Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Pergi


__ADS_3

Acara berlangsung sangat meriah, alunan musik terdengar mengalun indah. Sepuluh tahun tak bertemu memberikan efek rindu yang menggebu. Tak sedikit tenaga pengajar yang masih setia menjadi guru disekolah swasta tersebut meneteskan air mata. Bangga, melihat kesuksesan anak-anak yang dulu di bimbingnya.


Pak Iman salah satunya, tubuhnya yang dulu kekar, tampan dan mempesona. Kini sudah terlihat ringkih, meski sisa-sisa ketampanannya masih sedikit terlihat dari raut wajah keriputnya, namun pesonanya sebagai guru idola masih tetap melekat. Matematika yang sangat angker masih bisa ditaklukannya menjadi mata pelajaran paling menyenangkan.


"Mila apa kabarnya, kenapa tidak datang?" tanya pak Iman, ketika melihat Juna hanya bersama dengan Uni dan satu perempuan lagi yang tak begitu dikenalnya. Maklumlah memang pak Iman cukup dekat dengan Mila Cs, karena kumpulan siswa berprestasi, hanya Juna saja yang sedikit tertinggal, tapi tetap bisa diingat karena sifatnya yang sangat humble.


"Dia sedong umroh, Pak!" jawab Juna.


"Oh, Alhamdulillah... bapak senang mendengarnya, bukannya beberapa minggu yang lalu dia sakit?" pak Iman teringat dengan satu kotak buku yang di berikan Arpin beberapa minggu yang lalu.


"Iya, Pak! Dia sakit kanker otak. Tapi Alhamdulillah sudah sembuh." Juna menunjukkan beberapa foto yang diambilnya sewaktu masih berada di rumah sakit.


"Masih nampak seperti dulu ya! hanya saja terlihat pucat!" ucap pak Iman yang sekarang sudah menjadi kepala sekolah. Sementara pak Husin sudah pensiun dan menetap di kampung halamannya.


\=\=\=\=


Laki-laki bertubuh atletis tampak masuk kedalam kelas, mendudukkan tubuhnya dikursi di bagian paling depan. Netranya menyapu seluruh ruangan, helaan nafasnya panjang. Seakan bernostalgia membuka memory sepuluh tahun yang lalu. Tak bisa dipungkiri dia memang merindukan sosok gadis itu.


Begitu khidmatnya dia dalam lamunan, sampai dia tak menyadari kedatangan seseorang. Perempuan berjilbab coklat itu mengalungkan tangannya dileher suaminya.


"Masih belum hilangkah cinta itu, Bang!" tanyanya dengan suara yang bergetar. Ada rasa sakit yang tersimpan didalam hatinya.


"Sudah sebelas tahun, rasa itu terkubur, Dek! Abang tau ini akan menyakitimu. Tapi abang, juga tak tau. Kenapa hari ini, rasanya abang sangat berharap kakakmu hadir di sini! abang merasakan sesuatu telah terjadi padanya! Maafkan abang Aisyah!" Erwin menatap nanar Aisyah yang sudah berurai air mata. Sesakit ini kah rasanya, jika mengetahui bahwa suaminya pernah mencintai orang lain selain dirinya.


"Abang mencintaimu, Dek! tapi abang masih merasakan sedikit rasa ini kepada Mila. Melihatnya sakit abang pun ikut merasakan sakit! Maafkan abang, Dek. Maaf! bukan sengaja abang melakukan ini."


"Aisyah memakluminya, Bang! Siapapun laki-laki yang mengenal mba Mila pasti akan jatuh cinta. Aisyah sadar, Aisyah tak bisa seperti mba, tak bisa sesolehah mba!" Aisyah meremas ujung jilbabnya. Melihat itu Erwin merasa sangat bersalah.


"Sewaktu ada kesempatan, kenapa abang tak pernah mengungkapkannya?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Aisyah.

__ADS_1


"Abang merasa tak pantas! abang sadar diri, Dek! abang juga tak mau merusak tali persahabatan kami!" Erwin menatap keluar pintu, tampak sekelebat bayangan gadis yang ditunggunya tersenyum kepadanya.


\=\=\=\=\=


Sepasang suami istri paruh baya, dengan wajah sedikit panik, mencoba berulang-ulang panggilan video melalui benda pipih itu.


