Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Istriku


__ADS_3

Langkahnya tegap sedikit berlari. Menembus dinginnya malam, dikoridor rumah sakit yang terlihat sepi. Lampu yang temaram menambah kesan angker semakin menjadi, pantas saja rumah sakit selalu menjadi lokasi syuting film horor.


Gawainya terus digenggamnya, sesekali berhenti dari lari-lari kecilnya, mencoba menelepon nomor wanita yang dicarinya.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif


Hah! Laki-laki itu menghela nafas, mengacak rambutnya. Gelisah..., tampak sekali kegelisahan diwajahnya.


Dari kejauhan dilihatnya sosok yang dari tadi dia cari, sedang duduk bersama dengan seorang laki-laki paruhbaya yang sepertinya dia kenal.


"Mas...." perempuan itu beranjak dari duduknya. Laki-laki tadi pun memeluknya.


"Adek, kenapa...,kok bisa gini?" tanyanya khawatir. Tangannya memegang dagu istrinya, mengangkatnya keatas. Terlihat jelas lebam di sebelah pipinya.


"Kena tonjok tadi, bang." Jawab gadis itu takut.


"Ini istrimu nak?" tanya laki-laki paruh baya tadi


"Buya ...." Dzaki mencium tangan buya Yahya sopan.


Yahya pun menjelaskan semua yang terjadi kepada Dzaki. Serasa tak percaya Dzaki mendengar semuanya. Apa istriku benar-benar seberani itu,gumamnya dalam hati.


Mila yang sedari tadi menundukkan kepala, meremas jari jemarinya. Merasa bersalah karena sudah membuat suaminya khawatir, dan juga merasa takut, kalau-kalau suaminya akan memarahinya. Tapi memang ini kesalahannya yang tak langsung memberi kabar. Mau bagaimana lagi, Telepon genggam antik kesayangannya sudah tidak bisa dipakai lagi. Mungkin sudah masanya gawai kesayangannya itu pensiun.


"Kalau begitu kami pamit pulang,buya. Kasihan ummi menunggu lama dirumah." ucap Dzaki. Mila yang mendengar perkataan suaminya ikut menimpali.


"Ummi datang, mas?" tanyanya


"Hm...." jawab Dzaki, menggenggam tangan istrinya berjalan keluar menuju mobil.


"Tapi,mas..." Mila menghentikan omongannya, Dzaki menatapnya dengan tatapan tak biasa. Mila menundukkan pandangannya. Sepertinya Dzaki marah, seumur-umur menikah Dzaki tidak pernah memperlihatkan raut wajah yang seperti ini.


"Ayo pulang, mas tadi sudah pamit ke buya!" ucap Dzaki penuh penekanan. Dia tau istri manisnya itu ingin pamit kepada perempuan yang ditolongnya. Tapi Dzaki tidak ingin dia bertemu lagi dengan wanita itu. Wanita yang baru saja keguguran itu adalah Winda.


***


Di dalam mobil,


Sunyi senyap. Tak ada pembicaraan, sesekali hanya terdengar Dzaki membuang nafas dengan sangat kasar.


Perempuan yang terlihat lusuh itu hanya bisa menundukkan pandangannya, sesekali dia mengarahkan wajahnya melihat kesamping, melihat suasana malam kota Malang. Tangannya dingin karena ketakutan. Semakin lama pertahanan pun runtuh, Mila terisak. Meminta maaf kepada suaminya.


"Mas, maaf....hiks, jangan cuekin Mila seperti ini. Mila takut...."


"Takut apa? tadi gak takut! melawan dua preman sekaligus, adek tu perempuan. Kalau terjadi apa-apa gimana?, kalau preman itu bawa senjata tajam gimana!" Dzaki menghentikan mobilnya, menepi dipinggir jalan.


Dzaki memegang tangan istrinya. "Dingin..., gumamnya dalam hati. Pasti dia ketakutan. Kenapa aku jadi marah begini!"


"Mas itu khawatir, dek. Kamu itu tanggung jawab mas. Apa kata ayah nanti. Mas juga malu sama ummi, dikira mas gak bisa jaga kamu dengan baik." ucap Dzaki lembut, membelai pucuk kepala istrinya yang masih terisak.

__ADS_1


"Maaf mas, kejadian tadi itu didepan mata. Masak harus diam saja melihat perempuan ditindas seperti itu.Malah premannya orang Medan lagi, kan buat malu itu namanya. Jauh-jauh merantau,cuman mau jadi preman. Lebih baik pulang aja kekampung sana" jawab Mila emosi mengingatnya.


"Tapi nyawamu juga terancam,sayang. Jangan bahayakan dirimu. Lebih baik pergi minta pertolongan orang banyak!"


"Iya" jawab Mila menunduk lagi


Dirumah Dzaki, Ana mondar mandir melihat kearah luar, belum ada tanda-tanda kepulangan anak menantunya.


Suara mobil memasuki pekarangan rumah. Ana membuka pintu, berjalan menemui mobil yang baru saja berhenti.


