
Tiga tahun berlalu, seorang dosen menjinjing tas hitam, baru saja masuk keruangan nya setelah selesai mengajar. Gedung berwarna hijau itu kini menjadi tempatnya membagikan semua ilmu yang di milikinya. Ya, Dzaki mengajukan mutasi, dia sekarang mengajar di salah satu kampus negri di kota kelahirannya.
Sembari menyelesaikan berkas-berkas yang diperlukan dia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing, diambilnya Frame foto satu-satunya yang ada di mejanya.
"Kenapa kau selalu malu-malu saat berfoto bersamaku, Sayang!" Menatapnya penuh rindu. Foto yang diambil saat pertama kalinya mereka pergi berdua setelah sah menjadi suami istri.
"Sebentar lagi kami datang, Umma!" ucapnya meletakkan bingkai foto tersebut lalu mengambil benda pipih yang masih berada di dalam saku celananya.
"Assalamu'alaikum, Mi! Dzaki langsung berangkat saja, Ya!" ucapnya setelah telepon itu tersambung.
"Dzaki saja yang menjemput Hafiz di sekolahnya!" ucapnya lagi. Kemudian bergegas meninggalkan ruangannya.
\=\=\=\=\=
SD IT An-Naba' Medan, Laki-laki kecil tampak duduk sendiri di kursi tunggu yang ada di dalam kantor. Begitulah kebiasaan di sekolah tempat Hafiz menimba ilmu. Jika wali belum datang menjemput siswa di wajibkan menunggu di ruang guru. Demi menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Assalamu'alaikum, maaf ya, Abi terlambat!" Dzaki sudah berada di depan Hafiz yang tak menyadari kedatangannya.
"Wa'alaikumsalam, tak apa-apa, Abi!" Hafiz berjalan menghampiri Abinya, memeluknya dan menggandeng tangannya.
"Ayo kita pergi, Abi! Hafiz mau setoran hafalan ke Umma!" ucapnya menarik tangan Abinya tak sabar.
\=\=\=\=
Bandara internasional Kuala Namu, Medan. Arpin dan Mai, juga buya Latif dan Ana sudah ada di dalam satu pesawat yang sama. Umroh kali ini terasa menyenangkan karena kedua keluarga yang dipersatukan dengan ikatan besan itu pergi bersama-sama. Mereka tampak sumringah tak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuan mereka, baju seragam yang mereka kenakan juga tanda pengenal berwarna kuning yang terikat dileher mereka seperti kacu saat kegiatan pramuka dulu, menambah indah keseragaman para jamaah umroh dari travel yang dimiliki buya Latif.
"Apanya lagi yang kita, tunggu besan!" Mai membuka pembicaraan.
"Sebentar lagi, mak Zain! masih ada tiga jamaah lagi!" Ana menjelaskan. Karena titik kumpul mereka sepakati ditempat mereka berdiri saat ini.
"Nah itu mereka!" Ana menunjuk kearah selatan, tampak dua orang laki-laki dan satu perempuan melambaikan tangan mereka, setengah berlari memasuki kumpulan jama'ah.
"Aih, amang ikutnya kau! kau pun juga ikut!" ucap Ana yang terkejut melihat kedua anak laki-lakinya dan juga menantunya adalah orang yang di tunggu kehadirannya. Zain, maya dan juga Nando. Ikut berangkat ke tanah suci, sedangkan Husna dan Amira tidak bisa ikut karena keduanya dalam kondisi hamil tua.
\=\=\=\=
Hafiz menyelesaikan hafalannya, bergandengan tangan dengan Abinya.
Menatap nanar gundukan tanah yang hanya ada satu bongkah batu di hadapannya. Tak ada nama yang tertulis atau tanda apapun.
"Umma, Hafiz sudah hafal lima Juz umma! Umma bangga kan? Hafiz rindu Umma!" ucapnya memegang Foto yang selalu ada di dalam tasnya.
Flashback on
__ADS_1
Arpin mengambilnya, mengucap kata Halo berulang-ulang. Yang terdengar hanya suara terisak.
"Halo besan! ada apa? kenapa semua menangis?" Arpin tampak bingung.
"Maaf besan, ini sudah takdir Allah!" buya Latif mengucapkan kata-kata yang tak pernah terbayangkan oleh Arpin.
BRUUK
Bagai tak berpijak di bumi, Tubuh tegap Arpin jatuh. Benda pipih yang dipegangnya pecah berserakan di lantai. Semua orang berlari menuju asal suara, dan sontak tangisan semakin pecah. Hafiz, Malik dan Tio menyaksikan dengan wajah kebingungan.
Aisyah memeluk mereka semua, Hafiz yang tak tau apa-apa juga ikut menangis. Ada rasa sedih dihatinya seperti kehilangan hal yang penting tapi dia tak tau itu apa.
Mobil yang ditumpangi Juna pun sampai.
