Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Negosiasi


__ADS_3

Matahari seperti malu memancarkan sinarnya, tetes embun membasahi sendal hitam dibawah tangga, Laki-laki itu masih duduk didalam masjid sambil membaca alqur'an kecil yang slalu ada di saku bajunya.


Matanya menatap sekeliling, setelah menyimpan alqur'an dalam sakunya.


"Sudah sangat lama aku tidak kesini." ucap laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam.Dia merebahkan tubuhnya diatas sajadah.


Rasanya ingin sekali ia berlama-lama disana, masjid pesantren yang tak pernah sepi, masjid yang slalu dipenuhi oleh santri-santri sama seperti hari ini.


Sambil menuruni anak tangga, mata laki-laki itu terfokus pada kursi dibawah pohon yang ada disamping masjid.


Bibirnya membentuk lengkungan seperti bulan sabit, menampakkan lesung pipinya dikanan kiri. Teringat beberapa tahun yang lalu ada gadis kecil yang menangis memeluk abangnya disana. Dia tau sebenarnya gadis kecil itu tidak betah disini, tapi semangatnya menuntut ilmu mengalahkan segalanya, walau air matanya selalu tumpah saat bercerita dengan abangnya.


Kita tidak tau kapan cinta itu datang dan kapan pula cinta itu pergi. Tidak ada yang tau kepada siapa cinta itu jatuh, tidak ada yang tau sampai kapan cinta itu bertahan disini. Yang harus kita ketahui adalah Jangan melebihkan cinta itu, kecuali cinta kepada sang Ilahi Robbi


*****


" Sudah siap,Ki? baru lamaran aja udah gugup kau!" goda Hasan


" Siapa yang gugup! aku mah santuy orangnya!" ucap Dzaki


Dengan Bismillah Dzaki dan keluarga berangkat menuju rumah Mila, perjalanan dari rumah Dzaki ke kota kecil Mila memakan waktu 3 jam saja.


Dirumah Mila, tampak kecemasan di wajah kedua orang tuanya.


" Kenapa nomor nya tidak bisa dihubungi!"


" Cemana bang? udah bisa abang telepon?"


" Belum, kemana la anak ini!, dari dia sms semalam sore terus gak bisa dihubungi nomornya!"


" Apa kucoba cari ke kampusnya aja ya, mas!" tanya papanya Aisyah


" Coba lah kau cari, aduh kacau kita, satu jam lagi sampeklah orang tu kemari! aih... malunya aku kok sampe belum pulang juga dia"


Suara kereta berhenti, perempuan bergamis itu masuk kedalam rumah dengan pakaian yang sedikit basah.

__ADS_1


"Gak ujan disini ya, yah!" ucapnya


"Dari mana saja kau, bukannya ucap salam masuk kerumah!"


Perempuan itu berlari keluar kemudian berbalik badan masuk kembali kedalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum ayahku!" ucapnya lembut, menghampiri Arpin yang sudah lega melihat anaknya sampai dengan selamat.


Mila mengehentikan langkahnya, mengerutkan dahinya, kok ayah mamak pakai baju rapi gini, ada bapak sama ibu juga. Dia lari kedapur, banyak makanan.


"Mau ada tamu penting ya bu?" tanya Mila pada ibunya Aisyah


"Loh..loh, calon suami mau datang kok bisa gak tau!"


"Alah... ibu ni bedusta' hajak!" jawab Mila berbahasa Banjar


"Kadak ada yang bedusta pang, takuni mamak ikam!"


"Mamak,... bang Dzaki mau kesini?" sebelum pertanyaan Mila terjawab, terdengar suara pintu mobil ditutup.


Deg


"Kan masih satu bulan lagi, kok datangnya sekarang sih, malah aku belum mandi lagi" Mila memukul kepalanya, kemudian berlari secepat kilat ke kamarnya mengambil handuk dan baju ganti.


Mila memang tidak pulang semalam, terjebak hujan. Terpaksa menginap di kosan Erna. Hapenya juga dimatikannya, karena petir bersahut-sahutan diangkasa. Cuaca bulan ini memang sering datang hujan. Mila memang membawa jas hujan tapi rasanya hujan kemaren tidak bisa ditempuhnya. Hujan itu sangat deras dan lama.


Seperti bayangan berkelebat, Mila yang secepat kilat masuk kedalam kamar dan kemudian keluar lagi dengan membawa handuk, tak luput dari penglihatan laki-laki jangkung yang sebulan terakhir ini tampak mulai sedikit caby.


Tepak sirih berselimut songket merah disambut dengan tepak sirih berbaju biru. Saling tukar menukar tepak, ciri khas bangsa melayu saat melamar. Tepak sirih sebagai penghormatan tamu kepada tuan rumah dan begitu pula sebaliknya.