Pintu mobil terbuka, Mila memeluk Ana,rindu bercampur haru merasa bersalah membuat mertuanya cemas seperti itu.


"Mila kenapa,nak? Kok lebam-lebam gini. Ayo masuk, bersihkan dirimu. Nanti ummi obatin." ucap Ana


Mereka berjalan masuk kedalam rumah. Mila naik keatas,kekamarnya.


"Nolongin orang yang kerampokan mi, melawan dua preman berbadan besar-besar!" ucap Dzaki seperti tau isi hati umminya.


"Hah... ya Allah, melawan preman!" Ana menutup mulutnya, terkejut tak percaya. Menantunya yang lemah lembut itu punya sisi lain yang tidak diketahuinya.


*****


"Ternyata menantu ummi ini jagoan ya," ucap Ana sambil mengompres luka lebam disudut bibir kanan Mila dengan air es. Mila hanya bisa meringis, mencoba senyum tapi luka yang sedikit terbuka memberikan efek perih.


"Jagoan kok lebam!" Cubit Dzaki


"Ampun,pak dosen!, maafkan saya. Saya hanya ingin membela kebenaran dan keadilan."


"Sini, biar Mila makan sendiri saja." Mila mengambil mangkuk sup ditangan suaminya.


"Jangan membantah, tinggal buka mulut aja kok susah!" Dzaki membesarkan matanya.


Ana yang melihat tingkah kedua anaknya itu memilih pergi meninggalkan mereka.


"Makanlah nak, sup itu banyak rempahnya. Membuat badanmu jadi lebih enak nantinya. Ummi tidur duluan ya sayang." Ana mencium pucuk kepala Mila.


"Terimakasih ummi, maaf merepotkan" peluk Mila.


"Sudah mas, adek sudah kenyang!" ucap Mila ingin beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?"


"Ambil obat."


"Duduk, biar mas saja yang ambik dimana?"


"Di dalam tas,mas" tunjuknya ke meja rias


Dzaki membuka tas berwarna hitam diatas nakas. Mencari obat, tapi matanya tertuju pada benda kecil berwarna hitam yang lepas dari tempatnya, juga layar depannya yang pecah.

__ADS_1


"Dek...." Dzaki mengangkat benda yang sudah tak utuh itu.


"Hehe... tadi waktu nonjok preman, hapenya jatuh,eh..malah ke injek. Hancur deh!"


Pantas saja dari tadi ditelepon gak tersambung. Ternyata sihitam antik telah tiada,gumam Dzaki


"Besok mas belikan yang baru!"


"Gak usah, mas. Nanti saja, tabungan Mila belum cukup." jawab Mila sedih


"Kenapa cerita tabungan, kan yang mau beliin mas. Tenang ... uang belanja gak bekurang kok, ini pakai uang pribadi mas!"


"Terserah mas saja, mana obatnya?"


"Sebentar, sayang. Mas ambil air putih lagi, yang ini hanya sisa sedikit. Nanti gak ketelan obatnya."


"Jangan begerak! Diam saja disitu, awas kalau pergi dari situ!" ucap Dzaki melihat istrinya ingin pergi mengambil air minum.


"Hm...berasa tahanan sayanya ma," ucap Mila lirih menirukan suara Memey.


\=\=\=\=\=


Perempuan diatas brangkar membuka matanya. Jam menunjukkan tepat tengah malam. Mencoba turun dari tempat tidurnya perlahan. Suara decitan tempat tidur membangunkan laki-laki yang tertidur disebelahnya.


"Mau kemana, dek?"


"Aku haus,mas" ucapnya pelan sekali.


"Tunggu,biar mas ambilkan. Jangan banyak bergerak dulu, kalau perlu apa-apa bangunkan mas saja!" ucap Faruk. Dia baru sekitar dua jam berada disana, sewaktu Winda dirumah sakit, dia masih dalam perjalanan. Ada pekerjaan diluar kota.


Winda memegang perutnya, sedih. Baru satu bulan merasakan ada janin yang hidup dalam rahimnya, sekarang benih cinta itu sudah tidak lagi didalam sana.


"Seandainya aku punya keahlian beladiri seperti gadis itu." gumamnya


"Ini takdir Allah, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik." ucap Faruk


\=\=\=\=\=


Mata laki-laki itu tak bisa terpejam, perempuan disebelahnya tak berhenti mengigau.


"Gak biasanya dia seperti ini!" Dzaki meletakkan punggung tangannya ke kening istrinya, panik. Lalu mengambil termometer, 39 derajat Celcius.


"Sayang, bangun. Mila." panggil Dzaki


Mila membuka matanya, mencoba duduk tapi, ia merasakan sakit kepala yang amat sangat sakit. Dzaki membantunya.


"Kau demam, minum ini!" Dzaki memberikan aspirin.


"Besok mas akan cari tukang urut, supaya badanmu enakkan. Tidur lah!" Dzaki mengompres dengan air es.

__ADS_1


"Mas..., peluk adek! Dingin..." suara gigi Mila beradu, dia menggigil.


__ADS_2