"Abi, tidak mengangkat teleponnya, Nak! mungkin Abi sedang ibadah!" Arpin mencoba menenangkan cucunya yang bersikeras mau melihat Ummanya dari panggilan video.


"Ayo siap-siap, kita ke mesjid. Sudah mau masuk waktu Ashar! Kita doakan saja, Umma dan Abi baik-baik saja. Nanti juga kalau waktu mereka senggang akan telepon balik."


"Iya, Opung! Hafiz mau mandi dulu!" ucap Hafiz, menaruh mobil-mobilan kecil kesayangannya di atas meja, kemudian masuk kekamar yang dulu dipakai ummanya.


Meski belum genap empat tahun, Hafiz sudah dibiasakan mandiri oleh Mila. Dia sudah biasa mandi sendiri, dan memakai baju sendiri. Jadi tidak merepotkan orang lain. "Kita tidak boleh merepotkan orang lain, selagi kita bisa melakukan perbuatan apapun sendiri ya lakukan sendiri!" itu ucapan yang sering keluar dari mulut ummanya.


\=\=\=\=


Di dalam rumah bernuansa hijau, Ana duduk dengan gelisah, menunggu kabar dari anak semata wayangnya. Bukan hanya Ana, buya Latif yang berada di pesantren juga tak tenang setelah mendapatkan telepon dari istrinya.


Buya Latif menempelkan benda pipih ketelinganya, beberapa detik kemudian dia sudah tampak berbicara.


"Bagaimana, Nak?" tanyanya kepada orang di seberang sana.


"Masih di tangani, Buya! mohon doanya!"


\=\=\=\=


Hafiz berlari setelah turun dari kereta opungnya. Tak sabar ingin menelepon Ummanya. Begitu masuk kedalam rumah, dia melihat Malik dan Tio sedang bermain mobil-mobilan miliknya.


"Assalamu'alaikum!" ucapnya melemparkan sendalnya dengan kaki kesembarang arah.

__ADS_1


"Adek Tio!" ucapnya gemas melihat Tio yang masih baru mulai belajar berjalan.


Hafiz pun bermain bersama dengan Malik dan juga Tio, sehingga lupa dengan keinginannya untuk menelepon orang tuanya.


Arpin masuk kedalam rumah meletakkan kunci diatas meja, mencari keberadaan istrinya.


"Sudah ada menelepon orang itu?" tanya Arpin mendapati istrinya, Aisyah dan Erwin ada didapur.


"Ada apa ini? kenapa kalian semua menangis?" Arpin terlihat heran.


Mai istrinya sedang terduduk lemas dalam pelukan Aisyah. Sementara Erwin masih megang telepon seluler milik Arpin. Dan telepon itu masih tersambung.


Arpin mengambilnya, mengucap kata Halo berulang-ulang. Yang terdengar hanya suara terisak.


"Halo besan! ada apa? kenapa semua menangis?"


\=\=\=\=\=


Juna masih dalam perjalanan pulang. Adzka menyetir dengan kecepatan sedang. Hening, tak ada percakapan diantara mereka. Mood Juna tiba-tiba berubah, seperti ada yang hilang dalam hidupnya. Ada rasa sedih, mungkin terlalu terbawa perasaan sewaktu reuni tadi. Begitu cepat waktu berlalu, sepuluh tahun tak menginjakkan kaki di sekolah yang sudah memberinya banyak kenangan, membiatnya serasa tak ingin segera pulang.


"Mas! kita putar balik aja, ya!" ucap Juna tiba-tiba.


"Putar balik kemana?" tanya Adzka.


"Kita kerumah temanku, yang kemaren kita jenguk!"


"Bukannya dia umroh!"


"Udah, gak usah banyak tanya! tadi Erwin bilang mereka mau mampir kesana, anak Mila sekarang dirumah opungnya. Tak apalah tidak bertemu

__ADS_1


emaknya tapi ketemu anaknya!" Adzka menghidupkan lampu sein mencari celah untuk bisa putar balik.


Juna memejamkan matanya, menyandarkan tubuhnya di jok mobil calon suaminya. Sekelebat wajah Mila yang tersenyum muncul tiba-tiba.


__ADS_2