
Flashback 2 tahun lalu
Di dalam kamar yang cukup luas, lantunan murottal Alqur'an Suara Abdurrahman As-Sudais terdengar merdu menenangkan setiap yang mendengarnya.
Laki-laki dikamar itu terlihat membongkar seluruh buku-buku, file, dan apapun yang ada diatas mejanya.
"Kenapa ceroboh sekali, seingat ku, ku masukkan di tas yang ini." Dzaki memegang tas yang berisi ijazah, piagam, rapornya semasa sekolah dulu.
Semuanya ia kumpulkan didalam tas itu. Tapi yang ia cari tidak ditemukannya didalam tas itu bahkan tak ditemukan dimanapun.
ckleeek! Handle pintu terbuka.
"Cari apa, Ki?"
Perempuan paruh baya masuk ke kamar Dzaki. Dari tadi dia mendengar suara benda-benda terjatuh dari kamar ini.
"Ummi lihat Syahadah Milad Dzaki, Mi?seingat Dzaki, di dalam sini tapi kok gak ada. Terakhir Dzaki pakai sewaktu melengkapi berkas lamaran di UIN, dan Dzaki letakkan kembali disini." Jawab Dzaki memerlihatkan tasnya.
__ADS_1
"Syahadah Milad? Akta kelahiran, maksudnya, Ki? "
"Iya... Ummi melihatnya?"
Ummi berdiri dan berjalan keluar kamar. Tak berapa lama ummi Ana datang membawa selembar kertas ditangannya. Kertas itu yang dari tadi dicari-cari oleh Dzaki.
"Kenapa bisa ada sama, Ummi?"
"Kemaren sewaktu Ummi ke Travel, Ummi melihat ini di meja kerja Buya, mungkin kau lupa menyimpannya kembali kedalam tas mu itu" Jawab Ummi memberikan kertas yang dibawanya
"Ummi tidak tau dimana kau menyimpan Ijazah dan file-file pentingmu, jadi Ummi simpan saja dilemari Ummi." ucap Ummi Ana
Arif Mudzaki, lahir di Medan 29 tahun yang lalu. Melalui penantian yang sangat panjang. Dzaki lahir dalam pernikahan Buya Latif dan Ana yang sudah memasuki tahun ke Tujuh. Dzaki anak satu-satunya. Karena itu Ummi Ana sangat tidak menginginkan Dzaki kuliah lagi keluar negri.
"Kenapa tidak lanjutkan S2 mu disini saja, Ki?"
"Tidak lama kok Ummi, Ummi doakan saja supaya Dzaki cepat menyelesaikannya."
__ADS_1
"Nanti kalau Dzaki pulang Ummi temani Dzaki melamar calon menantu Ummi ya"
Jawaban Dzaki seketika membuat wajah Ana yang tadi sedih menjadi begitu bahagia.
"Benarkah itu, nak? Ummi sangat senang mendengarnya. Siapa dia, Ki? kenapa tidak pernah cerita ke Ummi?"
"Ya belum tau siapa, Mi. Ummi saja lah yang carikan. Pilihan ummi pilihan Dzaki juga." Dzaki menjawab sambil memasukkan beberapa bajunya kedalam koper.
"Ummi fikir kau sudah punya calon!" tutur Ana sedikit kecewa.
Dzaki mengangkat kedua bahunya. Sebenarnya belum terfikir olehnya untuk berumah tangga. Tapi kalau naksir sepertinya ada sih ucapnya dalam hati.
Kata-kata tadi spontan diucapkannya untuk membahagiakan Umminya saja. Tapi kalau memang Ummi mencarikan calon istri setelah dia pulang nanti, dia juga tidak akan keberatan.
Umurnya sudah cukup, dia juga sudah mempunyai pekerjaan, dan Dzaki juga sudah memiliki rumah sederhana di kota Malang tempat dia bekerja.
Beberapa waktu yang lalu ada Dosen teman kerja Dzaki yang menawarkan rumahnya, karena Dosen itu hendak pindah ke luar kota. Dzaki pun membelinya, setelah dihitung ternyata tabungannya cukup untuk membeli rumah temannya itu.
__ADS_1
Dzaki merasa lebih baik tinggal dirumah sendiri, dari pada harus kost. Privasinya lebih terjaga menurutnya. Selama bekerja menjadi dosen di Uin Maliki Malang Dzaki Kost dirumah pak Yahya. Kebetulan pak Yahya itu juga dosen senior disana. Dzaki sedikit terganggu karena pak Yahya mempunyai anak gadis yang sepertinya menyukainya.
Namanya Winda, Mahasiswi semester akhir di kampus tempat Dzaki mengajar. Cantik, pakaiannya juga seperti akhwat-akhwat lain. Pak Yahya juga sepertinya ingin menjodohkan Winda dengan Dzaki. Tapi entah kenapa Dzaki tidak tertarik sedikitpun dengan Winda.