Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Hari kedua


__ADS_3

Suara kokokan ayam terdengar bersahut-sahutan, kicau burung pun mulai terdengar merdu. Perempuan dengan bermukena lengkap itu masih berada diatas sajadahnya. Bukan shalat, tapi tertidur.


Laki-laki yang sudah sekitar limabelas menit menunggunya bangunpun beranjak mendekatinya.


"Panggil saja namanya bang, pasti dia bangun." Dzaki teringat pembicaraannya dengan Nando


Dzaki menggeser posisinya, duduk sedikit menjauh dari istrinya yang tidur.


"Mila ... Mila" panggilnya


Perempuan bermukena itu langsung duduk, matanya melihat sekeliling.


"Ya Allah ... aku ketiduran." ucapnya yang masih belum menyadari keberadaan suaminya


"Kok bisa ya dek, tidur gak gerak-gerak sepertinya lelap sekali, tapi gitu namanya dipanggil terus bangun!, ajaib." ucap Dzaki tersenyum


"Eh..mas sudah pulang dari mesjid!, udah lama, mas?"


"Mas sudah selesai baca Al-Qur'an satu juz!"


"waduh..."


Mila melihat jam dinding, waktu menunjukkan jam 06.30 pagi.


"Ya Allah..., udah jam setengah tujuh. Mas mau sarapan apa?, minumnya biasanya apa mas,kalau pagi-pagi gini, teh atau kopi?" ucap Mila panik, sambil membereskan sajadah dan mukenanya yang masih terpakai. Ini hari pertamanya mengabdi pada suami.


"Hey...kok panik gitu, mas belum lapar kok!, mas mau nasi goreng, seperti yang mas makan waktu itu!"


"Nasi goreng,waktu itu?"


"Iya, waktu acara mengayunkan Annisa. Kan, mas makan nasi goreng sarapan paginya. Nasi gorengnya enak mas suka, waktu itu yang masak seorang perempuan yang masih sekolah Aliyah kalok gak salah , orangnya manis banget, sopan, taat sama orangtua. Kata orang-orang juga dia itu cerdas." ucap Dzaki melirik istrinya yang mendengarkan ocehannya dengan mengernyitkan dahi


"Mengayunkan Annisa? Anak Sekolah?, nasi goreng?, waktu itu kan yang masak aku." gumam Mila


"Mulai saat itu, orangtuaku selalu cerita tentang gadis itu,terutama ummi. Ummi suka sekali dengaannya. Jadi aku coba-coba menyukainya juga lah." lanjut Dzaki


"Coba-coba Mas?" ucap Mila cemberut


"Mas cuman coba-coba sama Mila?" mata Mila berkaca-kaca

__ADS_1


"Kalau coba-coba aja, nanti kalau gak cocok, diganti gitu maksudnya!" ucap Mila lagi


Dzaki yang melihatnya langsung panik,


"E..eh, mas becanda dek!" Dzaki menarik tangan Mila dan memeluknya


"Mas becanda, masak yang manis gini mau diganti, ya gak lah!, paling cuman ditambah lagi aja!" jawab Dzaki tertawa


Mila yang masih dalam pelukan menangis sambil tertawa.


"Ana uhibbuka fillah sayang." Dzaki mencium bibir istrinya


"Sini duduk, Mas minta waktunya setengah jam saja, jam tujuh nanti kita baru keluar kamar.Mas juga mau mandi." ucap Dzaki mengajak Mila duduk diujung kasur


"Ini untuk adek!" Dzaki memberikan kotak berwarna silver dengan pita diatasnya.


