
Nanti kalau sudah pulang, temani aku melamar calon menantu Ummi. Dzaki teringat kata-katanya sendiri. Ia tersenyum mengingat ekspresi Umminya. Kenapa waktu itu ia kepikiran mengatakan hal itu ya... Fikirnya.
Mungkin sekarang mereka sudah senang mendapatkan cucu yang sangat lucu. Amira sudah melahirkan melahirkan bayi perempuan yang sangat menggemaskan.
Ini Ramadhan pertama Dzaki di Mesir, Dzaki melanjutkan S2 nya di Al-azhar Kairo. Enam tahun ia rasa masih belum cukup menimba ilmu di Universitas tertua di dunia itu, Sehingga ia memutuskan melanjutkan lagi pendidikannya disana.
Rasanya ia ingin waktu cepat berlalu. Karena selain ingin pulang pekerjaan yang sudah dia tinggalkan menantinya di tanah kelahiran Umminya Jawa Timur.
Laki-laki itu memegang ponselnya. Menekan beberapa nomor dilayarnya. Panggilan luar negri
Tuut... tuuut... tidak diangkat.
Dzaki mencobanya sekali lagi
"Haloo... Assalamu'alaikum, Ki. Ummi tadi terlambat mengangkat telfonmu. Ummi dari kamar mandi".
"Tidak apa-apa, Ummi. Ummi sepertinya sibuk sekali, Bagaimana ummi rasanya punya cucu?"
"Ummi bahagia sekali, ummi jadi teringat sewaktu melahirkanmu dulu, capek repot tapi semuanya hilang melihat bayi tersenyum. Jangankan tersenyum ki mendengar Bayi menangis saja rasanya Ummi bahagia sekali"
"Bagaimana keadaan Amira, Mi? Apa dia sudah sadar?"
"Alhamdulillah Amira sudah sadar, dia juga sudah bisa memberikan Asi. Ternyata selama hamil dia banyak memakan sayuran. Jadi Asinya cepat keluar. Demi anak Mira jadi rela memakan makanan yang tidak ia sukai. Padahal biasanya kau kan tau sendiri Ki dia pasti menolak memakan sayur apapun" oceh Ana
"Perjuangan seorang Ibu, Mi." jawab Dzaki
__ADS_1
"Sayang, suaminya tidak ada disini!" ucap Ana merasa kasihan.
"Do'anya pasti selalu dan setiap saat untuk istrinya, Mi"
Dzaki menyudahi teleponnya. Rasanya dia ingin pulang melihat bayi mungil itu, dan melihat Ummi Ana yang kedengarannya sangat bahagia.
Malam itu, Dzaki tidur dengan perasaan lega.
\=\=\=
Medan
Security berlari mendekati mobil yang baru saja berhenti didepan Rumah sakit Royal maternity. Perawat mengambil kursi roda dan menghampiri perempuan yang keluar dari mobil itu.
Beberapa jam sebelumnya :
"Ummi... Mira keluar tanda, sepertinya dia sudah mau lahir" Mira mengelus perutnya menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.
Semakin lama semakin sakit, hingga Mira tidak kuat untuk berjalan. Rani memeriksanya.
"Bagaimana, Ran? sudah dekat?" Tanya Ummi Ana
"Masih buka dua, Mi. Sepertinya tidak benar kata dokter, Mi. Amira tidak bisa melahirkan normal. Bayinya sungsang ummi!" ucap Rani.
Rani bidan puskesmas disana, Rani adalah kakak Amira.
__ADS_1
Buya Latif menelfon sopirnya dan mereka semua berangkat kerumah sakit untuk melakukan operasi.
"Ran, kalau buya bawa ke rumah sakit di Medan saja bagaimana?"
"Lebih baik begitu, buya! Rann setuju. Lagi pula sekarang ke Medan tidak memakan waktu yang lama, karena sudah ada jalan tol." Rani pun bergegas membereskan keperluan lahiran Mira.
"Apa suaminya dihubungi saja, Buya?" tanya Rani yang sudah siap sedia dengan handphone ditangannya.
"Nanti saja kak, kalau sudah lahir. Jangan membebani suamiku, dia sedang diluar negri tidak mungkin juga dia bisa menemaniku lahiran." ucap Amira mencegah kakaknya. Tak ingin rasanya memberikan beban kepada suaminya yang sedang tidak ada di dekatnya.
"Iya betul kata si Mira, nanti saja kalau sudah lahir anaknya!" jawab buya Latif.
Kembali ke rumah sakit :
Amira lansung dibawa keruang operasi, Ummi Ana meminta izin untuk ikut menemani.
Ummi mengusap keringat dingin di kening Amira, tangannya mengusap lembut kepalanya. Mulutnya tak berhenti bershalawat memohon kemudahan gadis yang akan di operasi itu.
"Banyak berdzikir sayang... insya Allah semua akan di mudahkan!" ucap Ummi membelai lembut kepala Amira yang tertutup jilbab.
Amira tersenyum mendengarnya,
Terimakasih sudah menemaniku Ummi bisik Mila lirih, tak berapa lama pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap.
Efek obat biusnya sudah bekerja. Amira meminta agar dia di bius total.
__ADS_1