
"Ciri amal yang tidak ikhlas adalah ketika muncul perasaan kecewa jika apa yang dilakukan belum berbuah seperti yang dikehendaki. " Abdullah Gymnastiar
Jika kamu ikhlas, kamu akan siap menerima apapun yang terjadi dalam hidup ini, sehingga kamu akan selalu bersyukur tanpa merasa kecewa yang berlebihan. Jika terjadi sebaliknya kamu tidak menerima yang terjadi dalam hidup mu dan merasa kecewa yang berlebihan maka berarti kamu tidak ikhlas.
" Karena Allah" lakukan semuanya karena Allah. Sepenggal ceramah dari ulama besar terus diulang-ulangnya. Matanya tak berhenti meneteskan airmata. Seolah-olah mata itu memiliki sumber air yang tidak ada habis-habisnya. Sudah semalaman Winda tidak keluar kamar, kecewa yang teramat sangat. Tidak pernah ia merasa sekecewa ini.
Tidak ada semangat hidup rasanya. Jangankan berdiri membuka matapun dia enggan.
" Winda....win..winda " suara pintu di ketuk dengan memanggil nama pemilik kamar tak berhenti diucapkan laki-laki yang tak lagi muda itu. Wajah cemas tak bisa lagi ia tutupi. Ya Allah... jaga iman anak hamba ucapnya lirih.
Sementara pemilik kamar masih terus berinteraksi dengan egonya, sambil memeluk bingkai foto matanya menatap kesatu arah.
flashback
Assalamu'alaikum, pak Yahya ada? tanya laki-laki kurus tinggi semampai didepan pintu. Menenteng satu tas laptop dan satu koper besar ditangan satunya.
Wa'alaikumsalam, ayah sedang keluar sebentar ada urusan. Bapak masuk saja, tunggu ayah didalam. Jawab gadis berambut sebahu dengan baju kaus oblong dan celana jins panjang, langsing putih dan cantik.
Saya tunggu disini saja, ucap laki-laki itu menunjuk kursi yang ada diteras. Tak enak rasa hatinya untuk menunggu pak Yahya didalam rumah, takut fitnah. Laki-laki itu berfikir tidak ada orang dirumah, sepengetahuannya pak Yahya hanya tinggal berdua dengan anak gadisnya saja. Istrinya sudah meninggal enam tahun yang lalu.
Oh... baiklah, kalau bapak mau menunggu disini, silahkan duduk pak, saya tinggal kedalam dulu ya! ucap gadis itu sopan dengan tetap membuka pintu meninggalkan tamu ayahnya menuju ke dapur.
Bibi...Tolong buatkan teh dan ini! Gadis itu memberikan beberapa jajanan pasar yang sudah ditata rapi dipiring. Sepulang kuliah tadi, gadis itu sengaja mampir ke warung penjual jajanan pasar, sesuai pesanan ayahnya.
Ini tehnya pak! perempuan paruh baya meletakkan satu cangkir teh dengan sepiring kue basah beraneka macam, ada dadar gulung, lapis dan kue apem kesukaannya.
Terimakasih bi! ucap laki-laki itu. Diapun meminum tehnya dan memakan beberapa kue kesukaannya itu. Buya tau saja kesukaanku. ucapnya dalam hati.
Tak berapa lama seseorang keluar mobil berwarna silver membuka pagar dan ingin membuka seluruh pagar itu.
Laki-laki yang sedang meminum teh berlari menghampirinya dan membukakan pagar, biar saya saja buya ucapnya, disusul senyuman ramah laki-laki yang dipanggilnya dengan sebutan buya.
" Maaf menunggu lama ustadz! " ucap laki-laki itu
" Tidak apa-apa buya!" jawabnya tak kalah ramah
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya pak Yahya turun dengan membawa beberapa kantong plastik dan sekantung beras.
" Maklum lah, Duda keren ini harus belanja bulanan sendiri " ucapnya disertai tawa keduanya
" Ini kamarmu, gak terlalu luas sih! " kata Yahya menunjukkan kamar untuk Dzaki
" Wah... ini sudah besar sekali buat Dzaki buya" ucapnya penuh hormat
" Anggap rumah sendiri, jangan sungkan-sungkan!, bebereslah dulu. Ba'da maghrib kita makan malam dibawah!" ucap Yahya meninggalkan Dzaki.
