
Suara ayam bersahut-sahutan, Adzan subuh telah selesai dikumandangkan mu'adzin tiga puluh menit yang lalu.
" Astaghfirullah...," Mila bangun dari tidurnya. Sapu tangan lembab jatuh dari kepalanya.
" Udah bangun nak, mamak baru mau membangunkanmu! " Mai masuk ke kamar
" Iya mak, Mila kok rasa demam ya mak! "
" Bukan rasa demam Mila, tapi kau memang demam. Tadi malam kau juga pingsan..." jelas Mai
Mila bangun dari tempat tidurnya,dia hendak shalat subuh. Baru saja berjalan beberapa langkah Mila merasakan kepalanya sakit sekali. Diraihnya kursi belajarnya.
" Mau ke kamar mandi? Ayo mamak bantu "
Mai memapah anak gadisnya itu ke kamar mandi dapur. Satu tangan Mai membawa sajadah dan mukena yang digulung jadi satu.
"Assalamu'alaikum warohmatullah..."
Selesai shalat Mila berdo'a memohon kesembuhan untuknya. Tidak nyaman rasanya melakukan shalat dengan duduk seperti ini ucap Mila dalam hati.
Wanita paruh baya itu menuangkan air panas kedalam ember air yang lumayan besar.
" Ayo mamak bantu, Mila mandi ya, sebentar lagi kita ke dokter, mamak sudah pesan taksi online tadi! "
" Iya mak, maafkan Mila menyusahkan mamak terus "
" Tidak apa-apa Mila, mamak tak merasa kau buat susah " jawab Mai memapah Mila ke kamar mandi
Laki-laki yang berkeringat dengan handuk menggantung di lehernya datang ke dapur. Menuang air kedalam gelas dan menarik kursi makan.
" Siapa di kamar mandi mai? "
" Mila bang! "
" Udah bangun dia, masik panas lagi badannya? "
" Masih panas, tadi shalatnya saja duduk. Gak kuat berdiri lama-lama katanya kepalanya sakit. Eh.. bang! Jangan abang tanya-tanya dulu masalah lamaran itu ya, aku curiga, apa karena memikirkan itu Mila jadi sakit? "
" Kurasa pun begitu, aku juga heran kenapa dia menangis semalam! " ucap Arpin
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Rumah sakit Abdul Manan Simatupang
Laki-laki paruh baya mendorong kursi roda ditemani perempuan berjilbab hitam di sebelahnya, mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan dokter Spesialis Saraf.
" Dulu kau yang mendorong ku sewaktu aku sakit nak, sekarang kenapa kau yang aku dorong! " ucap Arpin sedih
" Roda kehidupan yah, ayah... apa nanti Mila akan kemoterapy juga? " tanya Mila datar
" Astaghfirullah... jangan bicara yang tidak-tidak, kau tidak apa-apa " ucap Arpin
Perempuan yang berjalan bersama mereka hanya mendengarkan pembicaraan ayah dan anak itu. Dia hanya berdo'a dalam hati " Jangan ya Allah..., berikan anak hamba kesehatan ".
Setelah dilakukan pemeriksaan " Anak bapak tidak apa-apa, sepertinya anak bapak ini banyak pikiran, jangan dibawa serius dek... dibawa santai saja. Semua penyakit bisa disembuhkan mulai dari sini, dan jangan lupa ini! " dokter itu menunjuk ke hati dan ke bibirnya.
" Nanti akan saya berikan resepnya, ada satu obat yang ini ( dokter melingkari nama obat dalam tulisan resepnya ), kalau kepalanya tidak terlalu sakit maksud saya adek bisa menahannya obatnya tidak usah di makan, oke Mila. Banyak senyum ya dek.. cepat sembuh " ucap dokter itu mengulurkan tangannya
Mila menyambut uluran tangan dokter cantik itu, umurnya kira-kira 40 tahun.
" Terimakasih dok, Assalamu'alaikum "
Mai mendorong kursi roda Mila keluar ruangan dokter menemui suaminya yang sedang menelepon.
Arpin memang sengaja tidak ikut masuk keruangan dokter, ada ketakutan dalam hatinya. Dia takut kalau-kalau yang dikatakan anaknya tadi itu benar-benar kenyataan.
\=\=\=\=
" Iya yah semoga Mila cepat sembuh " ucap Laki-laki itu menutup teleponnya.
Laki-laki itu menghela nafas panjang, tiba-tiba semangatnya hilang entah kemana.
