
"Calon mantu apaan, orangnya dingin banget tau gak, kalau diajak ngobrol dia nunduuuuk aja, masak aku nikah sama yang begituan, alim bro... alumni Mesir pula!"
Winda teringat kata-katanya sendiri, Hah... memang ada rasa minder sih sebenarnya. Ucap nya didepan cermin.
Jam karakter Doraemon dikamarnya menunjukkan jam 19.05. Gadis itu baru saja selesai mandi, sambil menyisir rambutnya yang pendek dia bersenandung. Winda memang suka menyanyi, tapi hanya untuk dirinya sendiri, kalau didepan umum seluruh pendengar akan dibuat pusing mendengarnya.
Perutnya keroncongan, cacing-cacing diperutnya sepertinya sedang berunjuk rasa meminta keadilan. Winda keluar kamarnya menuju dapur, karena suasana yang sunyi sayup-sayup terdengar lantunan Alqur'an yang sangat merdu. Gadis itu menghentikan langkahnya. Suara itu sepertinya bukan dari kamar ayah gumamnya.
Kakinya terus berjalan mencari sumber suara yang begitu menarik perhatiannya. Lantunan ayat suci itu begitu menenangkan.
Kakinya berhenti didepan pintu kamar yang sedikit terbuka. Dilihatnya laki-laki yang sedang memegang buku berwarna hitam tebal, takut ketahuan cepat-cepat dia lari kebawah. Kamar laki-laki itu berada diatas. Dulu itu kamarnya, tapi setelah ayahnya memberitahunya akan ada yang kost disini ayahnya menyuruhnya untuk pindah ke kamar tamu yang ada disebelah kamar ayahnya.
Rumah berlantai dua ini sekarang sering terdengar lantunan alqur'an merdu, membuat yang mendengarnya betah untuk berlama-lama disana.
***
Semakin hari Winda terbiasa mendengar murottal Al-Qur'an gratis tanpa quota internet. Mendengarkan suara Dzaki mengaji selesai shalat maghrib menjadi rutinitas baru untuk Winda. Setiap jam tujuh malam dia sudah standby di meja makan. Bukan untuk makan tapi untuk mendengarkan,karena dari situ suara Dzaki terdengar sangat jelas.
Berbulan-bulan berlalu sikap Dzaki masih tetap sama terhadap Winda. Kalau Winda bertanya dijawab sekenanya saja dan yang pasti dengan menundukkan pandangannya.
Pagi itu cahaya matahari masuk menembus jendela yang sudah terbuka lebar, gadis itu masih duduk didepan cermin memandangi bayangannya.
" Gak jelek-jelek amat kok, masih tetap modis " ucapnya memutar badannya kekanan kekiri.
Diambilnya tas dan beberapa buku yang tampak tidak tebal tapi lebar. Dipeluknya buku itu, dan iapun pergi menemui ayahnya yang menunggu dimeja makan.
" Selamat pagi Ayah" sapanya mencium pipi ayahnya
" Subhanallah... cantik sekali anak ayah! "
" Ayah..bisa ae " jawabnya sambil memegang kerudungnya
" Alhamdulillah, ayah sangat bahagia nak, sudah lama ayah menunggunnya." ucap Yahya berkaca-kaca
" Doakan Winda bisa jaga ini ya yah, supaya gak kegerahan hehe" matanya melihat kearah Dzaki yang sedang lahap memakan nasi goreng.
" Pak, doakan Winda ya! " sapanya
" Iya, semoga Istiqomah ya!" ucap Dzaki tersenyum ramah.
Deg.... senyumnya manis banget! sumpah...gue gak salah lihat nih, dia gak nunduk, dia liat gue sambil tersenyum! waw...amazing, baru pakai jilbab gini loh! ucap Winda dalam hati, ia memegang jilbab segitiga pendeknya.
" Hari ini ayah antar saja ya, Mobilmu masih di bengkel kan ki? " tanya Yahya
__ADS_1
" Iya buya, belum selesai kata montirnya "
" Kalau begitu sama buya saja perginya, tapi kita antar Winda dulu ke kampusnya oke!"
" Oke buya, terimakasih tumpangannya " jawab Dzaki sopan
Mata Winda tak berhenti memandang laki-laki yang sekarang tengah membuka pagar rumahnya. Sambil memanaskan mesin mobil Dzaki membuka pagar rumah, setelah semua siap mereka pun berangkat.
" Jadi gak enak buya Ki.." ucap Yahya
" Tidak apa-apa buya, masak iya buya yang nyetir Dzaki duduk diam disamping aja" jawab Dzaki yang tetap fokus kejalan
Gadis yang duduk dibelakang memperhatikannya, selain soleh, laki-laki ini juga sangat sopan. Kenapa semakin hari aku semakin mengaguminya ucapnya.
Dzaki yang merasa terus diperhatikan merasa risih.
