Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Orang Tua Baru


__ADS_3

Ahmad Hafiz Qur'ani. Ahmad nama kecil sang nabi Allah, makhluk paling mulia dimuka bumi, cerdas, amanah, panutan ummatnya. Hafiz, sebuah panggilan bagi seseorang yang dapat menghafal Al-qur'an, walaupun dulu julukan Hafiz diberikan kepada orang-orang yang menghafal Hadits. Qur'ani, tambahan menegaskan bahwa Hafiz yang dimaksud bukan lah penghafal hadits, melainkan Al-qur'an.


Nama adalah do'a, pepatah Arab mengatakan "Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan kepadanya."


Ahmad Hafiz Qur'ani. Laki-laki mulia atau terbaik yang hafal alqur'an.


Perempuan itu tidak menolak sedikitpun pemberian nama dari suaminya itu.


"Ya, Mila suka. Jadilah penghafal Qur'an, nak!" kecup Mila pada kening putranya.


"Kita panggil Hafiz saja ya,Mas. Kalau Ahmad nanti jadi Mamat, seperti teman Mila dulu di sekolah." ucapnya, jadi teringat dengan Ahmad.


\=\=\=\=\=


Sekarang mereka sudah berada dirumah, Dzaki rela tak masuk kerja beberapa hari, sampai menunggu istrinya benar-benar pulih. Sebagai suami, dia ingin menjadi support system buat istrinya, ditambah lagi tidak adanya keluarga Mila ataupun keluarganya yang bisa menemani Mila pada saat-saat seperti ini.


Arpin dan Mai hanya bisa melihat cucu mereka dari telepon, Vidio call jadi pengobat rindu bagi mereka. Hal yang sama juga untuk keluarga besannya, kesehatan buya Latif yang semakin menurun menjadi pertimbangan Ummi Ana untuk tetap mendampinginya dipesantren.


"Maaf,Nak. Ummi tidak bisa membantumu mengurus Hafiz, buya sedang tidak sehat!" ucap Ana yang sebenarnya sangat ingin berada dekat dengan Hafiz dan kedua anaknya.


"Tidak apa-apa, ummi. Mohon do'anya." ucap Dzaki maklum.


Kegiatan keduanya semakin bertambah, dan jam tidur Mila dan Dzaki berkurang.


Oek...owek, Hafiz menangis tengah malam.


Mila yang sedang tidur terbangun dan mencoba untuk duduk,melihat Hafiz yang tidur disampingnya.


"Kenapa, sayangnya Umma. Hafiz haus?" Mila menggendongnya dan memberikannya Asi, tapi Hafiz menolak dan tetap menangis.


"Sayang, nak!" ucap Mila mengusap kelapa Hafiz yang masih tertutup kain bedong. Tangis hafiz semakin menjadi.


"Eh, kenapa, nak?" Dzaki ikut terbangun.


"Kenapa ya,Mas. Mila sudah coba memberikan Asi, tapi Hafiz tidak mau!" Mila yang bingung jadi ikut menangis.

__ADS_1


"Kenapa,ya? Coba sini sama Abi!" Dzaki mengambil Hafiz dari dekapan Mila.


"Sa..a..ayang anaknya Abi, kenapa nangis malam-malam. Nanti tetangga bangun loh. Kasihan nak, namanya mengganggu orang tidur, zholim!"


"Ya Ampun, si Mas seperti anaknya udah ngerti aja diajak ngobrol!" gumam Mila


Hafiz semakin menangis, lebih keras dari saat bersama Mila.


"Dek, ini kenapa?" Dzaki mulai panik, melihat Mila yang sudah panik duluan.


Tok...tok...tok


"Neng, bibi boleh masuk?" suara bi Lastri dari luar.


"Iya, Bi. Pintunya gak dikunci kok." jawab Dzaki menghentikan gerakan lambat Mila yang hendak membukakan pintu kamar. Maklum lah habis lahiran, susah bergerak cepat, ada yang harus dijaga agar cepat pulih.


