Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Kejutan


__ADS_3

Dua laki-laki sebaya tengah asik bercerita terkadang tawa keduanya terdengar pecah. Sahabat yang sudah hampir 3 tahun tidak bertemu itu saling bertukar cerita, berbagi pengalaman. Untung saja mereka bercerita di dalam mobil. Kalau seandainya mereka bercerita disebelah emak-emak yang sakit gigi udah habis mereka.


" Eh.. betulnya Zain adekmu itu dulunya gak mau bekawan sama perempuan? gak mau shalat juga?"


" Betul! eh..tau dari mana kau hah?".


" Kemaren kan Mila jadi pemateri acara seminar Ramadhan, dia cerita masa kecilnya"


" Bah..iyanya, jadi pemateri kok curhat.. haha, memang iya ki, wih.. kok ingat itu aku aih..tak percayala kalok dia bisa jadi macam sekarang ini. Tau kau ki dulu tu dia kalok adzan pasti dikamar mandi, kok tak mandi dia BAB la tu, macam setan aja dia takut sama adzan ". Zain mengingat tingkah aneh adiknya dulu.


" Teringatnya kenapa tadi waktu ditanya kalok ada yang melamarnya pakek syarat lajang ya zain, trus kenapa kok aku macam tesindir ? "


" Itu kau la, kok tesindir kau taula kau apa maksudnya..." belum selesai Zain melanjutkan ceritanya Hapenya berdering.


Suara dari sebelah sana


" Bang... aku dijeput apa enggak, kok enggak biar naek angkot aja aku?"


" Dijeput la..ini udah dekat kami, nunggu dimana kau dek? "


" Aku di perpustakaan umum bang, gak di kampus, dosennya tadi gak masuk! abang kemari la, tau alamatnya kan?" ucap Mila


" Tau la, nanti kami kesana "


\=\=\=\=\=


Gadis itu begitu serius membaca buku. Di atas meja di hadapannya masih ada beberapa buku lagi yang belum dibacanya.


Dari seberang meja perpustakaan yang lumayan lebar tampak sepasang mata yang dari tadi mengamati. Semakin lama dia semakin mendekati gadis yang membaca buku itu.


" Assalamu'alaikum, ustadzah pengganti ustadzah Laiya bukan? yang jadi pemateri kad aula sane haritu! betul tak? "


Gadis itu menutup bukunya. Senyumnya ramah melihat perempuan berbaju kurung khas malaysia dengan jilbab senada.


" Betul..betul..betul, Wa'alaikumsalam. i bukan ustadzah, i cume pengganti je " Jawab Mila


" Ee... boleh cakap Melayu pula " jawab gadis itu heran


" Mestila boleh, tiap-tiap mase tonton upin ipin! adek ni siape? Kenape duduk kad sini?"

__ADS_1


" Perkenalkan name awak Zahira, Iam from Penang Malaysia, i tengah tunggu abang i jeput. Die kate nak bawa i pusing-pusing makan angin, rupe-rupenye die letak i duduk sini, lepas tu die hambus dengan perempuan hah!


eh,. akak macemane mungkin akak ni bukan ustadzah? semalam tu lihay betul nampaknye, macam bukan pengganti la! "


Lumayan bawel ni perempuan fikir Mila


" Betul, saye bukan ustadzah. Saye ni Mahasiswa jurusan Keguruan, lepas kuliah ni nanti jadi cekgu, bukan jadi ustadzah "


" Oo..macam tu, kak... akak dah kawin " Zahira tersenyum serius


" Kenape awak tanye macam tu?, ade nampak macam dah emak-emak aku ni?"


" Eh..tak, bukan macam tu. Zahira nak kenalkan akak dengan abang Zahira. Dia tu kacak la kak, tapi...siape agaknye perempuan tadi tu ye " Zahira bertanya sendiri


Mila mengambil hapenya yang bergetar.


