
Malam itu dingin sekali, karena tadi hujan turun cukup lama. Rumah itu gelap, hanya lampu teras yang menyala. Semua penghuninya sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Mila menarik selimutnya. Udara yang dingin membuat beberapa orang menjadi sering buang-buang air, tak terkecuali Mila. Dengan malasnya ia keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Di rumah itu hanya ada satu kamar mandi.
" Hah... masih jam 03.45 " Mila melihat jam diruang tengah sambil menguap
" Haaaa... jam setengah empat lewat!" Jerit Mila
" Maak... kesiangan kita " belum sempat Mila berlari bermaksud membangunkan Mai kakinya berhenti mendapati mamaknya sedang Shalat beberapa meter dari tempatnya berdiri.
\=\=\=\=
" Bagaimana tadi hasilnya bang? " perempuan itu bertanya sambil menata makanan dimeja
" Sepertinya sudah ada yang punya " Jawab laki-laki itu.
" Selagi janur kuning belum melengkung, masih boleh la usaha " ucap Amira sambil menarik kursinya
" Hm... Kita lihat saja nanti! " jawab laki-laki itu menghela nafas
\=\=\=\=
__ADS_1
Mila mengambil mushabnya, dia membacanya perlahan sambil mentadabburi makna demi makna dari ayat yang dibacanya.
Pagi itu Mila merasa sangat mengantuk. Tak biasanya dia tidur setelah Shalat Subuh.
Sekali-sekali tak apalah fikirnya. Dia membaringkan badannya di kasur masih menggunakan mukena. Mila pun tertidur
Labbaikallahumma labbaik...
Labbaikalaa syarii kalakalabbaik...
Kalimat Talbiah itu berulang-ulang di sebutkannya, matanya berkaca-kaca tak percaya bahwa saat ini dia berada di tempat suci, tempat yang selalu di rindukan ummat muslim sedunia.
Tangannya menggenggam erat tangan laki-laki yang berada begitu dekat dengannya. Mata laki-laki itu begitu teduh, badannya yang tinggi membuatnya merasa terlindungi dari banyaknya orang yang tawaf seperti mereka. Senyumnya begitu menyejukkan, membuat siapa yang melihatnya terpesona.
Laki-laki itu tidak berkata apa-apa, tapi perhatian yang diberikannya kepada perempuan itu mengartikan ada cinta yang sangat besar dihatinya.
Perempuan itu mengambil gelas yang di berikannya. Terimakasih ucapnya. Laki-laki itu lagi -lagi tersenyum.
Kok... tiba-tiba hujan, perempuan itu berdiri dan melihat keatas. Ini air apa? kan kita dalam ruangan beratap fikirnya
" Mila...mila " Mai memercikkan air
__ADS_1
" Astaghfirullahal 'adzim... " ucap Mila
" Mimpi rupanya " ucapnya lagi
" Mimpi apa kau? " tanya Mai
" Gak apa-apa kok mak, cumak mimpi biasa aja, kelamaan tidur aku " Mila menggaruk pipinya yang tak gatal.
" Kuliah apa tidak kau hari ini? kalau iya cepat la kau mandi. Si Arif udah datang itu kata abangmu nanti kau diantar saja sama dia " ucap Mai panjang lebar
" Aku mak..sama bang Arif, siapa bang Arif tu mak? " Mila hendak keluar melihat orang yang dimaksud mamaknya
" Arif itu anak buya yang punya pesantren itu, semalam kan kemari dia "
" O, bang Dzaki "
" Halah.. Arif kah, Dzaki kah, satunya orangnya!, cepatla kau mandi sana. Nanti lama orang tu menunggu "
" Iya mamak ku, kenapa pala diantar aku kuliah, biasanya aku pigi sendiri mak! " jawab Mila menarik-narik tangan Mai
" Mana la mamak tau, abangmu yang mengajak tadi! " jawab Mai keluar dari kamar
__ADS_1
Ada apa ini fikir Mila. Mimpiku tadi... bang dzaki.. di Makkah. Mila duduk di kasurnya sambil mengingat-ingat mimpinya. Pipi memerah.