
"Enak aja, emang siapa sih mereka itu. Ada yang spesial?, teman adek yang mau kita temuin nanti, ada yang laki-laki kan?, mau kangen-kangenan, mau nostalgia zaman nyantri dulu? iya?"
Kata-kata itu terus terngiang, air dari sudut matanya terus berlinang. Kali ini pasangan pengantin baru itu sudah berada dipenginapan, sedang saling membelakangi dalam diam.
Kriuk... kriuk
Itu bukan suara dari renyahnya kerupuk, melainkan suara dari perut Mila yang sedang kelaparan. Mereka belum makan malam, jangankan makan mereka berdua juga belum membersihkan diri mereka setelah sampai dihotel. Tak seperti biasanya, kali ini yang Mila rindukan hanya bantal. Bukan air hangat di kamar mandi.
"Adek lapar?"
"Gak"
"Mas lapar,loh"
"Ya udah, makan sana."
"Adek, gak mau makan sama mas. Gak mau temani mas?"
"Ini Mesir, mas lebih tau. Mas gak akan sesat."
"Udah dong marahnya, mas minta maaf." Mila tidak bergerak dari posisinya.
"Adek...." Dzaki mendekatkan badannya, sekarang Mila sudah dalam pelukannya.
"Mas makan aja, adek gak laper." Mila menutup mukanya dengan bantal.
Kriuk...kriuk
"Eh... cacingnya berkokok tu dek, mas dengar lho, jangan zholim sama tubuh sendiri." semakin mengeratkan pelukan.
Tubuh itu gemetar, pertahanan roboh. Air mata yang sedari tadi dibendung, walau sudah sedikit merembaspun akhirnya pecah juga.
"Mas, hiks... hiks, adek gak pernah mikir mau melakukan yang mas bilang tadi, adek cuman mau ketemu sama mereka. Kebetulan kita lagi disini. Kapan lagi bisa ketemu mereka. Salah satu dari mereka itu teman satu bangku adek, sebelahan tempat tidur juga diasrama. Adek kangen, mas. Hu... u, hiks... hiks"
"Maafin mas,ya. Mas kebawa suasana tadi."
"Mila juga minta maaf, Mas! Mila gak bisa berenang, Mila gak sesuai dengan harapan mas. Maafkan aku mas, aku tidak bisa seperti Anna Althofunnisa."
"Kenapa jadi kesana ceritanya?" gumam Dzaki dalam hati.
Mila melihat suaminya heran dengan ucapannya.
"Karena ini di Mesir, Mila jadi keingat Anna di novel KCB, aku gak bisa sesempurna dia mas. Seharusnya mas tidak melamarku. Banyak yang lebih baik, paling tidak yang sama-sama lulusan sini." ucap Mila masih menangis.
"Ini ni, penyakit wanita. Masalahnya apa larinya kemana. Masalahnya kapan, malah jadi mengungkit-ngungkit kenangan, haduh." gumam Dzaki serba salah,bingung harus bilang apa.
"Mas juga bukan Khairul Azzam, suamimu ini hanya laki-laki biasa, tak sesoleh dia, mas juga tidak bisa membuat tempe dan bakso terus berjualan disini. Mas hanya hamba Allah, yang berani mencintai adik dari sahabat mas. Mas mencintainya karena adabnya, keluarganya juga baik. Makanya mas rela menunggunya, walau harus puasa setiap hari" untung saja dulu dia pernah membaca nover best seller karya kang abik itu.
"Kok puasa?" Mila mengucek matanya
Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda: 'Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara ********. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).( HR Bukhari)
"Mas mengkategorikan mas tidak mampu saja, bukan karena tidak mampu mengkhitbah, tapi karena mas tidak mampu melupakanmu." Dzaki berkata lirih, ada rasa malu saat mengatakan itu.
__ADS_1
"Mas gembel!" saut Mila yang tersipu mendengar ucapan suaminya barusan.
"Kok gembel sih, gombal." Dzaki mencubit pipi istrinya gemas.
\=\=\=\=\=
Ke tiga perempuan berhijab yang hampir sama lebarnya itu saling berpelukan, semuanya saling melepas rindu. Persahabatan yang tak lekang dimakan waktu. Walau hanya mengenal beberapa bulan saja tapi persaudaraan itu seakan sudah terjalin sejak dari lahir.
