Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Tambahan support


__ADS_3

Suara tangisan yang dicoba ditahan terdengar perlahan, laki-laki yang tertidur di kursi ruang inap itu mengerjapkan matanya.


Melihat jam di pergelangan tangan kanannya. Tepat tengah malam.


"Kenapa, Sayang! mananya yang sakit?" ucap Dzaki menghampiri istrinya yang masih terisak. Tak ada jawaban, hanya pelukan yang diterima Dzaki saat posisi mereka sudah tak berjarak lagi.


"Hari ini, hari ulang tahun pernikahan kita. Maafkan aku, kalau belum bisa menjadi istri yang baik, belum bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Maafkan aku, karena sudah menyusahkan semua orang dan menyusahkan mu, Mas! Semoga di lima tahun pernikahan kita ini, kita bisa menjadi keluarga bahagia, sakinah, mawaddah dan warohmah. Terimakasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang mas berikan kepada ku. Aku mencintaimu, Mas!" tulisan dalam buku catatan yang diberikan Mila pada Dzaki. Mila memang meminta buku kepada Dzaki untuk komunikasi, karena mulut dan lehernya sakit.


"Oh, Iya. Happy Anniversary istriku. Wah... gak nyangka ya, kita merayakannya disini. Cihuy! Honeymoon lagi nih!" ucapnya memegang buku catatan itu. Kemudian ia meletakkan, dan memeluk erat istrinya yang menangis tersedu.


"Serius dong, Mas." ucapnya berbisik memaksakan diri untuk bicara.


"Iya, maaf... maaf!" peluknya semakin erat, mendekap istri manisnya. Pintu kamar terbuka, perawat jaga masuk kedalam ruangan. Perawat yang berjilbab itu terkejut melihat pasien di hadapannya.


"Ustadzah! ustadz!" ucap perempuan itu memandang Mila dan Dzaki bergantian. Dzaki memandang Mila, mengerutkan alisnya, seolah bertanya "siapa perempuan ini, dek?" sedangkan Mila yang di pandang, mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. "Sepertinya aku mengenalnya." ungkapnya dalam hati.


"Zahira!" kata itu keluar dari mulut Mila. Dengan suara serak dan pelan, namun masih bisa di dengar oleh dua pasang telinga manusia yang ada dikamar itu.


Ingatannya flashback ke tempat pertemuan pertama kali mereka di perpustakaan waktu itu.


"Ya, Allah. Kakak kenape?" Zahira duduk di ujung brangkar, memijat kaki Mila yang tertutup selimut. Sebenarnya pertanyaan yang tak perlu di jawab. Dilihat dari data pasien, Zahira pasti sudah tau. Kenapa Mila berada disitu saat ini.


"Waktu lihat data pasien tiga hari lalu, memang Ira ada baca nama kakak, sebenarnya sewaktu baca juga Ira teringat kan kakak. Cuma Ira rasa tak mungkin lah, akak sakit macam ni! Dah tu, tak ada jadwal Zahira piket disini!"


"Abang Ahmad, kene tau pasal ni!" Zahira mengambil gawai dalam saku bajunya. Tangan pucat itu menghentikan gerakan Zahira, dan menggelengkan kepalanya.


"Kawan-kawannya tak ada yang tau!" ucap Dzaki, menjawab tanda tanya di benak Zahira.


"Hah!" Zahira menghela nafas, menatap Dzaki yang meletakkan telunjuk tangannya di depan bibirnya.


"Oh, ok... saya periksa sekejap ya kak!" Zahira mengecek keadaan Mila. Bersikap profesional sebagai tenaga medis dirumah sakit tersebut. Biasanya jadwal kunjungan tengah malam begini hanya sekedar mengecek infus atau ada keluhan yang dirasakan pasirn saja. Tapi karena pasiennya juga terbangun ditambah lagi suster mengenalnnya, tak apalah sekalian diperiksa.


"Bawa istirahat ya, Kak. Lekas sembuh!" Pamit Zahira kepada Mila dan Dzaki, ia hendak mengunjungi ruangan yang lain. Hari ini jadwal piket pertama Zahira shif malam. Karenanya dia baru bisa bertemu dengan Mila yang kebetulan sedang dirawat inap karena kondisinya yang semakin lemah tiga hari belakangan ini.


"Tidurlah lagi, sudah mau pagi juga!" ucap Dzaki mengusap dan mengecup kening istrinya.


"Lekaslah sembuh. Apa adek tak ingin menerima hadiah ulang tahun pernikahan kita?" Dzaki mengulum senyum, sengaja menggantung perkataannya, berharap istrinya penasaran. Dan sepertinya caranya berhasil.

__ADS_1


"Mas, mau kasih apa?" ucap Mila dengan suara yang parau.


"Melihat langsung kiblat ummat muslim seluruh dunia, kemudian mampir ke masjid kubah hijau, lalu ke cafe Ulya yang buka cabang disana!" ucap Dzaki menaikkan alisnya setelah berbisik ditelinga istrinya. Mila membelalakkan matanya!


"Serius, Mas?" sakit dilehernya mendadak tak dirasakannya lagi.


"Sembuhlah dulu. Setelah sembuh kita berangkat!" ucap Dzaki membaringkan badannya diatas brangkar. Mila menggeser badannya. Mereka pun tidur berdua di atas barangkar. Seperti malam pertama lima tahun yang lalu.


