
Perempuan manis bergamis sudah standby dalam mobil. Sesekali melihat jam dipergelangan tangan kanannya. Tak sabar menunggu datangnya suami kesayangan.
Limabelas menit menunggu,serasa sudah satu jam. Mila keluar dari mobil, beralih ke kursi kemudi. Mesin mobil dinyalakannya, berapa menit kemudian, mobil mundur perlahan, separuh badan mobil sudah melewati pagar rumah.
Laki-laki jangkung dari arah dalam berlari dengan wajah cemasnya.
"Dek, adek!" ucapnya hampir menjerit.
Mobil yang sedang berjalan mundur perlahan itu pun berhenti. Mila menurunkan kaca mobilnya mengeluarkan kepalanya, layaknya sopir angkot di Kota kecilnya dulu.
"Kenapa lari-larian, Mas?" Mila melihat suaminya keheranan.
"Turun!"
Mila keluar dari mobil. Bersikap biasa saja, seperti tak ada masalah, dan memang dia tak merasa salah.
"Kenapa, jalanin mobilnya?" Dzaki mengintrogasi istrinya yang sudah duduk disebalahnya.
"Mas, lama sekali. Sudah lebih dari limabelas menit adek menunggu. Bosan!"
"Trus, kalau bosan? seenaknya jalanin mobil, kalau nabrak gimana?"
"Kan gak nabrak, mas! Masih utuh mobilnya. Gak lecet sedikitpun!" suara Mila sedikit parau, ternyata suamiku takut mobilnya rusak, bukan perduli terhadapku, ucapnya dalam hati.
Seolah tau perasaan istrinya, Dzaki mengelus lembut kepala istrinya. "Mas,bukan menghawatirkan mobil mas lecet!. Tapi, mas mengkhawatirkan adek, mas takut adek kenapa-kenapa. Adek sedang hamil besar, kalau terbentur stir mobilnya gimana?"
"Ya, udah lupain aja." Mila memegang tangan suaminya yang sedari tadi sudah memegang tangan kanannya.
"Sejak kapan, adek bisa nyetir?" suasana mulai kondusif, Dzaki membuka obrolan.
"Sejak kuliah, Mas. Teman yang ngajarin."
"Cowok?" tanya Dzaki selidik.
"Iya,Mas. Ayahnya!"
"Serius!"
"Erna mas, yang ngajarin. Mungkin mas kenal kalau ketemu dia, satu pengajian juga sama ukhti Amira."
\=\=\=\=
__ADS_1
Mobil Dzaki terparkir didepan alun-alun kota Malang. Suasana minggu pagi begitu ramai, banyak yang berolahraga, atau hanya sekedar berjalan-jalan disana.
Mila sangat bersemangat memulai jalan paginya. Sepatu olahraga yang sedari tadi dia kenakan dibukanya, dan meninggalkannya dalam mobil.
"Kata orang, biar persalinannya mudah. Sering jalan pagi, gak usah pakai sepatu atau sendal. Gitu mas!" Mila melihat suaminya yang keheranan.
"Gak, gak..., pakai lagi, pakai lagi!, kalau dikomplek boleh dek, gak pakai alas kaki. Kalau disini jangan dong, sayang. Adek belum hafal jalannya. Kalau ada paku, atau apa gitu, kan bahaya!" omel Dzaki seperti emak-emak memarahi anaknya.
"Iya,deh." dengan memajukan bibirnya beberapa senti, Mila memakai kembali sepatunya.
Udara pagi itu lumayan sejuk, walau matahari sudah mulai meninggi. Mila dan Dzaki terus berjalan menyusuri setiap sudut lapangan.
Disudut jalan, netra Mila terfokus kepada Gazebo yang unik, Mila ingin sekali beristirahat disana. Sedangkan Dzaki ingin mengajak Mila melihat merpati yang beterbangan dan singgah di lapangan dekat Masjid itu. Ya, alun-alun kota Malang, memang sangat dekat dengan mesjid Jami'.
"Ya, sudah. Kalau mas mau kesana. Adek ke gazebo sana itu ya, Mas." Mila menunjuk tujuannya, dia enggan mengikuti suaminya.
Sebelum sampai ketempat tujuannya, Mila berpapasan dengan perempuan yang mendorong stroller yang bergandeng dua. Disusul laki-laki yang sedang fokus dengan gawai di tangannya.
"Wah, kembar ya, Mba?" perempuan yang mendorong stroller itu menghentikan langkahnya.
"Iya, Mba. Kami kembar." ucapnya menirukan suara anak kecil.
"Ih, lucunya." Mila memegang kedua tangan bayi kembar dihadapannya.
"Hampir 6 bulan, Mba"
Laki-laki tadi, menghampiri mereka.
