
Laki-laki jangkung di ruangan bercat biru, sedang duduk dimeja kerjanya,netranya fokus menghadap laptop.
Beberapa hari belakangan ini, Dzaki jarang pulang kerumah tepat waktu. Jangankan untuk makan siang, kadang makan malam pun terlewatkan. Entah apa yang dikerjakannya, sampai segitunya lupa punya istri yang selalu menunggu moment makan bersama.
Derrrttt... Derrt....
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, sudah makan, Mas?"
"Belum, sebentar lagi. Lagi tanggung... nanti kalau sudah selesai mas makan."
"Oh... iya. Mas, adek boleh izin kekampus? ada liqo' hari ini, sudah lama juga adek gak ketemu teman-teman, boleh ya mas?"
"Boleh, tapi gak usah naik motor. Naik taxi saja. Nanti biar mas jemput pulangnya. Kabari mas kalau sudah selesai liqo' nya."
"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."
Direbahkannya lagi badannya dikasur empuk itu.
"Hah... ternyata begini jadi ibu rumah tangga. Bosan juga ya, apalagi nanti kalau sudah punya anak, terus gak bisa kemana-mana dong." celoteh Mila
Deg... Mila mengingat kata-kata bi Lastri kemaren, apa iya?, beberapa hari ini aku sudah tidak merasa mual lagi sih, perobahan pada badanku memang benar, aku semakin gemuk. Mila berdiri menatap dirinya dicermin.
"Mau beli test pack, takut nanti Mas marah. Kalau begitu aku kedokter saja deh." Mila mengambil gawainya diatas nakas, memesan taxi online. Sebelumnya dia membersihkan diri terlebih dahulu.
Gamis berwarna putih gading dengan jilbab hitam terang, menjadi pilihan perempuan didepan kaca itu.
"Al-qur'an... ada, hape... ada, charger... ada, powerbank... ada, hahah... dompetnya belum ada!" Mila memukul keningnya pelan, untung dia memeriksa tasnya terlebih dahulu, kalau tidak kasihan sekali supir taxinya kalau dia minta bon.
\=\=\=\=
Dokter Rahajeng SpOg, Mila membaca papan nama didepan pintu tempat praktek dokter kandungan. Beberapa orang yang hampir semua berperut buncit sudah duduk di kursi yang sudah disediakan pihak klinik.
"Mau periksa,Mba?" tanya susternya ramah.
"Iya, saya mau periksa."
"Mba nya hamil?"
"Gak tau, makanya kesini biar tau!"
"Sudah cek, mba?"
"Belum!"
"Haid terakhir kapan ya,Mba?"
"Satu bulan yang lalu sepertinya, harusnya sudah dekat-dekat nih, tapi belum datang. Tapi memang saya haidnya gak normal."
"Ada keluhan lain?"
"Ada, sering mual muntah. Tapi tiga hari yang lalu, Mba. Sekarang sudah enggak."
"Oh... mba silahkan duduk, sabar ya mba, yang antri sudah lumayan ada walau gak banyak. Mbanya tolong nahan pipis ya, biar nanti kelihatan waktu USG."
__ADS_1
"Kok,gitu?"
"Iya,Mba. Kalau mbanya hamil. Baru tidak perlu nahan pipis, karena sudah pasti kelihatan."
"O, oke!"
Mila duduk disebelah ibu muda dengan perut yang sangat besar dari ukuran biasa, mungkin juga karena si ibu muda tadi berbadan mungil. Usianya diperkirakan lebih muda dari Mila.
"Kembar ya,mba?"
"Hehe... Alhamdulillah, iya mba. Kembar tiga!"
"Wow... ya Allah, pantas besar sekali perutnya. Semangat mba, pahala ibu hamil melimpah." ucap Mila menyemangati, disusul senyuman dan jawaban terimakasih dari si ibu hamil.
\=\=\=\=
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka waatubu ilaihi.
Doa kafaratul majlis dibaca bersama-sama, diakhiri saling berjabat tangan dan berpelukan. Majlis liqo' sudah selesai.
"Alhamdulillah, Mila mau datang. Ukhti rindu, sejak selesai kuliah terus gak pernah ikut pengajian lagi." ucap Cici menepuk pundak Mila yang sedang memegang gawainya.
"Iya,ukhti. Ana juga rindu, sudah lama ya kita tidak bertemu. Terakhir liqo' beberapa bulan lalu, sebelum acara wisuda." Mila memasukkan gawainya kedalam tas, tak sopan rasanya, ada yang mengajaknya berbicara tapi dia hanya fokus ke gawainya saja.
"Oh, ya. Ini buat Ukhti!" Mila memberikan minyak wangi bertuliskan hajar aswad.
"Biasanya ini oleh-oleh dari Mekah, dek."
"Iya, ukht... ini dari Mekah."
"Hampir mirip lah, mba. Tapi kalau disana yang paling tercium itu bau Kiswahnya."
Pembicaraan mereka terhenti, ponsel Cici berdering.
"Iya, Bi. Assalamu'alaikum. Oh... iya, Umma kesana ya. Menangis? iya... iya, sabar ya nak, Umma jalan nih!" Cici memasukkan gawainya kedalam tas, memakai sepatunya.
"Afwan, dek. Ukhti duluan ya, Suami dan anak ukhti sudah menunggu didepan. Assalamu'alaikum." Mila mengangguk, menjawab salam. Mengikuti arah Cici berjalan, ia menatap punggung itu sampai menghilang dari pandangannya.
