Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Berangkat


__ADS_3

Embun masih membasahi daun-daun, matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya. Dua perempuan paruh baya sudah berada di Boarding Lounge.


"Iya, Ummi sama Mamak sudah mau berangkat. Tak apa-apa, biar Ummi yang cari. Tadi Ummi sudah telepon teman Ummi yang disana!" Ana menutup teleponnya. Sambungan telepon dari anaknya yang juga sedang mempersiapkan keberangkatannya.


"Ayo, Mak Zain kita masuk!" ajak Ana. Mereka berdua melangkah pasti. Tanpa ragu meninggalkan suami masing-masing yang berjuang merawat diri mereka sendiri.


"Biarlah dulu mereka tinggal beberapa hari! Biar tau dulu orang itu, cemana kalau tak diurusin bini!" ucap Mai, saat melihat keraguan dimata besannya.


Empat puluh lima menit, pesawat mengudara. Menembus langit, mengantarkan dua wanita hebat itu menuju satu tempat dinegara bagian Malaysia yang berlambangkan pohon pinang, dengan slogan "Bersatu dan Setia".


Bandara Internasional Penang. PIA tulisan itu megah berdiri. Pia? tanya Mai mengerutkan alisnya.


"Iya, Mak Zain. Penang International Airport!" jelas Ana, memaklumi. Ini kali kedua Mai naik pesawat setelah umroh beberapa tahun yang lalu. Dan baru kali ini juga dia pergi tanpa didampingi suami tercinta. Tak ada tempat bertanya di saat-saat seperti ini. Maklumlah Mai menghabiskan hidupnya didepan mesin jahit, jiwa dan raganya hanya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para konsumen Mai taylor. Berbeda dengan Ana yang sudah terbiasa bepergian sendiri tanpa dampingan suami, ke Malaysia serasa pulang ke kampung keduanya setelah Malang.


Deerttt... derrtttt, gawai ditangan Ana bergetar, setelah beberapa menit yang lalu ia baru saja mengaktifkannya.


"Assalamu'alaikum...." ucapnya, suara lembut dari seberang sana membuatnya merasa rindu.


"Saya sudah tunggu di depan, Kak!" suara dari seberang sana.


"Oke, sebentar ya!" Ana menutup teleponnya, berjalan sedikit cepat. Mai yang melihatnya pun mengimbanginya.


Saat mereka sudah berada diluar bandara, mobil hitam jenis sedan berhenti didekat mereka. Wanita berbaju kurung keluar dengan menebar senyum.


"Akak!" peluknya erat. Ana membalasnya.


"Ini Mai, besan aku!" Mai menjabat tangan perempuan itu. Umurnya tak terlalu jauh dengan mereka berdua. Wajahnya masih tampak cantik, terawat. Sepertinya bukan orang susah seperti aku, gumam Mai.


"Jom lah, kita pegi!" ajak perempuan itu, membantu menarik koper Ana, yang ukurannya lebih kecil dari kepunyaan Mai.


Setelah 25 menit mereka mulai menghentikan mobil.


"Ini Rumah sakitnya, Zalina?" tanya Ana, menolehkan wajahnya kesamping kirinya. Zalina yang menyetirpun mengiyakan. Mereka hanya memandang rumah sakit itu dari seberang jalan.


"Saya mau cari penginapan disekitar sini saja. Supaya tak jauh, kalau ada kesempatan menjenguk!" ucap Ana lagi.


"Okey, kite cari!" ucap Zalina kembali melajukan mobilnya.


Noraz Homestay, menjadi pilihan Ana, tempatnya yang rapi dan bersih. Dua kamar tidur, dengan empat tempat tidur membuatnya merasa ini sudah cukup. Setelah membayar semuanya, Ana membaringkan tubuhnya di kursi ruang tamu, memijat kakinya yang sedikit terasa pegal karena berjalan di bandara tadi, maklunlah faktor "U". Sedangkan Mai memilih masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Zalina mengambil alih, ia memijat kaki Ana dengan hati-hati.


"Terimakasih!" ucap Ana, merasa sangat terbantu.


"Iya, Kak!" jawab Zalina tersenyum.

__ADS_1


"Lepas ni, bawalah mandi Kak! biar fresh kembali." ucapnya.


"Iya, sebentar lagi. Udah lama kaki ku tak kau kusuk macam ni!" ungkap Ana.


"Ini sodara-nya?" tanya Mai setelah selesai mandi.


"Ini adik kost ku dulu waktu kuliah disini!" ucap Ana menjelaskan.


"Bah... yang kuliahnya Ummi dulu?" tanya Mai polos seolah berfikir Ana sepertinya.


"Ia, Mak Zain! saya kuliah S1nya di Madinah, S2nya saya ambil di Malaysia." jawab Ana malu-malu.


