-iyakan.


" Anaknya kak? " tanya Winda


" Iya, cucu saya " jawab ummi Ana

__ADS_1


Deg..Winda terkejut, setau Winda, Dzaki adalah anak satu-satunya. Berarti perempuan yang di panggilnya kakak ini adalah istri Dzaki, Winda merasa kakinya tidak lagi berpijak di bumi.


Penantiannya selama ini sia-sia. Semua lamaran yang di tolaknya juga sia-sia. Hampir jatuh air matanya, tapi Winda masih bisa menahannya.


Perempuan itu melihat jam di tangannya, sudah mau Ashar,


" Kalau begitu Winda permisi dulu ummi, kakak.." pamit Winda mencium tangan ummi dan Amira


" Ayo bi, sudah mau Ashar kita kan masih akan ketempat lain juga ". Ucap Winda kepada ayahnya pak Yahya


Mereka pun masuk kedalam mobil merah dan berlalu meninggalkan buya Latif yang masih berdiri di luar.


" Cantik, sopan, tapi kenapa ummi gak srek ya ki! " tanya Ana


" Ummi aja gak srek apalagi Dzaki " jawab Dzaki sekenanya


" Mencintai seseorang itu boleh, tidak bisa kita salahkan. Karena cinta itu fitrah... memang kita akan merasakan jatuh cinta. Tapi harus pandai mengelolanya. Paling tak suka aku kalok ada perempuan yang mengejar-ngejar laki-laki, kalau suka ya disimpan saja dalam hati berdo'a sama Allah untuk didekatkan dengan cara yang ma'ruf, bolehnya perempuan meminta dinikahi laki-laki soleh, tapi ah... entah lah!" ucap buya Latif


" Udah la buya tak perlu di fikirkan, Dzaki sudah punya pilihan sendiri! " jawab Amira


" Oiya, lupa buya tanya kemaren, siapa yang mau kau khitbah ki? " tanya buya Latif penasaran


" Adiknya Zain buya.. Mila " jawab Dzaki mantap


" Mila? adeknya Zain? Ya Allah..." Ana tampak sangat bahagia


" Do'amu dikabulkan Allah ummi " ucap buya Latif


Kening Dzaki berkerut menatap buya, buya Latif yang melihatnya tau anaknya tidak mengerti maksud dari perkataannya barusan.


" Kau ingat dulu pertama kali kita ke sana, waktu acara mengayunkan keponakan Zain, dari saat itu ummi kau ni ceritanya tentang adeknya si Zain ituu saja, Yang katanya pintar memasaklah, rajinlah, sopan lah. Rupanya tanda-tanda mau jadi menantunya rupanya " ucap buya Latif tersenyum


" Kapan melamarnya ki? besok aja ya ki, kita beli tiket sekarang, Mira telepon Hasan cepat, suruh dia beli tiket kita berangkat ke Medan " ucap Ana


" Ummi... sabar! Dzaki sudah bilang ke ayah, nanti mi Idul Adha. Pekerjaan Dzaki disini masih banyak mi, baru saja akan mulai mengajar lagi sudah harus pulang ke Medan lagi. Kasian mahasiswa Dzaki mi, Ummi sabar ya mi, Insya Allah Mila akan jadi anak ummi " ucap Dzaki menenangkan ibunya.


" Baiklah.. terserah kau saja!" ucap Ana


" Kau ingat janji mu dulu pada ummi ki? "


" Ingat mi, kenapa? "


" Saat itu yang ada di ingatan ummi hanya Mila, jika Dzaki tidak mempunyai kandidat calon untuk di peristri, ummi akan melamarkan Mila untuk mu! Subhaanallah...indahnya cara Allah menjawab do'a hambanya" ucap Ana berkaca-kaca


Fabii ayyi alaa irobbikuma tukadzibaan

__ADS_1


maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.


__ADS_2