
Suasana hening, hanya sesekali terdengar suara lembaran kertas yang di bolak-balik. Malam ini suasana rumah kembali seperti biasanya, hanya ada sepasang suami istri yang sibuk dengan urusan masing-masing.
"Mas, masih belum selesai kerjaannya?
"Belum!"
"Adek bosan."
"Hm"
"Maaasss....."
Laki-laki itu membuka kacamatanya.
"Kenapa,Sayangku?,apa yang menyebabkan sayang aku bosan?"
"Ah...,lebay" ucap perempuan itu mendengar jawaban suaminya.
"Mas, mba Winda itu mantannya mas ya? tanya Mila selidik.
"Enak aja, mas gak punya mantan! pacaran aja gak pernah!" jawab Dzaki
"Apa mas putus dari mba Winda secara tidak baik? buktinya mas kemaren gak mau njenguk mba'nya di rumah sakit. Malah Mila mau pamit juga gak diizinin. Kemarin waktu cerita sama Ummi, mas juga mengalihkan pembicaraan. Hayo ngaku, ada apa!" ucap Mila menerka-nerka.
"Udah mas bilang, mas gak pernah pacaran,gak sempat. Mikirin tugas-tugas kuliah juga sudah pusing, ngapain nambah pusing dengan pacaran." Dzaki menutup laptopnya.
"Winda itu, anak dosen senior dikampus mas, buya Yahya.Dulu waktu mas baru mulai kerja disini, mas tinggal dirumahnya. Dulu Winda itu penampilannya gak seperti penampilannya sekarang loh dek. Sama sekali gak agamis, padahal orangtuanya orang yang sangat dihormati karna ke alimannya. Dia itu sukanya naik gunung, prilakunya yah... seperti anak-anak sekarang yang jauh dari agama lah. Kalau pergi kuliah,yang jeput pasti laki-laki. Udah gitu laki-lakinya ganti-ganti. Buya sering khawatir dibuatnya. Alhamdulillah... mungkin karena do'a orang tua, pelan-pelan dia berobah. Dia mulai pakai jilbab, walau tetap menggunakan bawahan celana jeans, dan baju yang kurang panjang atau sedikit ketat. Mas masih ingat betul, bagaimana reaksi buya melihat pertama kalinya anaknya memakai jilbab." mata Dzaki seakan menerawang ke masa itu.
"Trus..trus!"
"Tapi mas merasa perobahan itu bukan karna Allah, tapi karena mas!"
"Bukannya mas kepedean ya, sejak pertama mas disana, dia selalu memperhatikan mas. Mas gak nyaman, sampai akhirnya mas beli rumah ini, dan pindah kesini"
"Kenapa mas pindah?, bukannya mas harusnya malah menguatkan semangatnya mba Winda supaya istiqomah."
"Mas gak nyaman ah, kalau dilirik-lirik terus. Dikasi perhatian lebih terus. Agresif. Mas gak suka perempuan agresif. Kalau lama-lama disana mas takut khilaf. Kadang setia itu bisa dikalahkan dengan yang selalu ada!"
"Berarti, sempat ada rasa ya,mas?" tanya Mila
"Sedikit..." ucap Dzaki ragu-ragu
__ADS_1
Deg...., seperti ada awan mendung yang membawa petir. Ada rasa sakit tapi tidak berdarah. Perasaan yang tak pernah Mila rasakan sebelumnya.
"Apa mas menghindari bertemu mba Winda karena takut rasa itu kembali lagi, apa jangan-jangan rasa itu bukan sedikit. Hah... nyesal sendiri, kenapa tadi aku menanyakan itu!" Mila memukulkan jari telunjuknya ke keningnya yang luas. Moodnya seketika berubah.
derrrt...derrrt
Handphone Mila bergetar, panggilan masuk dengan nomor tidak dikenal.
"Siapa yang telepon malam-malam begini!" ucapnya
"Halo..Alhamdulillah...," suara dari seberang sana.
"Kenapa ya, maaf ini siapa?" tanya Mila
"Saya Winda, perempuan yang kamu tolong waktu itu. Dari kemaren-kemaren saya coba hubungi kamu, tapi nomormu tidak aktif. Alhamdulillah, sekarang tersambung!"
"Oh gitu, iya mba, waktu kejadian kemaren Hp saya rusak, jatuh...,udah gitu di injak lagi sama om preman. Jadi pensiun deh..Hp kesayanganku. hehe"
"Duh...,maaf ya dek. Gara-gara mba jadi seperti itu. Terimakasih lo ya, udah nolongin mba.., nanti mba ganti ya h**andphone nya. oh iya kita belum kenalan. Kamu namanya siapa?, trus dari penampilannya kamu mahasiswa ya?"