Melihat pemandangan yang tak lazim di hadapannya ia pun mendekat tanpa mengucap salam karena sangat panik.
Erwin terduduk lemas di sudut ruangan dengan Tio yang masih belajar berdiri di sebelahnya.
"Ada apa ini, Win?" tanya Juna takut, tak siap mendengar kabar.
"Kak Juna, mba Mila udah gak ada!" Aisyah datang menghampiri Juna mengucapkan kata-kata yang tak mau di dengarnya. Hafiz masih memeluk kaki Aisyah. Tangisnya semakin pecah saat tau apa alasan dia ikut menangis. Ternyata dia sudah kehilangan Ummanya.
Tangis pilu semakin pecah, Juna terduduk lemas tak percaya mendengar kenyataan. "Pantaslah kau doakan pernikahan ku, sebelum waktunya, Mila!" gumamnya mengenang doa pernikahan yang di ucapkan Mila sewaktu mereka menjenguknya.
Bendera kuning tertancap di depan rumah Arpin, banyak pelayat yang datang memberikan ucapan bela sungkawa.
\=\=\=\=
Mekkah.
Rumah sakit makkah Tibbi, dibantu jamaah lainnya Dzaki membawa Mila yang sudah tak sadarkan diri. Meletakkannya diatas brangkar dan masuk kedalam ambulance.
Sirine Ambulance begitu menyayat hati laki-laki yang masih memakai pakaian ihram itu. Tangannya terus memegang tangan istrinya yang tampak pucat. Matanya menatap sendu wajah istri manisnya tersebut.
"Mas, perut adek sakit sekali!" Mila memegang tangan Dzaki yang mendorong kursi rodanya. Dzaki menghentikan langkahnya, beralih kedepan menghadap istrinya yang sangat kesakitan.
"Mas!" tatapnya.
"Allah!" kata terakhir yang di ucapkannya. Tubuh itu jatuh ke dekapan Dzaki tak sadarkan diri.
Pintu Ambulance terbuka, menyadarkan Dzaki dari lamunannya.
"Tolong istriku, tolong istriku!" ucap Dzaki yang turun lebih dulu, membantu para medis membawa tubuh istrinya yang semakin kaku.
"Tenang, Adik. Tenangkan dirimu. Berdoalah yang terbaik untuknya!" ucap salah satu jama'ah yang ikut mengantar.
__ADS_1
"Ya, Allah... selamatkan istri hamba ya Allah!" Dzaki duduk bersimpuh di lantai di depan ruang IGD.
Jamaah Umroh yang ikut mengantar tadi memberikan sling bag milik Dzaki yang tadi tertinggal dibawah kursi roda.
"Hubungilah keluargamu. Minta doa dari mereka!" Dzaki mengambil sling bag nya.
Dengan menahan tangis benda pipih itu sudah menempel di telinganya.
"Halo, Ummi...."
\=\=\=\=\=
Walaupun raga telah terpisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap akan tersimpan secara abadi di relung hati. (Bacharuddin Jusuf Habibie)
Kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya. (Jalaluddin Rumi)
Sakit bukanlah jaminan untuk kita mendekati maut, sehat bukan berarti menjauhkan kita dari kematian. Takdir dari sang penguasa kehidupan lah yang menentukan segalanya.
Izinkan aku kembali kesini walau untuk yang terakhir kalinya ya, Allah!" ucapnya dulu saat dia pertama kali menginjakkan kaki di tempat suci tersebut. Do'a Mila terkabulkan, beserta bonus yang ia dapatkan meninggal di tanah suci dalam keadaan suci dan dalam melaksanakan ibadah suci.
Jika seorang istri meninggal dunia dan suaminya rida kepadanya, pasti ia masuk surga." ( Hadits riwayat At-Tirmidzi).
"Dengan setulus hatiku, aku meridhaimu. Istriku!" ucap Dzaki setelah selesai mendoakannya. Berjalan bergandengan tangan dengan Hafiz, meninggalkan makam soraya dengan penuh ke ikhlasan.
"Nenek!" Hafiz berlari melepaskan pegangan tangan Abinya berhambur kepelukan Mai yang berjalan paling depan dari rombongan yang ada dibelakangnya.
"Sudah hilang rindunya?" tanya Mai.
"Rindu Hafiz tak akan pernah hilang sebelum berkumpul lagi dengan Umma! Hafiz akan terus menghafal Al-Qur'an biar nanti saat ketemu Umma lagi, umma bangga sama Hafiz!" ucap Hafiz melihat foto umma yang dipegangnya.
"Kami merindukanmu, Umma!"
TAMAT
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih kepada teman-teman yang sudah mau kasi like, komen dan juga rate ya, Semoga ada pelajaran yang bisa di ambil dari setiap episodenya. Maaf kalau ada kata -kata Author yang kurang berkenan ketika membalas komentar dari para pembaca sekalian. 🙏🙏