" Halo bang... udah didepan! Oke " Mila mengambil buku di hadapannya


" Em... Zahira senang jumpe dengan awak tapi akak nak balek dulu ya, sudah dijeput tu di depan. Assalamu'alaikum "


Mila merasa lega, saat Zahira mengoceh panjang lebar tadi Mila mengirim pesan ke Zain minta di telfon agar dia terlepas dari mendengarkan ocehan Zahira.


Dia mengintip dari pintu, dilihatnya Dzaki membuka kaca mobilnya.


" Ustadz yang kemaren!! Ustadz..ustadzah, hm... serasi juge nampaknye" gumam Zahira menyatukan telunjuk kanan dan kiri tangannya.


Mila masuk kemobil sambil menghela nafas. Untung kalian cepat datang fikirnya kalau tidak ai nak jawab macamane lagi, kosa kata bahasa melayu ai dah habis dah. Gumam Mila sambil senyum-senyum sendiri.


" Astaghfirullah...Mila belum sholat Ashar bang! "


" Kok bisa dek! " tanya Zain


" Tadi gak liat-liat jam, gak dengar adzan juga kan ruangan perpusnya kedap " jawab Mila


" Bang Dzaki, boleh berhenti sebentar ke mesjid?" ucap Mila memberanikan diri


" Boleh, di mesjid besar sana saja ya dek," Dzaki menunjuk kedepan menara mesjid Ahmad Bakrie terlihat tinggi menjulang. Mesjid kebanggan di kota kecil Mila.


Dzaki memarkirkan mobilnya, dia memandangi sekeliling. Beberapa tahun lalu waktu aku disini, mesjidnya masih gersang pohon-pohon masih baru ditanam. Sekarang sudah sangat rindang bisa dijadikan tempat berteduh gumamnya

__ADS_1


\=\=\=\=


" Zain kalou ada masalah datang ke travel aja ya, besok ana harus ke Malang mungkin Lebaran tidak akan pulang lagi, tolong bilangkan ayah ya Zain ana serius kalau ayah setuju lebaran haji ana kemari sama buya dan ummi. Selamat beribadah umroh ya, do'akan aku " Dzaki pamit


Zain menganggukan kepalanya


" Terimakasih bang Dzaki, Maaf merepotkan " ucap Mila


" Tidak merepotkan kok, Assalamu'alaikum"


Mereka berdua masuk kedalam rumah. Setelah mengucap salam semuanya sudah berkumpul di Meja makan. Zain langsung menuju dapur sedangkan Mila masuk kedalam kamarnya


" Kok Arif gak diajak buka puasa disini aja Zain?" tanya Arpin


" Buru-buru dia yah, besok dia harus pulang ke Malang "


Zain menunjukkan map yang berisi beberapa lembar kertas kepada Arpin.


" Ini untuk ayah dan mamak, coba ayah baca! " ucap Zain


Arpin membuka map dan membacanya


SURAT PENDAFTARAN PERJALANAN UMROH


Dilihatnya dilembar pertama ada namanya, lembar kedua nama istrinya yang ketiga dan ke empat nama anak dan menantunya. Allaahu akbar... kita mau umroh Mak, kita mau umroh! ucap Arpin sangat senang tak terasa air matanya jatuh


Mai yang tengah menyiapkan hidangan untuk buka puasa menghampiri Arpin.


" Kenapa bang? "


Arpin memberikan map itu kepada Mai


Mai membacanya kemudian memeluk Zain, Allahu akbar, terimakasih nak..terimakasih!


Zain dan Maya pun ikut menangis menyaksikan kebahagiaan ayah dan mamaknya.


Malam itu malam yang paling indah bagi Mai dan Arpin tak pernah mereka bayangkan sebelumnya mereka akan pergi ke tempat suci. Keinginan itu pasti ada tapi kemampuan yang belum ada, bahkan mungkin tak akan pernah kesana fikir mereka.


Walau berjuta-juta uang kita berikan kepada orang tua kita, walau seberapa besar rumah kita bangunkan untuk mereka. Jasa mereka tidak akan pernah bisa kita bayar, jasa mereka tidak akan pernah kita lunasi kalau jasa itu kita artikan dengan hutang.

__ADS_1


Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayaani soghiro


__ADS_2