Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Permintaan Maaf


__ADS_3

Perempuan bergamis ungu senada dengan kerudungnya berjalan dengan menggandeng tangan suaminya mesra. Perempuan itu tak berhenti menebar senyum. Bibirnya yang tipis terus melengkung bak bulan sabit. Setiap bertemu suster yang pernah merawatnya ia menjabat tangannya dan meminta maaf, serta mengucapkan terimakasih.


Suaminya memegang handycam mengabadikan moment itu, karena permintaan istrinya. Katanya untuk kenang-kenangan.


"Alhamdulillah, saya sudah sembuh, Zahira!" ucap Mila memeluk Zahira yang baru saja datang kerumah sakit.


Flashback On


Pagi itu Mila dan Dzaki, masuk keruangan dokter Shah. Dengan harap-harap cemas, mereka berdua menunggu hasil dari tes yang dilakukan. Setelah dua hari yang lalu tindakan dibestral terakhir yang dilakukan Mila yang ke empat kalinya selesai.


Dokter Shah, tersenyum senang dengan hasil yang baru dibacanya.


"Alhamdulillah, sel kanker yang ada di otak Mila sudah tak ada lagi. Semoga ini jadi awal yang baik. Selamat adik, jaga kesehatan mu!" ucap Dokter menangkupkan kedua tangannya di dada melihat kearah Mila. Dan mengulurkan tangannya kepada Dzaki.


Flashback off.


"Alhamdulillah, Selamat akak! Ira sangat senang. Jaga kesehatan tau, jangan makan makanan yang tak sihat. Walau dah sembuh, kena jaga baik-baik badan tu!" tangan Zahira memegang kedua tangan Mila. Dia ikut bahagia dengan kabar yang di sampaikan Mila.


"Jadi, bila nak fly ke Malang?" tanya Zahira melihat Dzaki yang datang menghampiri. Dia teringat akan pekerjaan Dzaki, sudah satu bulan lebih mereka disini. Setelah sembuh, mungkin mereka akan segera pulang ke Malang pikirnya.


"Belum tau lagi, mak dengan ayah dan kedua mertua pun kad sini, mungkin balek Medan dulu! lepas tu baru Fly ke Malang." ucap Mila, dia memang belum bisa memastikannya. Di tambah lagi hadiah ulang tahun pernikahan dari Dzaki, akan segera di tagihnya. Karena itulah salah satu penyemangatnya.


Mereka berpisah di depan rumah sakit, Dzaki dan Mila masuk kedalam taxi online yang sudah sampai dan menunggu mereka beberapa menit yang lalu. Zahira kembali memeluk Mila, mengucapkan selamat sekaligus ucapan perpisahan. Mila melambaikan tangannya, tersenyum menatap adik dari sahabatnya yang memakai seragam serba putih itu.

__ADS_1


\=\=\=\=


"Setelah mas pikir-pikir, lebih baik kita berangkat besok atau lusa ke Madinahnya, Dek! Mumpung Hafiz lagi lengket-lengketnya sama mamak dan ummi. Jadi kita bisa meninggalkannya dengan tenang. Mumpung ayah dan buya juga ada disini, jadi nanti mereka pulang ke Medannya, gak cuma bertiga. Bagaimana?" Dzaki memalingkan wajahnya kebelakang, berbicara kepada istrinya yang serius mendengarkan dan tampak berfikir.


"Kalau Ummi dan mamak gak merasa di repotkan, Mila setuju."


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, taxi pun berhenti di depan Homestay tempat keluarga mereka tinggal selama satu bulan terakhir ini. Seorang anak kecil berlari dari kejauhan mendekati Mila dan Dzaki yang baru turun dari taxi tersebut.


"Umma, gendong Hafiz!" teriaknya dari kejauhan.


Dzaki menghadang anak laki-lakinya itu. Badan kurus Dzaki menutup sempurna tubuh istrinya dari pandangan Hafiz. Dengan merentangkan kedua tangannya, menangkap Hafiz yang berontak minta diturunkan, karena sekarang Hafiz sudah berada dalam dekapan Abinya.


"Hafiz, mau Umma! Hafiz, mau Umma!" ucapnya meronta.


