
Entah karena lelah atau sudah mulai terbiasa, kali ini Mila duduk tanpa berpegangan. Dia tak lagi memeluk lengan suaminya sekencang-kencangnya.
Tak butuh waktu lama, hanya sekitar satu setengah jam, pesawat yang mereka tumpangi landing di Bandar udara Internasional Hurghada.
Sambil menunggu penumpang yang bergantian turun, Mila mengaktifkan Handphone nya.
"Mas, adek punya teman di Sosmed, udah lama sekali gak ketemu. Dia teman Mila satu kelas dulu waktu di ma'had. Kalau Mila ajak ketemu boleh gak, Mas?
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki ada, perempuan juga ada. Ada empat orang mas, yang kuliah di Al-azhar."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Buat janjilah,mau ketemu dimana, biar nanti mas antar. Tapi dari Mesir ke Hurghada jauh loh,dek."
"Gak ada niat mau ajak adek ke Alexandria gitu,mas?, atau ke kampus mas deh... Kampus impian seluruh santri." ucap Mila menaruh kedua tangannya didada dentan wajah menengadah ke atas, netranya menerawang.
"Andai aku bisa menyelesaikan pendidikanku di pesantren dulu, mungkin aku sudah berada disini juga." ucapnya dalam hati.
"Masuk kampus idaman adek itu susah loh, banyak syaratnya, memangnya adek hafalan Qur'annya berapa juz?"
"Hah?, em... itu, anu... cuman satu. Itupun kalau pakai gula, kalau cuman susu gak Mila gak suka."
"Maksudnya?" Dzaki mengerutkan dahi
"Adek cuman suka juz pokat, hehe" Mila menyeringai.
"Krik...krik, krik..krik." Dzaki menirukan suara jangkrik.
Mila menghentikan langkahnya, menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
"Mila malu!" rengeknya, disusul tawa Dzaki memperlihatkan gigi putihnya.
"Nanti kita bahas lagi, sekarang yang penting sampai ke hotel dulu. Mas pengen rebahan."
"Oke." Mila sangat bahagia, berjalan menggandeng tangan suaminya dengan satu tangan menyeret kopernya.
****
Laki-laki itu merebahkan badannya diatas kasur. Capek juga, ucapnya. Dia terlihat sendirian dikamar, sedangkan istrinya berada dikamar mandi.
Hilton Hughrada plaza, hotel bintang 5 dengan ciri khas handuknya yang berwarna biru, sudah di booking Dzaki beberapa hari yang lalu. Ini memang keinginannya dari dulu.
Flashback
"Jadikan kita jalan-jalannya hari ini?" tanya Dzaki, membangunkan Amir yang masih terlelap setelah shalat subuh.
"Hm... jangan ajak aku liat mumi Fir'aun ya, bosan liat manusia laknat, hahaha" Amir mengambil gawainya, mencoba mencari destinasi wisata yang menarik di Mesir.
"Macamnye ini seronok, Ki" menunjukkan gawainya ke Dzaki.
"Oke, berangkat!" mengambil kunci mobilnya.
"Wait... saye nak pegi tandas kejab ye."
__ADS_1
\=\=\=\=
Pesona bawah laut yang sangat mencengangkan, berbagai jenis ikan kecil, bahkan ada banyak ikan yang besar, karang-karang yang kokok, dan tak jarang wisatawan bertemu dengan hiu.
"Wah... kapan-kapan, aku mau kesini lagi!"
Ini pengalaman diving pertama bagi Dzaki, sangat berkesan dan ingin mengulangnya lagi.
"Nanti lah, honeymoon bawa istri kau kad sini, tempat ni kan memang cocok untuk pasangan pengantin baru."
Wajah Mila menari-nari diingatannya. Tersungging senyum yang membuat wanita klepek-klepek jika melihatnya.
"Heh!, melamun pula die ni." Amir menepuk bahu sahabatnya itu.
Flashback off
\=\=\=\=\=
Perempuan itu duduk ditepi kasur, kemudian pindah lagi ke kursi yang ada dikamar hotel.
"Jadi jalan-jalan gak, mas?" Dzaki tetap pada posisinya, tak mendengar ucapan istrinya.
"Mas...." tak ada jawaban.
Bruuk
Mila membanting badannya di kasur. Persisi seperti pertunjukan smackdown.
"Allaahu akbar, adek." Dzaki tersadar dari lamunannya.
"Ya di datangin kek, masnya. Di cium gitu, di panggil baik-baik, mas... adek lagi ngobrol lo!" Dzaki menirukan suara istrinya.
