
Keromantisan Dzaki berhasil membuat istrinya jatuh cinta berulang kali. Inilah indahnya cinta yang halal, semua yang terjadi menjadi pahala buat keduanya.
Sudah tiga hari mereka berada di kota suci kedua ummat muslim itu, Madinah al-munawaroh. Entah sudah berapa banyak foto yang diabadikan Dzaki dalam handycamnya. Perjalanan masih menyisakan waktu beberapa hari lagi, saat ini mereka sedang dalam perjalan menuju kota mekkah, tak lupa mereka singgah ke suatu tempat yang wajib di kunjungi.
Tempat itu terletak 11 kilometer dari Masjid Nabawi. Tepatnya sebelah barat Lembah Aqiq. Di sana, sebuah masjid berdiri. Namanya Masjid Bir Ali. Bangunan masjid bernama lain, Masjid Abyar Ali itu tampak seperti benteng perang. Gagah.
Lokasi ini merupakan saksi bisu perjalanan haji Rasulullah Muhammad SAW. Di bawah sebuah pohon, Rasulullah berteduh di tengah perjalanan menuju Mekah. Di lokasi ini pula, sahabat Ali bin Abi Thalib RA menggali banyak sumur.
Menurut catatan sejarah, di lokasi ini, Rasulullah melakukan miqat dan mengenakan kain ihram untuk berumroh. Peristiwa inilah yang akan di ikuti jemaah haji dan umroh di seluruh dunia.
\=\=\=\=\=
Langkah kaki itu berhenti, tepat di depan pintu kamar bertuliskan nomor yang sesuai dengan kartu yang berada di tangannya. Serasa de javu. Dia memalingkan wajahnya menatap suami yang ada disebelahnya yang dari tadi memandanginya, dengan senyum bahagia, dia bersandar didinding koridor hotel yang menjadi icon kebanggan kota Mekah.
Seakan tau apa isi hati istrinya, dia mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya yang tertutup jilbab.
"Kan judulnya Anniversary, selamat datang kembali ke sini!" ucapnya memberikan efek geli, dan panas di pipi sang istri.
Dzaki mendapatkan kamar yang sama seperti dulu saat Mila pertama kali menginjakkan kaki disana. Dia pun membuka pintunya dengan tergesa, mengucap salam dan membuka alas kakinya, menggantinya dengan alas kaki yang sudah disediakan didalam lemari.
Sreeek... tirai jendela terbuka lebar. Mila bersholawat, bahagia. Ya, dia sangat bahagia dan tidak sabar menunggu besok. Tempat paling suci itu kini ada di hadapannya lagi, walau tak bisa menjangkaunya karena saat ini dia ada di lantai 22.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Ketika sesuatu dinanti maka itu akan terasa lama, tapi ketika sesuatu itu dilupakan, tak terasa dia sudah ada disini.
Perempuan itu tak lelap tidurnya, hampir setiap jam dia terbangun. Sementara suaminya tampak lelap di sebelahnya. Mila memeluk suaminya, mencoba mencari kenyamanan disana. Mila memejamkan matanya, cairan bening jatuh dari sudut matanya tanpa ia sadari.
"Ya Allah, bahagiakan suami hamba!" doanya dalam hati. Mengeratkan pelukannya. Ada rasa gelisah dalam hatinya seketika cairan bening tadi jatuh dari matanya.
"Aku menyayangi mu, mas! sangat menyayangimu!" ucapnya lagi, tetap dalam hati.
\=\=\=\=\=
Dzaki terbangun saat alarm di Handphonenya berdering, tangannya meraba mencari keberadaan benda pipih itu diatas nakas. Masih ada rasa kantuk tersisa. Dengan malas dia mendudukkan badannya diatas kasur, berniat menatap istri disebelahnya. Tapi sosok yang paling dicarinya setiap bangun tidur itu, tak ada di tempatnya. Dzaki mengalihkan pandangannya ke semua arah. Manik matanya berhenti di satu titik, istrinya sedang sujud diatas sajadahnya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Sayangku!" ucapnya menghampiri istrinya yang masih berdzikir dengan mata yang terlihat sembab. Morning Kiss kebiasaan yang tak pernah dilupakan Dzaki setiap pagi.