Malam itu malam pertama dia tinggal dengan pak Yahya, dosen senior tempat dia mengajar.
" Bapak alumni Mesir ya, katanya kampus di Al-Azhar terpisah dengan kampus putri ya pak? jadi gak pernah ketemu perempuan dong? Dosennya juga laki-laki aja gitu pak?" tanya gadis yang masih menggunakan pakaian yang sama seperti yang dilihatnya tadi.
" Winda... jaga sikapmu, jangan bertanya yang tidak-tidak!"
" Kan cuman nanya yah, gak salah kan pak!" mata gadis itu melihat laki-laki yang duduk disamping ayahnya.
Dingin amat nih orang, nunduk aja juga dari tadi apa gak pegel! Hm.... menantang! ucap Winda dalam hati matanya tak lepas memandangi Dzaki
" Pagi yah.." Winda mencium pipi ayahnya
" Pagi sayang... sarapan dulu!"
" Winda minum susu saja ayah, takut terlambat " mata nya melihat laki-laki didepannya, lagi-lagi laki-laki itu menunduk.
" Pakailah jilbabmu, sudah berapa lusin ayah membelikannya tapi hanya kau buat menjadi penunggu lemari saja!" ucap Yahya
" Teman-temanmu juga ayah lihat sudah banyak yang berjilbab bahkan ada yang sudah berjilbab syar'i " ucapnya lagi
" Hm... nanti lah yah, belum siap! " Gadis itu menghabiskan susunya.
" Gak usah di antar yah, Winda sudah minta dijeput Wawan, sudah otw katanya!"
" Wawan... siapa lagi itu, kapan kamu berobahnya nak?" laki-laki paruh baya itu terlihat kecewa
__ADS_1
" Teman doang yah... lumayan gratis antar jemput hehe " Winda mencium pipi ayahnya dan meninggalkan ruang makan.
Hah... Yahya menghela nafas. Begitulah ki... mungkin karena tidak punya ibu, Winda jadi seperti itu. Kadang sebagai ayah saya merasa gagal. Dia sudah dewasa, tapi jangankan menutup auratnya, shalat saja masih sekenanya.
" Sabar buya... pelan-pelan dan jangan bosan, mudah-mudahan hidayah akan sampai tepat pada waktunya " ucap Dzaki menenangkan.
***
" Mobil siapa tadi Wind... ? "
" Oh.. anak kost ayah, dosen baru di kampus!"
" Wah... jangan-jangan calon mantu!" ucap Wawan seperti tidak rela
" Calon mantu apaan, orangnya dingin banget tau gak, kalau diajak ngobrol dia nunduuuuk aja, masak aku nikah sama yang begituan, alim bro... alumni Mesir pula! " jawab Winda
" Wow... sepertinya ada yang minder nih? " wawan menghentikan mobilnya.
" Sudah sampai neng, perlu saya antar ke kelas!" ucap wawan menggoda
" Gak perlu mang, saya turun disini saja!" ucap Winda memberikan selembar uang lima ribuan.
" Sisanya buat mamang aja!" ucapnya lagi
" Sialan loe, murah amat! " jawab Wawan ketus, tapi tetap mengambil uang yang diberikan gadis itu
" Lumayan buat parkir" Wawan meninggalkan Winda, menuju fakultasnya.
Wawan dan Winda satu komunitas, sama-sama mahasiswa pencinta alam. Wawan mahasiswa fakultas Ekonomi dan Bisnis. Mereka berteman sejak satu tahun yang lalu.
Winda khairida, mahasiswa semester lima fakultas Ilmu KomputerUniversitas Brawijaya, Tingginya 170 dengan berat badan 55, ideal bak model. Rambut sebahu, kulit putih bersih wajah glowing tanpa jerawat. Karakternya menyenangkan mudah bergaul, tidak pilih-pilih teman.
" Anak ustadz kok sukanya naik gunung!, anak ustadz kok gak pake jilbab, anak ustadz kok kemana-mana sama cowok"
Kata-kata itu sering didengarnya, tapi bukan Winda namanya kalau baperan. Biarilah orang berkata apa..manusia tiada yang sempurna...yang penting aku bahagia! Lirik lagu Armada itu menjadi semangat buatnya. Hidup itu pilihan, terserah gue mau buat apa! asal gak merugikan orang lain! kata-kata itu selalu jadi tagline nya.
__ADS_1