"Iya... iya, maaf. Adek bar-bar" Mila memajukan bibirnya.
"Eh, adek yang bilang sendiri ya." Dzaki memeluk istrinya mencairkan suasana.
"Udah siap?, ayo kita berangkat!, kita diving, sayang bisa berenang kan?"
"Enggak!"
"Hah? serius?"
"Hm...."
"Pantes adek cebol."
"Enak aja, adek gak cebol. Mas aja yang terlampau tinggi."
"Aduh, jauh-jauh kemari gak jadi menyelam, ngapain donk, eh... tapi walaupun gak bisa renang bisa nyelam juga kok dek, nanti kita minta bantuan pemandu aja."
"Mas rela adek dipegang laki-laki lain?, oke." Mila mengayunkan kedua kakinya yang duduk dipinggir kasur, seperti anak SD.
"Enak aja, mau ngerasain bogem mentah mas dia!" mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Emang berani, nanti nangis...."
"Heh, jangan sembarangan. Mas ini jago ya, lebih jago dari adek!"
"Ya deh, adek percaya!"
Perjalanan terpaksa berobah haluan, yang tadinya mau menikmati pemandangan bawah laut diganti dengan pemandangan bawah laut KW.
Hurghada grand aquarium. Memang tak seperti menyelam, tapi lumayan lah liat ikan juga, ucap Dzaki yang masih tampak kecewa. Tapi dia lebih kecewa lagi jika mengijinkan istrinya dibantu orang lain.
\=\=\=\=
Aduh...
"Perempuan berkulit putih itu mengisap jarinya yang tersayat pisau.
"Jangan melamun, kalau mengerjakan sesuatu. Bisa-bisa jarimu terpotong nduk!" Yahya dari tadi memang sudah memperhatikan anaknya yang tidak fokus.
"Lagi mikirin apa,nak?"
"Kalau kita sudah punya suami, tidak boleh memikirkan laki-laki lain. Jaga perasaan suami kamu. Kalian sudah masing-masing, Dzaki juga sudah punya istri."
"Kenapa ayah tidak memberitahu Winda?"
"Untuk apa?, tidak penting kan?"
"Hm... kenapa Winda seperti tak rela ya, ayah. Kenapa mas Dzaki lebih memilih perempuan yang bar-bar, daripada perempuan yang ayu. Kalau tau seperti itu, lebih baik dulu Winda tidak...." Yahya memegang tangan anaknya, menghentikan pembicaraan mereka.
"Istighfar nak, kalau tidak dibantu perempuan yang kau bilang "bar-bar" itu, mungkin kita tidak sama-sama disini".
"Fokuslah pada suamimu, nak. Faruk yang terbaik untukmu. Cobalah membuka hati nak, jangan terus mengingat orang lain, yang sudah pasti tak menginginkanmu." ucap Yahya menasehati.
Dari Abu Hurairah radiiyallahu bahwasahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami”.
\=\=\=\=
Petualangan belum berakhir, kini pasangan suami istri itu sudah jauh meninggalkan Hurghada, meski kecewa karena tidak sesuai keinginan, tapi Dzaki tidak terbawa suasana. Saat ini Al-Azhar park, adalah tujuan mereka, bukan untuk hari ini, tapi besok pagi. Karena perjalanan yang mereka tempuh hampir tujuh jam lamanya.
"Nanti, bawa adek kekampus mas ya!"
"Hm"
"Nanti kalau aku jadi bertemu sama teman-teman, mas ikut?"
"Hm...."
"Rencananya, mereka mau ajak adek keliling-keliling,mas. Mau lihat piramida, sphinx, sungai Nil."
"Hm"
"Kalau kami aja yang pergi, mas gak usah ikut. Boleh?"
"Enak aja, emang siapa sih mereka itu. Ada yang spesial?, teman adek ada yang laki-laki kan?, mau kangen-kangenan, mau nostalgia zaman nyantri dulu? iya?" Suara Dzaki sedikit tinggi, membuat supir mencuri pandang dari kaca spion.
__ADS_1
"Habis dari tadi mas cuman jawab,Hm...hm... aja, giliran ngomong kok malah nyolot. Situ oke?" menyilangkan tangan didada, membuang muk melihat keluar dari jendela mobil. Air matanya menetes dari ujung matanya. Secepat kilat dia menyekanya.
Dzaki merasa bersalah, seharusnya aku tidak mengatakan itu. Kenapa aku jadi begini, gumamnya dalam hati.