Jam lima sore, belum ada tanda-tanda suaminya datang. Mila memutuskan untuk berjalan menuju bangku panjang mirip halte, dibawah pohon sebelah masjid. Biasanya sewaktu kuliah memang dia menunggu suaminya disana kalau kebetulan tidak membawa motor.
Sebelum sampai ketempat tujuan netranya menangkap mobil yang barusan melintas beberapa meter dari hadapannya. Dia tanda itu mobil siapa.
Mila menghampirinya dengan sedikit tergesa, karena takut suaminya menunggu lama.
"Mas...." ucapnya setengah berlari, menghampiri mobil suaminya yang sudah berhenti diparkiran kampus.
Pintu belakang mobil terbuka. Hampir bersamaan dengan pintu Dzaki.
"Siapa yang bersama mas Dzaki," ucapnya dalam hati.
"Terimakasih,pak. Sudah mau memberikan tumpangan." wanita bergamis merah dengan perut yang terlihat sedikit membuncit keluar dari mobil suaminya.
"Loh, mas. Kok bisa ada mba Winda?" Tangannya mulai mengepal, mencoba bersikap biasa walau susah.
"Eh... iya, tadi sama-sama dari UIN, sekalian minta antarkan kemari deh." Winda melihat tangan wanita dihadapannya yang sudah bulat terkepal. Matanya terfokus ke perut perempuan itu.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan menikah, Mil? Kok masih belum hamil juga? mba aja udah isi lagi!" senyum kemenangan tersungging dibibirnya, mengelus peritnya sesekali.
Dzaki yang mencoba membiarkan mereka bicara mengambil tindakan.
"Ayo, dek. Kita pulang." ucapnya
Mata Mila memerah, dasar iblis berjilbab. Mau kujahit mulutmu itu. gumamnya dalam hati.
Dreeet... deerrrtt
"Halo, Assalamu'alaikum. Mamak!"
"Iya mak, alhamdulillah sehat, iya mak betul do'akan ya mak, doakan aku dijauhkan dari SETAN-SETAN pengganggu ya,Mak. Iya, tak usah la mak, musrik itu namanya." Mila berlalu melewati Winda yang masih berdiri disamping mobil. Mila menjauhkan gawainya sebentar.
"Mila duluan mba, Selamat sore!" ucapnya sedikit berbisik, kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan mamaknya.
Dzakipun bergegas masuk, tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang tak biasa, terlebih kata SETAN yang barusan diucapkannya.
"Sialan tuh gadis bar-bar, masak aku dibilang setan!" umpatnya sambil berjalan menuju biro Rektor. Winda memang ada keperluan di kampus.
\=\=\=\=\=
"Cerita apa sih, dek? kok bawa-bawa setan segala?" Dzaki membuka suara setelah beberapa menit suasana dalam mobil hening.
"Bukan adek yang bawa setan, tapi mas!"
"Hush!, gak boleh gitu!" sergah Dzaki
"Belain aja terus, pake diantar segala. Istri dibiarin naik taxi!"
"Maaf, tadi ketemu Winda dikampus, ayahnya minta tolong mas, supaya nganterin dia kesini, kebetulan kan mas mau jemput,adek!"
"Udah, mukanya jangan dijelek-jelekin gitu. Nanti hafalannya hilang loh!" ucap Dzaki mengelus tangan istrinya.
"Eh, jangan dong. Jangan ya Allah!" ucap Mila takut, sejak pulang dari perjalanan kemaren Mila memang memulai rencananya untuk belajar bahasa Arab dan menghafalkan Al-qur'an.
"Hm... sekarang ada ucapan jitu, meredakan emosinya!" gumam Dzaki penuh kemenangan menemukan kelemahan sang istri.
"Dek, kita ngebut ya!" ucap Dzaki menambah kecepatan mobilnya.
"Biar apa?, biar nabrak trus adek mati, mas kawin lagi!"
"Ya Allah, ngomongnya loh dek. Mas laper, mas capek! Mas mau cepat sampai rumah, mau istirahat!" Dzaki mulai tersulut emosi.
"Terserah!" Mila memalingkan wajahnya, air perlahan jatuh dari sudut netranya. Tangan kirinya mengelus perutnya yang masih rata yang tersembunyi dibalik tasnya. Jadi Dzaki tidak melihatnya.
\=\=\=\=\=
Jauh di pulau Sumatera, laki-laki paruh baya bersujud, matanya sembab karena menagis. Menangis haru, tangis bahagia.
"Akhirnya ketakutanku selama ini tak terjadi. Terimakasih ya Allah,kabar ini membuat rasa bersalahku sedikit terobati, tolong jaga anak hamba dan janin dalam rahimnya Ya Allah."
"Kasihi ia, berikan ia kasih sayang mu. Berikan kepadanya orang-orang baik disekelilingnya, agar dia tak merasa kesepian karena jauh dari keluarganya, dan disaat-saat ia merasakan lemah yang bertambah-tambah."
Pintu kamar tertutup kembali dengan decit yang hampir tak mengeluarkan bunyi. Perempuan itu menyeka air matanya yang terus mengalir sedari tadi. Saat mendengar do'a-do'a tulus yang dimohonkan oleh suaminya.
__ADS_1