
Pagi menjelang siang di kota suci kedua, Madinah. Tempat Hijrahnya nabi Allah ini menyimpan sejuta cerita tentang perjuangan orang yang paling mulia.
Mila menghirup dalam-dalam udara kota Hejaz itu, sambil berjalan santai, menuju hotel tempat mereka menginap, setelah sholat subuh di mesjid Nabawi. Ini hari kedua mereka menginjakkan kaki disana. Setelah menghabiskan waktu berdua dalam kamar sesampainya mereka disana. Serasa "honeymoon jilid dua," begitu kata suaminya.
Dar Al Taqwa hotel menjadi pilihan suami istri itu, lebih tepatnya pilihan Dzaki. Karena jaraknya yang sangat dekat dengan masjid Nabawi. Pemandangan di balik jendela langsung menuju ke masjid kubah hijau tersebut. Seperti yang sudah-sudah, Dzaki akan memberikan yang terbaik untuk istri manisnya. Pemandangan dari balik jendela atau balkon menjadi kriteria utama pemilihan hotel untuk istrinya itu. Karena istrinya lebih suka menghabiskan waktu di kamar saja.
Sepanjang perjalanan menuju hotelnya, Dzaki mengabadikannya dalam handycam miliknya, lagi dan lagi ini adalah permintaan istrinya. Dzaki justru merasa senang, karena biasanya istrinya itu tidak terlalu suka di foto, apalagi direkam gerak-geriknya untuk video.
Sesampainya di hotel, Dzaki mengambil mushab yang tak pernah lupa ia bawa, Mila sudah bersiap-siap meletakkan badannya dengan kepala yang bertumpu diatas paha Dzaki. Ya, surat Al-kahfi, Dzaki akan membaca surat Al-kahfi, hari itu hati jum'at. Dzaki membelai kepala istrinya dengan satu tangannya, menyelesaikan bacaannya yang hanya 110 ayat.
Cup
"Ana uhibbuka Fillah, adek!" Dzaki mengecup pipi istrinya yang sedari tadi menahan kantuk. Mila membalasnya dengan melingkarkan tangannya di paha suaminya.
"Sama-sama, Mas! aku juga uhibbu!" ucapnya menyeringai.
"Jangan tidur pagi! gak baik buat kesehatan! ayo siap-siap, mau lihat cafe baru kita gak?" Dzaki mengganti bajunya dengan baju kaos dan mengenakan jaket kulit berwarna hitam.
"Oh iya, adek lupa. Sebentar ya, Mas!" Mila mengambil baju dalam lemarinya berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Disini aja gantinya, sayang!" ucap Dzaki yang merasa lucu melihat istrinya yang masih sering malu-malu.
"Gak ah, Malu!" jerit Mila dari dalam kamar mandi.
Tak berapa lama, Mila keluar memakai kaos berwana hitam lengan panjang, rambutnya sudah terkuncir rapi.
"Anak jilbab, Mila mana ya?" ucapnya tanpa melihat Dzaki.
__ADS_1
"Ini, mas pakai!" Dzaki menjawab sambil memainkan gawainya.
"Mas, serius dong!" Mila mencarinya dalam lemari, tapi tak ada tanda-tanda yang dicarinya ketemu.
"Jangan dibiasakan bertanya tanpa melihat lawan bicaranya! ini!" Dzaki menghampiri istrinya, memberikan ciput berwarna hitam yang dicari-cari istrinya.
"Tadi terjatuh waktu adek masuk kedalam kamar mandi. Makanya jangan lari-larian! kayak anak kecil!" Dzaki mengacak rambut Mila yang sudah rapi. Mila menerima perlakuan suaminya itu pasrah, percuma saja marah karena akan membuat Dzaki semakin membuat rambutnya berantakan. Kejahilan Dzaki bukan hanya berlaku kepada anaknya saja, melainkan juga kepada istrinya.
"Udah, ayo cepat! ini hari jum'at loh! waktu kita gak banyak!" Dzaki meninggalkan istrinya yang cemberut.
"Dia yang buat lama pun!" Mila memajukan bibirnya satu centimeter.
"Jelek!"
"Biarin! tapi kamu sukakan?" ejek Mila, masuk kedalam kamar mandi lagi.
"Arabesque Restaurant? itu namanya, Mas?" tanya Mila mendengar alamat yang disampaikan Dzaki kepada supir taxi.
"Bukan, tujuan kita disebelahnya! Kalau bilang nama cafe kita bapak supirnya gak mungkin tau!" Dzaki berbisik membalikkan tubuhnya kebelakang. Begitulah Dzaki, dia selalu memilih duduk didepan disamping supir untuk sekedar bertanya-tanya tentang keadaan di sekitarnya.
Beberapa menit berselang, mereka sampai ke tempat tujuan. Dzaki sudah stanby dengan handycamnya. Mengabadikan ekspresi istrinya melihat restoran barunya dengan nama yang berbeda.
"Umma restaurant?" Mila membaca tulisan yang tak terlalu besar di depan gedung yang tak terlalu besar dihadapannya.
"Iya, umma restaurant. Ini semua rezeki dari Allah, selama umma hidup bersama Abi!" Dzaki merangkul bahu Mila, mengajak istri manisnya masuk kedalam. Menu andalan tetap sama dengan Cafe Ulya yang ada di Mesir. Menu kesukaan Dzaki, yang menambah ketertarikannya dulu dengan istrinya itu.
Sambil menunggu pesanan datang, Mila meminta pelayan untuk mengambil foto mereka berdua disana. Dengan senang hati pelayan itu melakukannya.
__ADS_1
"Anta munaasib Jiddan!" ucap pelayan laki-laki itu, memberikan Handphone Mila.
"Syukron" ucapnya mengambil gawainya itu. Melihat hasil jepretannya.
"Emang cocok, Ya?" ucap Mila melihat suaminya.
"Cocok dong, mas kan ganteng!"
"Ganteng kan gak cocok sama jelek!" ucap Mila sedih.
"Adek gak jelek! siapa yang bilang gitu, hah. Siapa... siapa!"
"Mas tadi waktu di kamar!" Mila cemberut.
"Ih, becanda. Sayang!" peluknya, tak menyangka perkataannya tadi di masukkan kehati oleh istrinya.
Dzaki mengambil gawai istrinya itu, menatap sekilas hasil jepretan pramusaji tadi, "ih, seperti masih pacaran saja, fotonya berjauhan!" gumamnya. Kemudian meletakkan benda pipih itu di sebelahnya dan bersiap makan, karena pesanan sudah datang.
Nasi goreng, ayam goreng dan dua teh panas. Indonesia sekali bukan? kemanapun kita berada, pasti akan rindu dengan makanan khas negara sendiri. Sama seperti sepasang suami istri itu.
Setelah puas makan, dan melihat setiap sudut restaurant baru milik mereka, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, Mereka memutuskan untuk pulang kepenginapan. Perjalanan kali ini sedikit berbeda, karena Dzaki masih sangat menjaga istrinya agar tidak kecapean, maklumlah masih masa pemulihan.
Dzaki menggandeng tangan istrinya yang tampak masih belum mau pulang.
"Perjalanan kita masih panjang, Sayang! masih ada besok." ucapnya membelai wajah istrinya. Membuat jiwa para jomblo yang melihatnya berontak, melihat kemesraan suami istri tersebut.
__ADS_1
"Semoga mereka bahagia sampai surga?" ucap dua pelayan mendoakan pemilik restaurant tempat mereka bekerja.