\=\=\=\=\=


Perempuan berambut sebahu dengan piyama tidurnya terlihat masih sibuk dengan tumpukan undangan yang berserakan ditempat tidurnya. Sesekali dia menguap karena jam sudah sekitar jam satu dini hari.


Ia membuka kacamatanya dan meletakkannya diatas nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya. Mengambil gawainya, memeriksa pesan yang dikirimkan ke sahabatnya.


"Kok belum di balas, ya? tapi sudah dibaca. Gak biasanya dia gini. Udah tiga hari dia gak ada kabar. Besok saja lah aku telepon!" ucapnya sendirian. Dibaringkannya tubuh lelahnya disebelah undangan yang berserakan.


Dua jam kemudian alarm di Handphone nya berbunyi. Perempuan itu membiarkannya saja. Suara pintu terbuka, dan derap langkah yang semakin mendekat.


"Kakak, alarmnya sudah berbunyi. Mau bangun atau tidur lagi? Udah mau jadi istri kok bangunnya susah sih, Kak!" ucap perempuan itu.


"Hm... kalau dokter Tirta tau, calon istrinya pemalas begini, bisa-bisa dibatalin nih. Gak jadi nikah!" ucap perempuan yang dipanggil bunda tadi.


"Biarin! nanti cari lagi! kali aja ada dokter lain yang mau!" ucap Juna yang saat ini sudah duduk dengan malasnya.


"Biasa aja muka nya! Gak usah di manis-manisin gitu!" Cindy memegang dagu anak sulungnya itu. Meski dia hanya ibu sambung, tapi kasih sayangnya tulus. Cindy meninggalkan Juna yang masih mengantuk. Juna mengambil Hapenya melihat pesan yang dikirimnya namun masih belum dibalas. Ia menekan icon bergambar gagang telepon.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.


"Gak pernah-pernahnya kawan ini, mematikan hapenya. Kenapanya kau Mila? kok gak enak hatiku!" Juna mencoba menelepon nomor yang bertuliskan SUAMI MILTUL.


tuuut... tuuut.


"Halo, Assalamu'alaikum." ucap Dzaki


"Wa'alaikumsalam, bang. Ini Juna bang, kawan Mila sekolah dulu! masik ingat kan, bang! Ada si Mila bang? kok gak dibalas-balasnya chat ku dari semalam, ah... gak semalam pun. Udah empat hari sama hari ini lo. Bang! Kok diam aja abang?" Mila mengeraskan suaranya mengucap kata Halo sebanyak-banyaknya sampai mendapat jawaban dari lawannya bicara.


"Sebentar! nanti saya telepon lagi." jawab Dzaki berbisik.

__ADS_1


"Bah... kenapa pula nan...."


tut... tut...tut. panggilan terputus.


"Apanya abang ini, maen matikan-matikan aja dia!" Juna melemparkan gawainya ke kasur, berjalan menuju kamar mandi. Adzan subuh sudah selesai beberapa menit yang lalu.


Di rumah sakit


"Adek, masih lama di dalam?" Dzaki mengetuk pintu kamar mandi.


"He-em!" ucap Mila.


"Mas, keluar sebentar ya! Ada yang telepon tadi, sepertinya penting!"


"Iya, Mas. Gak papa. Adek bisa sendiri kok!" ucap Mila yang tampak sangat segar pagi ini.


Dzaki keluar dari kamar itu, berjalan sedikit menjauh, mendekati kursi yang bersusun di sudut ruangan. Melihat gawainya, memanggil kembali panggilan yang masuk ke gawainya beberapa menit yang lalu.


"Halo!" jawab orang dari seberang sana.


"Halo, ini Juna tadi kan!"


"Iya la, Bang! baru kuteleponnya tadi. Oh... iya, mana si Mila bang?"


"Mila sedang sakit, mohon doanya ya, Juna. Sekarang kami di Penang, Mila sedang radioteraphy di sini. Empat hari yang lalu dia drop. Jadi harus di rawat inap disini."


"Loh, kenapa gak cerita dia!" suara Juna bergetar.


"Dia tidak mau membebani, mu! Pernikahan Juna kan tinggal sebulan lagi, katanya nanti Juna kepikiran!" jelas Dzaki


"Ah, ada-ada saja si Mila ini! kayak orang lain di buatnya aku. Pantas saja dari semalam perasaanku gak enak! Makasi ya bang, udah mau kasi tau aku" ucap Juna menutup teleponnya.


"Pantas saja, gak enak perasaanku dari semalam, rupanya kenapa kalok aku tau kau sakit! gak mau kau rupanya ku doakan. Awas saja kau ya, ku jitak kepalamu itu nanti!" Juna menurunkan kopernya dari atas lemari. Memasukkan beberapa baju, mukena beserta sajadah kecilnya. Juna melirik jam dinding, sudah pukul enam kurang sepuluh. Dia terlupa sesuatu.


"Astaga, aku belum sholat subuh!" umpatnya, seketika berlari mengambil wudhu kembali.


Shalat subuh kali ini, begitu khidmat. Do'a setulus hati terucap dari bibir Juna, mengharapkan kesembuhan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2