Calon pengantin perempuanpun hanya bisa mendengar percakapan mereka dari dalam kamar saja, sampai saatnya orang tua laki-laki memakaikan cincin di jari manis calon menantunya. Bersama dengan kedatangan Ana dan Dzaki, Mai ikut menemani. Setelah cincin dipakaikan, Ana memberikan satu kotak perhiasan lagi yang berisi gelang dan kalung.


"Apa ini ummi?" tanya Mila malu


"Kata Dzaki itu bonus, yakan Ki!" goda Ana. Dzaki menyunggingkan senyuman. Hari ini dia banyak sekali tersenyum.

__ADS_1


Sebelum Dzaki, dan kedua nya meninggalkan Mila, Mila memberanikan diri mengatakan sesuatu.


"Tunggu sebentar, bang, ummi" ucapnya


Mai yang melihatnya mengerutkan dahi. Apa yang akan dikatakan anaknya.


"Kebetulan ummi dan mamak disini, Mila mau bertanya kepada bang Dzaki, tapi Mila mohon hal ini ayah jangan sampai mengetahuinya" pintanya sebelum melanjutkan bicara


Dzaki menarik kursi satu-satunya dikamar itu, sedangkan mamak dan ummi duduk disebelah Mila.


"Ada apa nak?" tanya kedua orang tua itu hampir serentak.


Mila memegang kedua tangan mamak dan umminya.


"Tujuan menikah selain menyempurnakan agama, pasti ingin memiliki keturunan kan,ummi..ya kan bang Dzaki?" tanya Mila disusul anggukan keduanya.


"Ada keponakan tetangga Mila, dia sudah menikah sekitar 5 tahun tapi sampai sekarang belum mempunyai anak, katanya dulu sewaktu dia belum menikah, dia menemani ayahnya kemoteraphy, ada yang bilang kenapa dia sampai sekarang belum punya keturunan, ya karena itu. Mila juga ingat sewaktu ayah kemo, para suster dan perawat satupun tidak ada yang berada didalam, mereka semua menunggu di pintu masuk,keluarga pasien juga disuruh menunggu diluar. Waktu itu Mila heran, kenapa tidak ada yang menunggu dekat orang yang sakit."


"Mamak mungkin ingat, kali ke 6 ayah kemoteraphy Mila bersikeras menemani ayah diruangan, takut kalau-kalau ayah perlu sesuatu, karena waktu itu ayah sangat lemah. Ayah mengusir Mila, ayah marah...Mila disuruh nunggu diluar. Mungkin ayah juga menghawatirkan hal yang diceritakan orang-orang"


"Jadi, ummi, bang Dzaki... bukan Mila meragukan keagungan Allah, tapi daripada terjadi penyesalan dibelakang hari nantinya lebih baik Mila ceritakan ini sekarang. Kalau abang mundur, Mila tidak apa-apa. Mungkin itu lebih baik, dari pada nanti bang Dzaki kecewa dengan Mila" sekuat tenaga Mila menahan air matanya agar tidak jatuh. Hal ini memang sengaja tidak diberitahukan kepada ayahnya, takut nanti ayahnya menyalahkan dirinya.


"Kalau ummi,semua ummi serahkan kepada Dzaki. Dia yang mau berumah tangga!" ucap Ana


Mai hanya diam, sesekali menyeka air matanya. Sebenarnya dia juga mendengar istri pak Joko tetangganya menceritakan hal ini. Dia fikir Mila tidak memasukkannya kehati.


Dzaki yang sedari tadi membaca info-info kesehatan hanya diam, sesekali memberanikan diri menatap wajah calon isterinya. Cemas, ada raut kecemasan diwajahnya. Bukan karena ingin membatalkan pertunangannya, tapi dia mencemaskan kesehatan Mila.


Bulu kuduknya meremang, beristighfar dalam hati, semoga tidak benar terjadi. Doanya setelah membaca artikel tentang bahayanya efek obat kemoteraphy untuk orang disekitarnya.


"Saya akan tetap melanjutkan pernikahan ini, anak itu bagian dari Rezeki, dan Rezeki itu Allah yang mengaturnya. Bagaimana bisa seorang Sarah istri pertama Nabi Ibrahim yang divonis mandul, kemudian bisa mengandung diusia yang tak lagi muda!, menurut logika pasti tidak mungkin. Tapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Abang ingin menikahimu karena Allah dek..." jawab Dzaki mantap


Seperti air hujan yang turun dimusim kemarau, bunga-bunga yang layu kini segar bermekaran. Hati Mila lega mendengar jawaban calon suaminya.


Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, satu hari setelah Idul Adha Dzaki dan Mila menikah, resepsi di rumah Arpin. Dua hari kemudian ngunduh mantu di kediaman Buya Latif.

__ADS_1


Pertemuan ditutup dengan doa, untuk mengambil keberkahan dan kemudahan atas apa yang mereka rencanakan.


__ADS_2