"Mas!" Mila yang dari tadi tersenyum melihat tingkah kedua lelakinya pun mendekati mereka. Sedari tadi dia sengaja membiarkannya. Rindu rasanya melihat tingkah polah kedua laki-laki kesayangannya itu.


"Ayo sini, mana yang mau digendong Umma! masih kuat gak ya umma gendongnya!" Mila mengambil Hafiz yang mulai menangis karena kejahilan Abinya.


Mereka bertiga pun berjalan menuju penginapan. Dzaki tak berhenti menjahili Hafiz dalam gendongan ummanya, entah sendalnya di copotlah, sampai menarik kaki anaknya itu. Dia juga mengabadikan momen itu dalam handycam miliknya. Dua wanita paruh baya pun menyaksikan kejahilan anak menantunya tersebut.


\=\=\=\=\=


Penang International Airport, Mila terus memeluk kedua ibunya. Berulang kali memohon maaf dan berterima kasih telah menyusahkan mereka selama mereka berada disini, dan mau repot menjaga Hafiz yang sangat aktif.

__ADS_1


Arpin pun turut memeluk borunya itu, serasa tak ingin melepaskannya pergi lagi.


"Ayah, terimakasih sudah menjadi orang tua terhebat dalam hidup Mila. Semoga ayah dan mamak bahagia dunia akhirat. Maafkan Mila selalu menyusahkan ayah, mamak!" ucap Mila menoleh kepada mamaknya yang sudah ada disebelahnya. Mai pun merasakan hal yang sama seperti Arpin. Ada rasa tak ingin melepas anaknya pergi.


Ana dan buya Latif serta Dzaki dan Hafiz membiarkan mereka saling berpelukan. Dzaki juga mengabadikan moment itu.


Your Attention please, Pasengger of Malaysia Airlines on Flight number MA273 to Madinah please boarding from door A21, Thank you.


Pengumuman itu tertangkap jelas di pendengaran mereka. Saatnya benar-benar berpisah. Mila memeluk Hafiz sekali lagi.


"Jangan nakal, sama nenek, atok, opung, sama semuanya ya, Nak! hafalannya diteruskan. Mau buat umma bangga, gak?" tanya Mila disusul anggukan Hafiz, matanya mulai berkaca-kaca, melepas kepergian ibunya.


"Jadilah anak yang sesuai dengan nama mu. Abi memberimu nama Hafiz, semoga kau nanti benar-benar menjadi Hafiz, Nak. Umma pasti sangat bangga!" cium dan pelukan Mila, diulangnya berkali-kali.


"Hafiz sayang, Umma! Hafiz akan buat umma bangga, Hafiz janji!" ucap Hafiz menghapus air matanya sendiri. Melambaikan tangannya melepas kepergian kedua orang tuanya. Arpin datang menghampiri, menggendong cucunya itu, menghapus air matanya.


"Ayo, kita juga pulang!" ucap Arpin.


"Sebentar opung! Hafiz mau melihat umma dulu. Hafiz pasti akan merindukan Umma!" ucapnya menghentikan langkah Arpin yang hendak beranjak dari sana.


\=\=\=\=


23 jam perjalanan yang akan mereka tempuh, dengan sangat bersemangat Mila memperbaiki duduknya, memasang sabuk pengaman. Setelah pesawat mengudara Mila meminjam Handycam suaminya, memutar video yang di abadikan Dzaki selama berada di Penang, ternyata bukan cuma hari itu saja Dzaki merekamnya. Hari-hari saat Mila mulai dibestral juga ada. Mila pun baru menyadarinya.

__ADS_1


Air mata menetes dari sudut matanya, "Terimakasih ya Allah, kau memberikan hamba nikmat sakit, dan juga nikmat sembuh ini. Semoga dosa-dosaku berkurang dengan nikmat sakit yang Engkau berikan, dan semoga rasa syukur hamba semakin besar karena nikmat sehat ini." ucapnya dalam hati. Dzaki menggenggam tangan istrinya, manik mata mereka saling bertemu. Cinta di kedua mata itu makin membara, ada rasa rindu yang bergejolak di dada.


__ADS_2