"Apa kabar?, lama sekali kita gak ketemu. Kau masih seperti dulu Mil, hanya saja sekarang kau pakai gamis!" Farhana,Gadis berjilbab hitam itu memegang kedua bahu Mila, memandang dari atas kebawah.
"Ah, kau juga sekarang sudah pakai tas samping, bukannya dulu kau paling anti tas seperti ini!" Mila memegang tas yang dibawa Farhana, dulu mereka sangat dekat sewaktu disekolah, mungkin karena sama-sama tomboy salah satu alasannya.
Dwi dan Linda hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Semenjak kau pindah sekolah, kami sengaja mengosongkan tempat tidurmu, kami tidak mengijinkan siapapun tidur disana kecuali kami, kami tidak ingin menghapus kenangan kebersamaan kita." ucap Linda
"Sampai segitunya kah kalian menyayangi,aku!" Mila berkaca-kaca.
"Lebih dari itu, kau tetap sahabat kami, penyemangat kami. Kau ingat dulu,sewaktu Linda menangis minta pulang. Tak betah dia dipesantren. Siapa yang membujuknya? Kau kan, kau yang bilang "Tidak lama kok kita disini, hanya 3 tahun. Cuman sebentar, Al-Azhar menunggu kita. Semangat!". Dwi mengingat masa-masa itu.
"Eh, bagaimana kabar ayahmu Mil, oh iya, itu suamimu? Kenapa sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?" Farhana mengamati Dzaki yang sedang berbicara dengan Fadhil,kakaknya.
"Alhamdulillah, ayah sehat. Sudah kembali seperti biasanya. Suamiku anak buya Latif, hee...."
"Pantesan sepertinya aku pernah melihatnya, anak pemilik pesantren to," ucap Farhana. Dwi, dan Linda menyimak takjub.
"Lelaki impian seluruh santri putri seangkatan kita. Anak satu-satunya, pintar, soleh, ganteng pula, beruntung sekali kamu,Mil." Dwi menimpali, menatap Dzaki lekat, seperti sedang putus harapan.
Tak terasa waktu Dzhur tiba, mereka bergegas menuju masjid Al-Husein, payung besar di pelatarannya menarik perhatian Mila. Seperti mesjid di Madinah. Hm... kapan aku kesana ya, gumam Mila dalam hati.
Dibenaknya, Madinah adalah destinasi wisata selanjutnya suatu saat nanti. Bukan wisata, ibadah. Ucapnya lagi membenarkan kata-katanya sendiri, yang juga tetap hanya didalam hati.
\=\=\=\=
Ke enam warga Indonesia itu sudah kembali berkumpul di pelataran masjid. Salah satu diantaranya mengeluh karena lapar dan merasa sangat rindu dengan masakan Indonesia. Maklum lah, sudah lebih satu minggu dia berkelana, mencari pengalaman baru diberbagai tempat yang penuh dengan pesona.
"Mas, adek laper. Ada gak disini yang jual masakan Indonesia." Mila memegang perutnya, cacingnya sudah mulai protes.
"Sepertinya disekitar sini tidak ada, dek. Setau saya, di Mall Arabia ada. Tapi jauh sekali kalau mau kesana." Fadhil menjawab pertanyaan yang tak ditujukan padanya.
"Siapa bilang gak ada. Ayo ikut saya, kita ke cafe "Ulya", ikut semua. Saya yang traktir!" Dzaki berjalan menarik tangan istrinya, menggenggamnya erat.
Pemandangan itu membuat tangan Fadhil terkepal. "Aku tau dia sudah sah jadi istrimu, tapi tidak perlu sengaja memperlihatkan kemesraan kalian dihadapanku." ingin rasanya dia menarik tangan wanita itu, wanita yang pernah menjadi semangatnya menuntut ilmu, dan dia juga pernah hampir putus asa karena wanita itu pindah kesekolah lain.
\=\=\=\=
Hidangan andalan cafe "Ulya" sudah tersedia dimeja, ada enam piring nasi goreng dengan teh hijau panas serta satu kaleng kerupuk yang terletak di setiap meja. Ciri khas cafe itu. Kaleng kerupuk khas Jakarta. Pengunjungnya juga lumayan banyak, bukan hanya mahasiswa Indonesia saja, tapi warga Mesir sendiri juga banyak. "Nassi Goyyeng" ucap mereka dengan aksen Arab yang kental.
