
Desir ombak memecah kesunyian malam. Hembusan anginnya mulai menusuk tulang. Laki-laki itu mempercepat langkahnya, menuju penginapan, dengan membawa satu kantung makanan permintaan istrinya.
Fairmont Nile city, perempuan yang sedang duduk dikursi empuk menyalakan televisi, bukan untuk dilihat, melainkan hanya untuk mengusir sepi. Matanya menatap keluar, menembus jendela yang sudah dia buka lebar tirainya. Selama beberapa hari bepergian dari kota satu kekota lainnya, hal yang tak pernah dilewatkannya adalah melihat pemandangannya dari balik jendela.
Bebas, tidak ada yang mengganggu. Suka-suka aku mau melihatnya dengan gaya seperti apa, bisa sambil tiduran, sambil makan, tidak harus berpenampilan rapi, cukup dengan baju tidur saja sudah nyaman dihati, pikirnya. Bukan penampilan yang dipentingkan, yang penting rasa syukur ketika melihat begitu sempurnanya ciptaan Tuhan, seperti saat ini. Pandangannya jauh kedepan bertumpu pada satu titik, Air.
Sungai Nil, salah satu sungai terpanjang di dunia, yang membelah sembilan negara. Jika mendengar kata sungai Nil, pasti yang diingat adalah nabi Musa, sungai yang menjadi saksi bisu, yang dengan arusnya membawa nabi Musa sampai bertemu dengan Siti Asiah, istri Fir'aun.
****
"Hm... kenapa lama sekali sih!" ucapnya tak sabar menunggu kedatangan suaminya. Membuyarkan segala hayalan menembus masa kerajaan Fir'aun.
Tiit... Ckleek
Pintu terbuka, dilihatnya wajah lelah dibalik senyum yang tetap saja terlihat manis.
"Capek ya,Mas?" Mila memijit bahu suaminya dari belakang.
"Hm... yanh sebelah sini, dek" seru Dzaki menunjuk kepalanya minta dipijat.
"Mas,pusing?" Mila duduk disebelah Dzaki yang duduk di karpet, meluruskan kakinya.
"Sedikit, mungkin karena mas lapar."
"Kalau gitu ayo kita makan, mas!" Mila bangun dari duduknya, mengambil kantong plastik yang diketakkan Dzaki diatas nakas.
Mila mengeluarkan dua kotak makanan yang ukurannya jauh lebih besar dari kotak makanan di Indonesia. Satu kotak berisi Ful, dan satunya lagi Umm Ali.
Ful, makanan pokok orang Mesir terbuat dari kacang fava yang dimasak dengan sedikit garam dan minyak. Makanan kaya nutrisi, kalsium dan zat besi ini harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum dimakan, sebelumnya Dzaki sudah meminta penjualnya melakukannya, meskipun harus memberikan tip lebih.
Mereka memakannya dengan lahap, sepiring berdua.
"Kenapa tiba-tiba mintanya aneh-aneh,dek!" Dzaki membuka percakapan,setelah sekian lama mereka hanya diam menikmati hidangan.
"Aneh apanya,Mas. Mila hanya mau tau makanan khas Mesir, tadi kan kita makan nasi goreng." Menjawab dengan mulut penuh.
"Kenapa tidak beli disini saja, tinggal telpon Room service, beres. Mas gak capek-capek keluar."
"Kalau beli makanan di hotel kan mahal,Mas. Sayang uangnya, kita bagi-bagi dong sama pedagang-pedagang diluar sana, lagi pula adek berani zamin. Rasanya pasti tidak seenak ini." ucap Mila masih dengan lahapnya.
"Maaf, adek menyusahkan. Tapi tunggu dulu! Kenapa mas sepertinya tidak ikhlas?" Mila menghentikan makannya.
__ADS_1
"Eh... mas ikhlas dunia akhirat sayang, ayo cobain dessert nya, ini enak loh." Jurus jitu menurut Dzaki, meraih Umm Ali, yang terletak disebelahnya. Jangan sampai dia ngambek lagi,pikirnya.
"Kalau ini seperti kue ya, Mas. Manis, terasa sekali bubuk kayu manisnya. Tapi terlalu lemak, wek." Kunyahan pertama memberikan kesan menarik, tapi selanjutnya ada rasa yang tak cocok dengan mulut Mila.
Umm Ali, adalah campuran dari susu, vanilla, kayu manis bubuk dan krim yang direbus kemudian diberi toping diatasnya kelapa kering, kacang almond dan kismis, kadang juga ditambahkan kacang pistaschio. Kemudian dipanggang.
Ini salah satu makanan kesukaan Dzaki selama tinggal di Kairo.
"Mas yang habiskan, ya. Mila gak mau." ucap Mila menahan mual, sekuat tenaga dia menahannya, jangan sampai Ful nya keluar.
\=\=\=\=\=
Perjalanan berakhir, besok mereka akan mengakhiri perjalanan honeymoon mereka. Pekerjaan menanti pak dosen yang sudah absen selama tiga hari. Untung ada asisten yang bisa dipercaya menggantikan Dzaki sementara waktu.
"Dek...." ucap Dzaki menggenggam lengan istrinya.