"Apa ini mas? Kado dari tamu mana yang mas ambil, haha...Mila buka ya mas." Mila tertawa, mencoba mengimbangi selera humor suaminya


"Iya, tadi mas nemu dijalan, jadi mas ambil aja,sayang kan kotaknya bagus, hahaha." balas Dzaki sambil tertawa juga


"Enak aja, ini dari ummi." ucap Dzaki serius


"Besok kan ngunduh mantu, ini bajunya yang adek pakai nanti. Kita tidak usah pakai baju banyak ya dek, capek. Kita pakai satu baju saja. Kata ummi, baju spesial untuk anak perempuannya." ucap Dzaki menjelaskan


"Oh.., capek ya mas ganti-ganti baju terus." Mila memegang kepalanya, serasa tidak ingin memakai sunting lagi.


Walau hanya sekedar baju, tapi Mila kelihatan sangat bahagia, apalagi itu dari ummi Ana, ibu mertuanya.


"Mas...,Kuliah Mila gimana?, Apa kita LDR dulu aja?"


"Mas udah nunggu Mila hampir 7 tahun loh, masak udah SAH, harus pisah lagi!" ucap Dzaki serius. Tangannya memeluk istrinya, seolah takut dia akan meninggalkannya.


"Nanti mas yang urus, pokoknya Dua hari setelah ngunduh di Medan, kita berangkat ke Malang. Mas juga harus kerja, gak enak sama yang lain kalau mas cuti-cuti terus."


"Tujuh tahun, mas?" mengingat sambil menghitung berapa tahun dia menyimpan rasa


"Hm...kalau kuliah,mas sudah sarjana, untung mas sabar orangnya penyabar." ucap Dzaki memuji dirinya sendiri


Tangan Dzaki mengangkat dagu istrinya yang dari tadi terus menunduk, mata mereka saling bertemu. Degup jantungpun serasa seperti selesai maraton. Kini hampir tidak ada jarak diantara mereka.

__ADS_1


Kriuk...kriuk


Suara cacing diperut Dzaki merubah wajahnya keduanya menjadi merah padam, sang pria menahan malu, sang wanita menahan tawa.


"Nasi goreng segera datang...." Mila mengenakan jilbabnya, berjalan meninggalkan Dzaki sendirian.


"Dasar perut, sabar sebentar kek ... tadi malam kan sudah diisi, gagal maning.." Dzaki menyambar handuk dibalik pintu, dengan langkah gontai menuju kamar mandi.


\=\=\=\=


Assalamu'alaikum... perempuan berjilbab lebar itu masuk kedalam rumah dan memeluk wanita didepannya.


"Baarokallahu laka,wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir." bisiknya ditelinga wanita itu


"Maaf ukhti kemaren tidak bisa ikut, Zizi sedang tidak enak badan, oh..ya,dek.. mana suami ukhti?" tanya Amira


"Ini suaminya, lupa tadi datang kesini sama siapa!" Hasan menghampiri


"Becanda abi!, Abi gak seru ah ...." ucap Amira cemberut


Mila tau yang dimaksud Amira itu Dzaki, kesalahpahaman waktu itu membuat Mila masih merasa malu bertemu dengan Amira.


Hasan dan Amira datang menjemput keluarga Arpin, karena besok acara ngunduh mantu di Medan.


"Udah siap semuanya dek?" tanya Dzaki


"Insya Allah, kalau ketinggalan kan bisa dijeput kemari." ucap Mila menyunggingkan senyum termanisnya


"Ada-ada aja, memangnya suamimu ini sultan, bisa naik pesawat kapanpun dia mau.., masmu ini hanya dosen sayang, harus nabung dulu untuk biaya pulang kampung!" jawab Dzaki seperti serius


"Mila becanda kok, mas!" jawab Mila merasa bersalah


Ini hari terakhir Mila ada dikamarnya, tepatnya dirumahnya. Setelah resepsi di Medan mereka akan langsung berangkat ke Jawa Timur.


Ini bukan akhir dari semuanya, melainkan awal yang baru buat pengantin baru.


"Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur : selalu berubah dan semakin indah setiap hari.”


Bahagia atau tidak kedepannya, tergantung dari pandainya insan mensyukuri segala karunia-Nya.

__ADS_1


__ADS_2