Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Semangat


__ADS_3

Pantas saja, gak enak perasaanku dari semalam, rupanya kenapa kalok aku tau kau sakit! gak mau kau rupanya ku doakan. Awas saja kau ya, ku jitak kepalamu itu nanti!" Juna menurunkan kopernya dari atas lemari. Memasukkan beberapa baju, mukena beserta sajadah kecilnya. Juna melirik jam dinding, sudah pukul enam kurang sepuluh. Dia terlupa sesuatu.


"Astaga, aku belum sholat subuh!" umpatnya, seketika berlari mengambil wudhu kembali.


Shalat subuh kali ini, begitu khidmat. Do'a setulus hati terucap dari bibir Juna, mengharapkan kesembuhan sahabatnya.


Beberapa saat kemudian, dia masuk kembali untuk mandi. Satu jam kemudian dia sudah berada di meja makan, dengan gawai yang sedari tadi ada di tangannya.


"Halo, papa! Juna pergi dulu beberapa hari ya, Pa! Mau kerumah sakit. Kawan Juna sakit!" ucapnya cepat bebas hambatan.


"Kawanmu dimana?" terdengar suara dari seberang sana, Juna mematikan sambungan teleponnya. Kemudian menekan icon berwarna hijau dengan logo telepon didalamnya. Dia mengetik dengan cepat, kemudian menekan gambar berlogo pesawat kertas. Tak lama teleponnya berdering.


"Sudah sampai, Pak?" tanyanya saat sudah mendengar kata "Halo" dalam benda pipih yang di tempelkan ditelinganya.


"Oke, sebentar!" ucapnya mengakhiri panggilan. Menghabiskan roti ditangannya kemudian menengguk susu yang tinggal setengah gelas.


"Bunda, Juna berangkat! Assalamu'alaikum!" ucapnya mencium punggung tangan bundanya yang baru saja datang ke meja makan.


"Loh! udah izin Papa belum, Nak? Kalau papa tanya nanti bunda bilang apa? sudah bilang sama pak dokter juga?" dengan cemas Cindy mengantar anak gadisnya itu sampai menemui taxi yang sudah berada didepan rumahnya.


"Sudah bunda! Sudah semuanya. Bunda tenang saja!"


"Teman yang sakit dimana, Nak? Kok bawa koper segala?" berusaha menggali informasi sebanyak mungkin, takut kalau-kalau suaminya marah membiarkan anaknya pergi tanpa tau kemana tujuannya.


"Ke Malaysia, bunda! Assalamu'alaikum." ucap Juna menaikkan kaca mobilnya dan mengucapkan kata "Jalan, Pak" kepada driver.


"Ya ampun! Malaysia." Cindy terkejut mendengar ucapan anak sambungnya itu. Mau bagaimana lagi, tak mungkin dia mengejar dan menghentikan taxi yang sudah melaju jauh dan sudah tak terlihat lagi.


"Wa'alaikumsalam!" ucapnya putus asa. Apa yang harus dikatakannya kepada suaminya nanti.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Pesawat terbang mengudara tinggi diatas awan, maskapai plat merah itu sudah berjalan setengah dari tujuan, hanya tinggal beberapa menit lagi, penumpang akan bisa menginjakkan kakinya menapaki tanah tempat berdirinya Fort Cornwallis benteng tua yang berdiri pada zaman kekuasaan Inggris itu.


Sepasang suami istri dengan dua anak laki-laki yang masih kecil telah bersiap untuk turun. Satu diantara anak kecil itu masih dalam gendongan ibunya yang berjalan hati-hati menuruni tangga pesawat.


"Mom, bude rumahnya disini?" tanya anak yang sedari tadi menunggu dibawah tangga.


"Bukannya kata mommy Hafiz itu tinggalnya di Malang! lalu kenapa kita ke Penang?" tanyanya antusias, umurnya memang masih belum sampai lima tahun, tapi kecerdasannya bisa diacungi jempol.


"Iya, sayang. Bude sedang sakit! Kita kesini mau jenguk. Mommy tidak tenang, mom mau melihat bude langsung!" ucap Aisyah menjelaskan kenapa mereka berada disana saat ini, dengan sabar.


"Ayo, cepat. Ahmad sudah ada diparkiran!" Erwin mengambil si kecil Tio dari gendongan Aisyah. Sementara Malik mengikuti langkah Papinya dengan sedikit berlari.


"Kita tunggu Juna sampai saja, ya! Baru kita kerumah sakit sama-sama." ucap Ahmad begitu Erwin dan keluarganya sampai menemuinya diparkiran PIA.