"Akhirnya, aku menemukanmu." Mila membuka kaleng kerupuk. Mengambilnya dan langsung memakannya lahap.
Kreesh... kresh
"Ya Allah, betapa nikmatnya kerupuk ini."
__ADS_1
Dzaki dan ke empat teman-teman Mila menggelengkan kepala.
"Aneh... segitu kangennya sama kerupuk." Farhana memandang heran pada sahabat lamanya. Sejak kapan dia suka kerupuk, gumamnya.
"Sejak kapan adek suka kerupuk?" Dzaki tak kalah heran.
"Sejak tadi, Mas." Menyunggingkan senyum termanis, sepanjang masa.
Mereka semua pun makan dengan lahapnya. Tak bisa dipungkiri. Mereka juga sangat merindukan makanan khas Indonesia.
"Udah terobati rindunya?" tanya Dzaki melihat kepuasan diwajah istri manisnya itu.
"Loh, tapi kok tomatnya gak dimakan." Dzaki melihat isi piring istrinya yang menyisakan tiga irisan tomat yang masih utuh.
"Gak enak, bau. Adek gak suka." Mila bergidik melihat tomat dipiringnya.
Waktu terus berputar, sang surya telah hampir seluruh bagiannya tenggelam. Mereka harus berpisah disana.
Mereka berpelukan, saling memberi pesan untuk tetap menjaga persahabatan mereka yang pernah terputus.
"Pokoknya, setelah pulang ke Indonesia kita harus ketemu lagi." ucapan Mila seperti titah dari ratu Inggris, tak bisa dibantah.
"Bang Fadhil, sampai ketemu lain waktu. Semoga segera menyelesaikan studynya disini." Mila menangkupkan kedua tangannya didada.
"Iya, Mila jaga kesehatannya ya. Baarokallahulaka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir." do'a Fadhil untuk Mila.
"Aamiin, terimakasih. Kami duluan ya." ucap Dzaki merangkul pinggang Mila, mengajaknya segera berlalu meninggalkan mereka yang masih berdiri disana.
Mila merasakan aura persaingan diantara kedua laki-laki didekatnya. Tapi dia langsung melupakannya, sekarang dia sudah menjadi istri dari Arif Mudzaki. Tidak ada yang bisa mengganggunya lagi selain datangnya ajal dari sang Ilahi Robby.
Ini perjalanan terakhirnya kali ini, semoga ada traveling selanjutnya suatu saat nanti.
Dia selalu berharap semoga pernikahannya menjadi sakinah, mawaddah, warohmah seperti doa orang-orang yang menyayanginya.
\=\=\=\=
Perempuan manis bergamis menyandarkan kepalanya di dada suaminya, tak ada rasa canggung atau malu jadi perhatian sopir taxi di depannya.
"Kalau mau tidur, ya tidur saja." ucap Dzaki membelai kepala istrinya.
"Capek sih, Mas. Ngantuk juga. Tapi masih kenyang. Nasi gorengnya enak ya mas. Brilian tu yang punya cafe, kepikiran buat menu seperti itu pasti yang punya orang Indonesia. Nama cafenya,seperti nama belakang Mila ya,Mas." oceh Mila
"Iya, yang punya orang Indonesia. "Ulya" itu nama istrinya, menu makanan disana itu,terinspirasi dari rindunya si pemilik cafe pada perempuan yang bernama "Ulya" itu."
"Kok, mas tau sampai segitunya. Ownernya teman mas kuliah dulu ya?"
"Iya, namanya Arif... Mudzaki." Dzaki menaikkan kedua alisnya, saat istrinya menatapnya tidak percaya.
Mila menganga tak percaya, sepersekian detik perutnya seperti digelitik. Dan merasakan bau yang sangat tidak enak.
"Hm... mas kok bau!" Mila menjauh dari Dzaki, dia lebih memilih duduk menempel dengan pintu mobil.
Laki-laki itu hanya mengerutkan alisnya, heran melihat tingkah istrinya yang tak biasa.
__ADS_1