" Habis telepon siapa sih bang? kok jadi lemas gitu? " tanya Amira meletakkan dua cangkir kopi di meja
" Ayah Milatul Ulya, sepertinya Mila tidak bersedia, tapi kenapa ya? aku kan memenuhi persyaratannya..aku juga masih single" ucap Dzaki tak semangat
" Buya dan ummi masih belum pulang dek? " tanya Hasan
" Belum bang, semoga Zizi tidak menyusahkan ummi " ucap Amira
Amira mengingat perobahan sikap Mila, sikap Mila berobah persis setelah acara seminar yang diadakan tempo hari.
" Biasanya anak itu tidak pernah tak membalas pesan ku, kalau terlambat satu hari saja dia akan telpon, kemarin juga sewaktu ketemu terakhir kali di kampus dia malah langsung pergi " Amira membulatkan matanya.
__ADS_1
" Bang..., sepertinya aku tau masalahnya!, sebentar aku telepon dulu " Amira mencari nomor kontak di Hapenya kemudian menekan gambar telepon warna hijau di layarnya.
tuuut...tut.... gak diangkat, coba sekali lagi Bismillahirrohmanirrohim...
" Halo Assalamu'alaikum ukhti... " suara perempuan dari seberang sana tanpa tenaga seperti sedang sakit
Amira mengeraskan suara telepon nya.
" Wa'alaikumsalam, adek kenapa, kok sepertinya suaranya lemas sekali.." tanya Amira pura-pura tidak tau
" Mila sedang kurang sehat ukhti.. mohon do'anya.. "
" Sudah kedokter dek? " tanya Amira kali ini dia memang tidak tau
" Alhamdulillah.. ini baru sampai rumah ukh..., kata dokter tidak apa-apa, hanya banyak pikiran saja. Umm... ukhti ana minta maaf..." ucap Mila terisak
" Kenapa dek kok nangis... Mila gak ada salah apa-apa sama ukhti, ada apa Mila cerita lah, jangan buat ukhti penasaran! "
" Ukhti... suami ukhti mau melamar Mila lebaran haji nanti " ucap Mila masih terisak
" Hah...Astaghfirullah!" Hasan yang sedang meminum kopi tersedak
Dzaki yang mendengarkan menaikkan alisnya bingung. Yang mau melamar aku kok jadinya Hasan. " Kau kalau mau poligami terserah, tapi jangan dengan perempuan yang mau ku khitbah dong" ucap Dzaki menyunggingkan senyum
" Ya Allah Mila... ukhti sudah menduganya, Mila salah paham sayang, suami ukhti bukan Dzaki, suami ukhti bang Hasan, Abinya Zizi itu Hasan. Ukhti dan Dzaki itu saudara sepupu, Almarhum ibu saya itu adiknya ummi..." ucap Amira tertawa disusul Dzaki dan Hasan
" Kok rame yang tertawa ukhti.... ukhti menspeakerkan telepon ini ya?, siapa saja disitu ukh..." tanya Mila merengek tangisnya seketika reda menjadi rasa malu
" Hahah... ya Allah Mila, bukannya tanya-tanya dulu, pantas saja Mila menghindari ukhti, ternyata gak enak hati sama istri tua ya sayang hahaha..., disini ada Hasan dan Dzaki " ucap Amira tak bisa menahan tawanya
" Aaaa... utii, Mila malu " suara Mila bergetar dia menangis lagi
" Maaf dek... sudah jangan menangis lagi, cepat sembuh ya dek, tunggu kami datang lebaran haji ya, kakak akan datang dengan suami kakak, Hasan loh ya bukan Dzaki, hahaha.. Assalamu'alaikum " ucap Amira menutup telepon nya.
" Berees... semuanya sudah clear , sebentar lagi ada pengantin nih! " ucap Amira
" Insya Allah... Insya Allah... Insya Allah,.." Dzaki masuk ke dalam rumahnya sambil bersenandung lagu Maher Zein.
Dua pasang mata seperti melihat keajaiban terjadi pada diri anak mereka. Wajah laki-laki yang menggendong gadis kecil tertidur itu penuh dengan tanya. Belum sempat bertanya Hasan mengatakan Dzaki mau mengkhitbah perempuan Idul Adha nanti.
Jauh di pulau Sumatera, di dalam kamar rumah yang sederhana seorang wanita sedang sujud syukur, air matanya menetes deras tak bisa berhenti, tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia. Mila tak henti berzhikir mengagungkan asma Allah, beristighfar sebagai rasa syukurnya atas skenario Allah yang tengah di lakonkannya.
__ADS_1