"Adek menangis?" tanyanya, membatalkan niat segera ke kamar mandi. Dzaki duduk bersimpuh disamping istrinya.
"Ini tangisan bahagia, Mas! Terimakasih sudah menjadi suami terbaik dalam hidup Mila. Semoga nanti kita berkumpul di surga." ucap Mila memeluk suaminya.
"Kamu akan menjadi bidadari surgaku yang paling cantik!" ucap Dzaki membalas pelukan istrinya.
"Kok, jadi baperan gini!" Dzaki menyeka air mata yang menetes begitu saja.
"Kenapa aku menangis!" gumamnya menyeka bulir bening itu, agar tak terlihat istrinya.
"Udah dong pelukannya, Mas mau mandi nih! biasanya adek gak mau peluk mas, kalau baru bangun tidur gini!" ucap Dzaki.
"Hari ini, gak Asem kok! wangi!" Mila masih tetap memeluknya, tak rela melepaskannya.
"Lima menit lagi ya, Mas!" ucapnya masih membenamkan wajahnya didada suaminya.
\=\=\=\=\=
"Mila kuat kok, Mas!"
"Apa mau mas gendong aja?" Dzaki memberikan pilihan lain kepada istrinya yang merasa tak nyaman berada diatas kursi roda tersebut.
"...." Mila menggelengkan kepala.
"Kita lanjutkan, ya!" Dzaki mendorong kursi itu, melanjutkan ibadah mereka mengelilingi ka'bah.
"Mas, perut adek kok sakit, ya!" Mila memegang perutnya yang terasa mules.
\=\=\=\=\=
Laki-laki kecil tampak tertidur memegang mainan mobil-mobilan kesayangannya. Ditemani opungnya di sebelahnya. Beberapa hari ini Hafiz berada dirumah keluarga dari ibunya, setelah empat hari berada di kediaman orang tua ayahnya.
__ADS_1
"Umma! Umma!" anak kecil itu mengigau.
"Hafiz, bangun nak! Hafiz bermimpi?" Arpin mencoba membangunkan cucunya yang mengigau.
Mata laki-laki kecil itu terbuka, "Opung, Hafiz rindu Umma!" ucapnya seketika.
"Nanti kita telepon ya, saat ini mungkin Umma dan Abimu masih ibadah!" tutur Arpin menenangkan cucunya yang menagis.
\=\=\=\=\=
"Huh! besok Reuninya pasti gak seru, gak ada Mila! tambah lagi si bodyguard maksa mau ikut lagi, haduh pusing kepala saya!" gumam Juna membereskan undangan yang akan dibawanya besok ke sekolah.
Sepuluh tahun berlalu, acara Reuni yang direncanakan dulu akhirnya akan terealisasi besok. Menjadi salah satu panitia pelaksana membuat Juna tak bisa beralasan untuk tidak hadir. Ditambah teman-temannya yang lain seperti Ahmad dan Erwin sudah meluangkan waktu mereka untuk datang.
Ahmad memang sudah ada di Indonesia beberapa minggu terakhir, karena istrinya Uni memilih, ingin melahirkan di rumah orang tuanya. Sedangkan Erwin memang sudah mempersiapkan tiket kepulangannya jauh-jauh hari untuk datang ke reuni sekolah yang sudah mereka rencanakan kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.
[Kok rasanya aku males datang ya, besok!] @Junaedi
[Iya, aku juga. Mila gak ada, rasanya ada yang kurang!]@Ewinawati
[Jangan gitu la wey, sekali-sekalinya. Mila pun gak datang bukan disengajanya kan! datang la, bini ku yang bunting aja mau ikut lo!]@Memet.
Ketiga teman sekolah itu saling bertukar pesan di grup. Hanya mereka saja yang aktif, sementara 27 siswa lainnya tak ada kabar, termasuk Mila. Tapi mereka tidak mau menggangu ibadah teman mereka itu. Karena satu minggu yang lalu Mila memberi kabar, dia akan berangkat umroh.
.
.
.
.
Happy reading gaes, jangan lupa like dan jejak ya. Vote juga donk biar semangat nulisnya ^_^ 💞💞
__ADS_1