Didalam Taxi


"Is, kenapa lah tadi aku bilang sama dia ini! Haduh, udah macam tahanan kota aja aku dibuatnya!" Juna memukulkan benda pipih ditangannya ke kepalanya yang terasa di penuhi dengan kekesalan.


Tring, bunyi notifikasi pesan di handphonenya.


"Aku sudah di bandara!" tulisan dalan pesan itu di baca Juna dengan membelalakkan matanya. Pesan yang dikirimkan oleh seorang laki-laki dengan nama kontak Dokter Cinta itu berhasil membuat kekesalan yang tertahan tersalurkan melalui jeritan.


"Aaaaa!" jerit Juna menghentikan tiba-tiba taxi yang ditumpanginya.


\=\=\=\=\=


Kamar rumah sakit kini sepi, hanya ada pasien yang duduk di atas brangkar. Dengan buku yang ada di pangkuannya, juga pena yang kini berada di tangan kanannya. Ada rasa bosan di lubuk hatinya. Ingin rasanya ia pergi meninggalkan ruangannya itu, walau hanya sekedar berkeliling mengganti suasana saja. Maklumlah sudah lebih dari empat hari dia hanya diam diatas brangkar.

__ADS_1


"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya."(HR. Bukhari dan Muslim).


Hadits itu menguatkannya, memberikan semangat menerima semua takdir dari yang kuasa. Takdir Allah untuknya diterimanya dengan ikhlas. Semoga dosa-dosanya berkurang dengan keadaan ini.


Pintu kamar terbuka, Mai masuk dengan membawa satu bungkus makanan, disusul Hafiz dengan Ana.


"Loh, kenapa Hafiz tidak ikut Abi shalat Jum'at?" tanya Mila mendapati anaknya yang ikut menjenguknya.


"Abi gak ada datang, Umma!" jawab Hafiz menjelaskan, memang benar Dzaki tidak mampir ke penginapan untuk menjeput Hafiz shalat berjamaah.


"Tadi Abi buru-buru berangkatnya. Kan tadi Abi sudah telepon nenek!" Ana membantu menjelaskan.


"Oh, ya sudah. Tadi, Abi pergi dari sini memang sudah "ngaji" di mesjid. Sinilah peluk Umma, umma rindu sekali!" Mila menarik tangan Hafiz, memeluknya. Tangan kanannya terasa tertusuk, cairan merah terlihat sedikit naik dari selang infus yang tadinya tampak bening.


"Auw!" Mila meringis, menahan sakit.


"Hati-hati! kalau pakai infus gitu, jangan lasak, bedarah kan jadinya!" Mai mengurut tangan kanan Mila mencoba meringankan sakitnya. Lalu tak sabar, memanggil suster jaga yang ada di seberang ruangan Mila karena darah sudah mulai memberikan perubahan warna pada kain pembalut jarum infus ditangan Mila.


"Mak, Mila mau makan!" ucapnya dengan intonasi suara yang mulai normal, seperti sediakala. Ajaib, karena semangat untuk sembuhnya sedang memuncak sehingga memeberikan efek positif pada tubuhnya. Sakit di lehernya mulai berangsur membaik.


"Iya, mamak buat kan Ya! Ini mamak bawa nasi lemak." Mai membuka satu bungkus nasi yang tadi di bawanya, meletakkannya dipiring dan memberikannya pada Mila. Hem, wanginya. Mila mencium harum nasi lemak yang dibungkus dengan daun pisang.


"Alhamdulillah, Allah mengabulkan do'a kami. Semoga ini pertanda baik, semoga anak hamba bisa kembali sehat seperti dulu lagi!" Do'a Mai dalam hati, begitu senangnya melihat Mila yang makan dengan lahapnya.


Hafiz yang duduk diatas brangkar di depan ummanya pun tampak senang melihat ummanya yang tak kesakitan lagi menelan makanannya.


"Hafiz, sayang umma. Umma makan yang banyak, Ya. Biar cepat sehat!" ucapnya menyunggingkan senyum tulusnya. Mila tersenyum memandang wajah ganteng anak laki-lakinya.


"Iya, Nak! Umma harus sembuh!" semangat Mila dalam hati.

__ADS_1


Ketika kita sakit, Allah tarik tiga perkara. Pertama Allah cabut keceriaan di wajahnya. Kedua Allah cabut selera makannya. Ketiga Allah cabut dosanya. Setelah sembuh Allah kembalikan semuanya kecuali Dosa.


__ADS_2