"Gak usah mba, udah dibeliin suami kok, lagipula memang Hpnya sudah saatnya pensiun.Saya Mila mba, mahasiswa UB."
"He...iya nanti,kapan-kapan ya,mba!" Mila menjawab dengan malas-malasan.
Perempuan diseberang sana yang merasakan lawan bicaranya seperti tidak tertarik.
"Kalau begitu sampai ketemu ya Mila, maaf mengganggu waktunya. Assalamu'alaikum." tutup Winda
"Ternyata gadis macho itu sudah menikah. Gak takut dibanting tuh laki." ucap Winda tersenyum geli.
"Wa'alaikumsalam." Mila meletakkan Gawainya.
Handphone baru, Android kata anak-anak zaman now. Tadinya Mila tidak menginginkan Hp seperti ini. Menurutnya bisa menelepon dan sms saja sudah lebih dari cukup. Tak perlu muluk-muluk.
"Siapa dek?" tanya Dzaki
"Pacarmu." jawab Mila meninggalkan Dzaki yang heran melihat tingkah istrinya, apalagi mendengar kata "mu" barusan.
Mila menghempaskan badannya keatas kasur, memakai selimut dan tidur menyamping membelakangi suaminya yang masih duduk.
"Kenapa dia?" ucap Dzaki dalan hati.
__ADS_1
Disudut sana, air mata jatuh deras sederas hujan. Jari tangannya sengaja di gigitnya, agat tidak terdengar suara isakan. Tapi getaran tubuh tak bisa disembunyikan.
Dzaki melihatnya, perlahan dia dekati istrinya itu.
Dengan hati-hati, lututnya berjalan pelan diatas kasurnya yang lebar. Jangan sampai istrinya mengetahui kedatangannya.
Tubuh mungil dibalik selimut itu sekarang sudah didekatnya, hampir tidak berjarak. jelas dilihatnya bantal yang basah. Dibaliknya perlahan badan istrinya.
"Adek kenapa, kok nangis?"
"Mas,buat salah apa."
"Gak da apa-apa. Lagi pengen nangis aja, udah lama gak nangis!" ucap Mila seperti merengek. Disusul tawa suaminya
"Nangis kok pake pengen, yank? Gak boleh gitu dong, kalau pengen yang lain boleh." ucap Dzaki memeluk istrinya
"Ngapain mas, peluk-peluk adek?, nanti mas ngebayangin meluk mba Winda!" ucao Mila ketus
Dzaki mengernyitkan dahi. Dia tau sekarang,apa masalahnya.
"O, jadi istri mas ini sedang cemburu, haha" tawa Dzaki semakin kencang, sekencang pelukannya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kalau mas memang mau Winda jadi istri mas, mas gak mungkin lamar adek. Mas kan sudah bilang, masih adek yang ada disini!" Dzaki menuntun tangan istrinya memegang jantungnya.
"Kok masih,mas. Bukan cuma!"
"Ya, mas gak bisa zamin. Kalau mas bilangnya cuma adek yang ada dihati mas, mas takut dosa." tawa Dzaki semakin pecah, melihat istrinya yang semakin cemberut. Istrinya semakin menangis.
"Maas..." rengeknya
"Dihati mas, ada Mila, Ummi, Buya, Mamak, Ayah dan lain-lain." ucap Dzaki yang semakin gemas melihat istri manisnya itu.
"Adek boleh cemburu, cemburu itu tanda cinta. Mas bahagia. Berarti adek sudah mencintai mas. Tapi ingat, jangan kalah sama cemburu, jangan karena cemburu adek jadi tidak sopan pada suami. Jangan cemburu buta, kalau ada masalah seperti ini kedepan nanti, cari tau hal sebenarnya jangan menerka-nerka."
Bukan dari tulang ubun-ubun ia dicipta, sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjungan. Tak juga dari tulang kaki, karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak. Tetapi dari rusuk kiri dekat ke hati untuk dicintai, dekat ketangan untuk dilindungi.
Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasehatilah para wanita." (HR. Bukhari dan Muslim)
___________
Assalamu'alaikum, hai semua pembaca setia "Keteguhan Hati" gak terasa udah mau limapuluh episode ya, jangan bosan ya 🤗, like, komen, vote, dan rate ya..., biar author semakin srmangat nulisnya. Kritik dan sarannya juga ditunggu loh. Salam sayang dari aku. Banyak membaca besar gunanya, semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan receh saya ini 💖💖💖
__ADS_1