"Bi, Hafiz nangis terus, gak mau Asi!" Mila menangis seolah-olah curhat dengan bi Lastri yang sengaja menginap disana untuk membantu Mila. Dia faham betul, perempuan yang habis melahirkan pasti akan kerepotan jika mengurus anaknya sendirian, walau suaminya mendampingi.


"Mungkin si kecil PUP,neng?"


"Coba kasi ke saya, Pak." bi Lastri menggendong Hafiz dan meletakkannya diatas tempat tidurnya. Dibukanya kain yang membungkus bayi itu, bak kepompong yang sudah hendak berubah menjadi kupu-kupu.


Hafiz pun diam seketika. Bi Lastri memberikannya kepada Mila.


"Sudah bersih, Umma." ucap bi Lastri tersenyum.


"Maaf merepotkan ya,Bi" Mila gak ada kepikiran mau buka kain bedongnya tadi.


"Gak papa,Neng. Bibi malah senang, bisa ngurus bayi lagi." bi Lastri keluar kamar, menuju kamar tamu. Tempatnya beristirahat tadi, jam sudah menunjukkan pukul 03.40 pagi.


Hafiz pun tertidur lagi. Diletakkannya perlahan-lahan Hafiz di atas tempat tidur disebelahnya.


"Mas, yuk sini, tidur la...." Mila tersenyum melihat suaminya yang sudah tertidur dengan posisi duduk diatas kursi.


"Abinya ketiduran,sayang. Dedek bayi bobok yang nyenyak,ya" bisik Mila pada Hafiz.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Kebahagian semakin hari semakin bertambah. Tumbuh kembang bayi mungil itu, tak pernah sedikitpun Dzaki dan Mila lewatkan. Bukan hanya Hafiz yang tumbuh dan berkembang, Ummanya juga mulai berkembang.


Berat badan Mila yang tadinya 45 sekarang menjadi 55 kilo, ini baru bulan ke tiga pasca melahirkan, bagaimana nanti kedepannya.


Mila mulai risau dengan kondisi fisiknya. Bajunya mulai terlihat kesempitan terutama dari bagian pinggang keatas.


"Aduh, gimana dong? masak harus diet sih." Mila menggerutu, melihat tampilannya dicermin.


"Kenapa sih, kok mukanya dijelek-jelekin gitu?" Dzaki meletakkan buku yang dibacanya keatas meja. Tangannya menepuk kursi disebelahnya. Mila duduk menghampirinya.


"Kok,malah tambah jelek!" goda Dzaki melihat wajah istrinya yang makin cemberut.


"Dipeluk kek! istrinya lagi sedih juga." ucap Mila kesal.


"Peluk, tinggal peluk gini kok, gak susah! Ni..., mas peluk nih!" Dzaki memeluk istri manisnya.


"Kok,sepertinya ada yang beda ya?"


"Apanya?" tanya Mila.


"Kok, rasanya seperti meluk Doraemon!" Dzaki menahan tawa.


"Kan, Mas tega ih!" menepiskan tangan Dzaki, keluar dari pelukannya.


"Adek sudah terlalu gendut ya, Mas?"


"Mulai besok, adek diet lah. Tapi,Hafiz gimana,mas? Nanti malah sakit perut, karena Ummanya lapar." Mila bimbang, disatu sisi dia ingin terlihat kembali ramping seperti dulu, disisi lain dia juga gak mau kalau Asinya tidak berkualitas.


Dilema para kaum ibu, semua ibu pasti merasakan hal yang sama , terkhusus bagi tubuh wanita yang berat badannya gampang bertambah dan susah turunnya.


_________


Happy reading 😍🙏

__ADS_1


Terimakasih yang sudah like, vote, dan komentar juga,


semoga ada hikmah dari setiap tulisan 🤗


__ADS_2