"Iyah... S2 rupanya besanku ini!" gumam Mai dalam hati, sedikit minder menerima kenyataan.


\=\=\=\=


Laki-laki berkemeja biru itu sedang menyiapkan segala berkas-berkas penting, pasport dan lainnya dia masukkan kedalam sling bag nya. Sementara tiga koper sudah masuk kedalam bagasi mobilnya.


Perempuan bergamis sedang merapikan pakaian anaknya.


"Al-Qur'an Hafiz udah, Umma?" tanya anak kecil itu.


"Sudah, Sayang!" jawabnya lembut.


"Semoga lekas sembuh ya, Neng!" ucapnya parau.


"Terimakasih do'anya, Bi!" Mila memeluk bi Lastri. Menangkupkan kedua tangannya dihadapan mang Asep yang juga berdiri di dekat mobil.


Hafiz dan Mila pun masuk kedalam mobil. Mila duduk disamping Dzaki, sedangkan Hafiz sendirian dibelakang.


"Umma, lagu-lagu Hafiz udah?" tanya Hafiz berdiri memegang jok ummanya.


"Sudah, Nak!" jawab Mila setelah memeriksa tas yang ada di pangkuannya.


"Lagu-lagu?" tanya Dzaki.


"Ia, maksudnya ini!" Mila mengangkat speaker Qur'an berwarna biru.


"Kan isinya bukan cuman murottal saja, ada lagu anak-anak juga, Kisah Nabi juga ada." ucap Mila menjelaskan panjang lebar kepada Dzaki, yang masih mengerutkan dahi.


Mila menurunkan kaca mobilnya, Hafiz juga.


"Dada nek Tri! Do'akan Umma, ya!" ucap Hafiz pada bi Lastri yang melambaikan tangan.

__ADS_1


"Kami pergi dulu, Mang!" kata Dzaki sembaru mengucap salam.


Mobil itu berjalan menyusuri kota Malang menuju bandara. Bismillah ucap Dzaki memegang tangan istrinya yang dingin.


"Belum nyampe rumah sakit, kok tangannya sudah dingin aja!" ucap Dzaki. Tangan istrinya memang dingin kalau sedang ketakutan.


"Adek, takut!" ucapnya hampir berbisik.


"La takhof wa la tahzan!" ucapnya.


"Innallaha ma'ana!" ucapnya lagi, memegang tangan dingin itu.


"Jangan takut Umma, Hafiz disini jagain Umma!" Hafiz ikut memegang tangan Ummanya.


"Ikut aja, Hafiz!" ucap Dzaki tersenyum kecut.


"Ini Umma Hafiz, bukan Ummanya Abi!" ucap Hafiz ketus.


"Kongsi ya, Nak!" ucap Mila menengahi. Tersenyum melihat dua jagoannya. Dia merasa jadi perempuan yang paling cantik di dunia. Eh, paling cantik diantara mereka.


Pesawat akan take off, beberapa camilan sudah ada dihadapan Hafiz. Agar saat pesawat lepas landas tak ada gangguan di pendengaran anaknya itu. Gerakan mengunyah membantu menjaga saluran eustachius bebas.


Saluran Eustachius adalah salah satu bagian dari telinga tengah yang menghubungkan rongga mulut dengan telinga dalam dan mengatur keseimbangan tekanan udara.


Burung Besipun terbang menembus awan, Hafiz sama sekali tak terlihat ketakutan, tak seperti ibunya. Mila yang duduk di sebelah Hafiz tampak sangat tegang. Walau sudah sering bepergian naik pesawat, tapi rasa takut itu masih tetap ada walau sedikit. Kalau daja Hafiz tidak ada diantara mereka pasti Mila akan memberikan beberapa tanda cinta ditangan suaminya. Tapi karena malu kepada Hafiz, Mila mencoba menunjukkan wajah beraninya.


"Alhamdulillah, tak ada yang mencubitku." gumam Dzaki.


"Tapi rindu juga, dengan tanda-tanda cinta ditangan itu!" ucapnya lagi.


"Abi, neneknya mana? kok gak ada?" Hafiz celingukan mencari keberadaan neneknya. Karena tadi Dzaki mengatakan neneknya akan ikut pergi bersama mereka.


"Nenek sudah sampai disana duluan, Sayang!" Dzaki menjelaskan.


Hafiz menjawab dengan membulatkan mulutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Halo readers, Happy reading ya, Terimakasih sudah selalu like, komen dan vote karya perdana ku ini, Maaf tak bisa membalasnya dengan apa-apa! Semoga ada manfaat dari setiap cerita. 🙏🙏


Silahkan vote dan rate juga ya manteman.


Terimakasih 💞😊💞**

__ADS_1


__ADS_2