" Winda... penampilanmu kan sudah berobah, shalatnya juga dijaga ya nak, trus gak usahlah ikut-ikut mendaki gunung lagi" ucap Yahya memecah kesunyian
" Loh..kok gitu yah, ini ni yang buat Winda gak semangat! " Winda menyilangkan tangannya di dada
" Maaf buya, bukannya ikut campur, menurut saya biarkan Winda dengan kebiasan lamanya, banyak juga kok akhwat yang naik gunung, jangan meninggalkan semua kebiasaan itu secara langsung, pelan-pelan saja. Tapi yang baru juga harus ditambah, untuk menjaga istiqomah itu susah, coba Winda berteman dengan teman-teman yang berjilbab juga sering tanya-tanya mereka, sharing gitu lah! berkumpullah dengan orang soleh. Banyak baca, mendalami apa yang harus dilakukan wanita muslim, apa yang boleh apa yang tidak boleh. Semuanya pelan-pelan, tapi pasti"
" Nah... itu Winda suka itu yah, jangan langsung ninggalin mapala dong! Mapala itu udah seperti jantung hati buat Winda hehe"
" Untung ada pak ustadz" ucap Winda
Kehampaan yang kurasakan seolah sirna karena kehadiranmu, aku rela meninggalkan semua teman-temanku, aku rela merubah kebiasaanku, bahkan aku rela mengubah penampilanku demi melihat senyumanmu yang sekarang mulai berani mengangkat pandanganmu.
Perlahan tapi pasti, kau akan menjadi teman hidupku. Kau akan menjadi Imamku, kau akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak.
Buka hatimu untukku. Pak Ustadzku*
*****
" Ca... pakai jilbab kayak lo ini gak ribet apa? gak gerah?" tanya Winda
" Kalau dibanding pakai bikini,pasti pakai ginian mah gerah atuh Wind" jawab Cici tersenyum
" Tapi lebih baik gerahnya sekarang, dari pada nanti kepanasan di akhirat, abdi mah henteu kuat " jawab Cici lagi
" Winda seharusnya bersyukur, apa-apa bisa tanya ke ayahnya Winda sendiri, pasti buku-buku dirumahmu banyaj sekali ya Wind?"
" Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, Jika kamu tidak mengetahui (Qs.An-Nahl 43)"
__ADS_1
" Ayahmu kan orang berilmu winda, dosen senior, siapa yang yak kenal ustadz Yahya, oh...ya, aku senang melihat penampilanmu sekaranh, semoga istiqomah ya. Habis kuliah ini kamu mau ngapain wind?"
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Segitu besar nama ayahnya. Ustadz..Dosen, orang terhormat, bagaimana ayah menanggung malu memiliki anak sebadung aku. Winda menyesali sifat dan kelakuannya selama ini.
" Gak ada, pulang aja " jawabnya
" Kalau gitu ikut aku yok, ada ta'lim di musholla kampus! " ajak Cici
" Boleh!" jawab Winda senang
Bertemanlah dengan orang soleh
Kata-kata Dzaki terngiang-ngiang diingatannya, semoga ini jadi awal yang baik.
Seperti pelita dimalam gelap, hadirmu memberi warna baru dalam hidupku. Bersamalah denganku, jangan tinggalkan aku. Bimbing aku menuju jalan terang itu. Jangan tinggalkan aku.
Semakin hari, Winda semakin menunjukkan ke seriusannya berjilbab, ayahnya terlihat sangat bahagia.
Hari berganti hari menjadi bulan, bulan berganti bulan menjadi tahun. Sudah satu tahun Winda menutup auratnya, jilbab yang duli diikat dilehernya sekarang sudah terurai panjang menutupi dadanya. Celana jins yang setia menemani dimanapun kapanpun sekarang sudah berganti menjadi gamis panjang nan longgar.
Tapi kekecewaan datang saat sang pujaan hati meninggalkan rumahnya. Dzaki berpamitan pindah meninggalkan gadis yang menaruh harapan besar kepadanya.
" Terimakasih atas kebaikan buya selama ini, saya sudah diterima seperti keluarga buya sendiri " Dzaki menyium tangan Yahya
" Sebenarnya buya masih berharap kau tetap disini nak, tapi buya tidak ada hak melarangmu. Main-mainlah kemari kalau ada waktu, pintu ini selalu terbuka untukmu "
Laki-laki itu masuk kedalam mobilnya, dan pergi.
Flashback and
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan gadis dalam kamar. Matanya sembab, mendadak sipit seperti meymey.
" Iya yah, ada apa? " jawabnya membuka pintu
Laki-laki paruh baya itu memeluknya.
" Ayah takut kau melakukan hal yang dibenci Allah nak." Yahya memeluk anak gadisnya, matanya berkaca-kaca, sekuat tenaga menahan agar air itu tidak jatuh.
Ayah dan anak itu berpelukan, penyesalan dihati Winda karena untuk kesekian kalinya melihat ayahnya kecewa, penyesalan juga dihati Yahya, karena tidak bisa memnerikan kebahagiaan untuk anaknya.
" Winda sudah tidak apa-apa yah, manusiawi kan Winda menangis, ini kali terakhir Winda menangisinya, janji yah... Insya Allah, ustadz Faruk akan membahagiakan Winda nanti "
Malam begitu hening, sunyi menghanyutkan jiwa-jiwa yang terlelap dalam mimpinya masing-masing. Mata gadis itu masih bengkak, namun tak ada lagi air yang menetes dari sudut matanya, tangannya terus menggulir butiran kecil yang tersusun rapi 33 biji. Bibirnya bergerak mengeluarkan suara lirih.
__ADS_1
Astaghfirullahal 'adzhim.....
Astaghfirullahal 'adzhim....