"Ya, mas. Ada apa? kok belum tidur." Mila duduk dan menyandarkan tubuhnya ditempat tidur.
"Kok, malah duduk?" Dzaki pun ikut duduk.
"Kalau tidak duduk, nanti Mila ketiduran,Mas." memang benar,Mila sangat mengantuk.
"Apa rencana adek setelah ijazah S1 nya keluar?
"Cari kerja. Kalau mas izinin, sih!"
"Kalau gak boleh kerja, gimana?"
"Kalau begitu ya Mila dirumah saja. Mila ikut mas saja. Kalau mas, maunya gitu. Adek tidak masalah. Istri itu ikut suami." Mila memandang suaminya lekat-lekat. Ada kemantapan dalam setiap ucapan yang keluar dari bibirnya.
"Aku ingin seperti ummi, walaupun berpendidikan tinggi, tapi lebih memilih mengabdikan diri pada suaminya, aku ingin menjadi seperti mamak, kerja tak selamanya harus meninggalkan keluarga." matanya berkaca-kaca, tak bisa dipungkiri, rasa kecewa pasti ada. Menjadi sarjana tidak semudah yang dibayangkan. Ada suka duka didalamnya. Ada perjuangan panjang saat menyelesaikan semuanya.
"Kalau gitu, bagaimana kalau adek belajar sama mas? adek mau belajar bahasa Arab, mau belajar ngaji al-qur'an juga, kali aja Mila bisa menghapal seperti mas. Mas mau kan, ajarin Mila?"
Laki-laki disebelahnya hanya bisa menyunggingkan senyum termanisnya. Tak salah aku memilih istri.
\=\=\=\=\=
Perempuan paruh baya berjalan memegang dua buah paper bag, dia amat sangat beruntung mendapatkan majikan sebaik mereka.
"Terimakasih,Neng. Sudah repot-repot belikan saya ini." ucap bi Lastri memegang dua kantung cantik berisi beberapa hijab, tasbih dan juga baju gamis pria. Mila sengaja membelikannya untuk suami istri yang menjaga rumah mereka. Mila tidak menganggap bi Lastri dan suaminya seperti orang lain. Mereka itu keluargaku disini, begitu yang sering ia katakan.
__ADS_1
Bi Lastri meletakkan bingkisan itu diatas meja didapur dengan hati-hati. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya yang tadi terhenti karena dipanggil sang majikan.
"Masak apa ya enaknya, Bi?" ucap Mila tanpa melihat bi Lastri yang tengah mencuci piring. Mila membuka kulkas melihat ada sayuran dan ikan apa saja yang masih ada didalamnya.
"Kok, rasanya pengen makan yang segar-segar ya, ada asemnya ada pedasnya juga. Hm...." ucap Mila pada dirinya sendiri.
"Bibi, bisa tolong belikan saya ikan mas dipasar?, saya mau buat arsik."
"Baik,Neng. Bibi akan belikan, bibi boleh menyelesaikan ini dulu,neng." ucap bi Lastri sopan menunjuk tumpukan piring dengan jempolnya.
"Iya,Bi. Silahkan, saya juga mau buat catatan belanja yang harus bibi beli nanti," Mila duduk di meja makan dengan buku kecil dan pena ditangannya.
\=\=\=\=
"Hm... mantap!" ucap perempuan itu puas dengan rasa masakannya.
"Nanti kita makan sama-sama ya,Bi!" ucapnya ramah mengajak bi Lastri makan.
"Aduh,Neng. Bibi jadi tidak enak."
"Loh, gak enak kenapa? kalau bibi nolak, berarti bibi anggap Mila ini orang lain. Lagipula, gak enak makan sendiri bi, Mas dzaki pulangnya sore. Ya, bi. Ya... ya... temani Mila makan." rayunya.
"Baik, neng."
Mereka berdua makan dengan lahapnya, sesekali terdengar suara mereka berbincang disela-sela menikmati santap siang. Arsik ikan mas, dengan tumis kacang panjang. Perpaduan yang pas dilidah Mila, tapi agak sedikit aneh dilidah bi Lastri. Rasa andaliman masih sangat asing dilidah wanita paruh baya itu.
"Neng, gemukannya." ucap bi Lastri
"Iya, Bi. Beberapa hari ini, Mila maunya makan terus!, tapi gak semua makanan. Mila sekarang jadi pilih-pilih bi. Kalau lagi mau, ya dimakan. Kalau enggak mau, iangan coba-coba, muntah jadinya."
"Neng, hamil?" tanya bi Lastri memastikan.
Deg
Mila menghentikan makannya. Dia mencuci tangannya didalam bowl kecil yang sudah disediakannya di meja.
"Apa iya, bi. Mila sudah lama tidak test, mas tidak mengijinkan. Katanya nanti saja kalau sudah terlambat datang bulannya. Tapi ini kan memang belum jadwalnya datang. Apa bisa hamil, bi?"
"Bisa aja,neng. Mungkin setelah neng selesai haid bulan kemaren langsung jadi!" jawab bi Lastri antusias.
"Semoga saja ya, Bi" ucap Mila pelan, rasa itu kembali datang, harapan yang tak putus dipanjatkannya dalam do'a disetiap sujudnya.
__ADS_1