"Loh, ukhti!" ucapnya melihat siapa yang sedang melihat bayi kembarnya itu.
"Eh, bapak!, pak siapa namanya, saya lupa." ucap Mila mengetuk-ketuk keningnya dengan jari. Dia ingat wajah Aladin itu, tapi dia lupa namanya siapa.
"Faruk!"
"Oh, iya. Pak Faruk. wah, baby nya sudah besar ya,pak. Ini umminya?" Mila mengulurkan tangannya, kepada perempuan didepannya.
"Bukan, Mba. Saya hanya pengasuh mereka. Umminya sedang ketoilet." jawab perempuan itu, merasa tidak enak, disangka istri Faruk majikannya, walau kalau boleh mengaminkan dengan senang hati dia mengaminkannya, siapa yang tak mau punya suami setampan majikannya itu. Sudah tampan, kaya, soleh lagi.
"Mila boleh gendong gak,Pak?" bayi-bayi dalam stroller itu sangat membuat Mila gemas, mereka tak pernah melepas senyum. Faruk mengangguk, menyetujui.
"Yang mana duluan ini! hayo, mana yang mau tante gendong!" tanya Mila didepan mereka.
__ADS_1
"Wah, anteng ya! Mau aja digendong sama aunty! ganjen adek ya, tau aja kalau tantenya cantik!" ucap Faruk, kepada Fadhli.
Mila tak berhenti mencium pipi bayi kembar itu. "Namanya siapa,Pak?"
"Yang ukhti gendong, Fadhli. Yang ini Fadhlan. Dan abinya Faruk!" ucap Faruk mengajak bercanda Fadhlan, yang iri minta digendong juga.
"Siapa yang cantik, Mas?" tanya perempuan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Mila. Mila memalingkan wajahnya.
"Mba Winda!" ucap Mila sedikit terkejut.
"Loh, kalian sudah saling kenal?" Faruk heran.
"Ya kenal, mas. Ini itu istrinya teman ayah ngajar. Satu almamater juga sama saya, yakan dek, dia juga yang nolong Winda waktu dirampok waktu itu!" jelas Winda.
"Oh, jadi kamu. Perempuan superhero itu. Wah... saya sangat berterimakasih, sudah mau menolong istri saya." Faruk memang telah lama ingin bertemu dengan perempuan yang menolong istrinya, penasaran dengan kesaksian Winda pada saat menjadi saksi dikantor polisi tempo hari.
"Ah, bapak bisa aja. Superhero apanya! saya hanya mau jadi supermom. Nanti kalau sudah punya seperti yang saya gendong ini, iya kan, Fadhli. Ih... gemesin banget sih." Mila tak berhenti mencium tangan baby Fadhli.
"Kenapa, mereka terlihat akrab sekali, seperti sudah kenal lama." Winda berucap dalam hati. Menatap raut wajah suaminya yang sumringah bercanda dengan Mila didepannya.
"Ya Allah, begini gantengnya suaminya, masih aja ganggu suami saya, haduh... kurang apa coba pak Faruk ini." ucap Mila juga dalam hati.
"Loh, Winda disini juga?" laki-laki itu melihat istrinya, Winda dan juga laki-laki disebelah istrinya.
"Pak Dzaki." ucap Winda, menatap laki-laki dihadapannya.
"Kenalkan pak, ini suami saya." Mila meletakkan Fadhli kembali kedalam stroller.
"Oh, jadi Pak Dzaki suami yang beruntung itu." Faruk mengulurkan tangannya, Dzakipun menyambutnya.
"Alhamdulillah, jodoh dari Allah." balas Dzaki ramah.
"Wah, kembar ya. Hai... " sapa Dzaki melambaikan tangannya kehadapan kedua bayi itu.
Keduanya tersenyum merespon. Membuat gemas semua yang melihatnya. Memang benar yang namanya bayi itu tak ada yang tak menggemaskan, sekalipun itu bayi dari hewan buas.
Terjadi keakraban disana, seperti sudah berkenalan lama, canda tawa antara Dzaki, Mila dan Faruk mengalir seperti air, sedangkan Winda hanya menyahut sesekali.
Ada perasaan aneh dalam hatinya, bukan karena dia merasa cemburu melihat Dzaki mesra dengan istrinya. Melainkan rasa cemburu melihat Faruk suaminya yang begitu akrab dengan Mila.
Inikah yang dirasakan Mila waktu itu. Merasa takut suaminya direbut perempuan lain?.
__ADS_1
Matahari semakin meninggi, membuat bayi kembar mulai rewel karena kegerahan. Faruk, Winda dan juga pengasuhnya pamit pulang meninggalkan dua sejoli yang juga sudah tidak sabar menunggu kelahiran baby boy mereka.