
Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia. (Ali bin Abi Thalib)
______________________________
Bintang-bintang bersinar menerangi gelapnya malam, bulan tampak sedikit tertutup awan.
"Aquila... Aries...." ucanya dengan tangan menunjuk keatas, seolah mencoretkan garis menghubungan antara bintang satu ke bintang lainnya.
Bibir bisa tersenyum, walau hati siapa yang tau. Lain halnya dengan mata. Jika ada
cinta dihati, begitu netra bertemu akan bisa menyimpulkan sesuatu yang tersembunyi.
"Jangan berharap kepada manusia. Berharaplah hanya kepada Tuhan." ucap Dzaki berdiri disamping Mila.
Sudah lebih dari satu jam Mila berada dibalkon kamarnya. Suasana hatinya campur aduk, mencoba memakluminya. "Jarak Medan-Malang tidak dekat Mila. Yang penting kedua orangtuamu mendo'akanmu, itu sudah lebih dari cukup." gumamnya dalam hati, Lain lagi dengan alat tes kehamilan ke enam yang digunakannya tadi,dengan hasil yang masih sama. Menambah ruet suasana hatinya.
Besok adalah hari yang bersejarah untuk Mila. Graduation, Wisuda. Siapa yang tak bangga,namanya akan disebut dengan gelar dan prestasi yang diraihnya,dan juga disebutkan nama orangtuanya. Tapi yang disebut tidak datang.
"Aku berharap ayah dan mamak bisa datang, mas." Mila menyandarkan kepalanya dipundak kiri suaminya.
Kecewanya bertambah setelah tau buya dan ummi mertuanya juga tidak bisa datang.
"Wa ilaa robbika farghob, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.(Al-insyiroh ayat 8), kata Ali bin Abi Thalib, Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." Dzaki memindah posisinya kebelakang istrinya. Tangannya memeluk mesra,melingkarkannya di pinggang Mila.
"Mas disini, dek. Jangan pernah merasa sendiri. Besok juga teman-temanmu datang. Apa kurang banyak? kalau gitu,besok mas ajak teman-teman dosen mas deh, buya Yahya, buya Lakum, buya Rasyid juga deh." semua yang disebut Dzaki adalah dosen senior dikampusnya.
"Kurang,mas. Sekalian bawa cucu-cucunya juga." ucap Mila memajukan bibirnya. Spontan tangan Dzaki mencubitnya.
"Sakit, Mas." ucap Mila melotot.
"Heh... gak boleh melotot gitu sama suami."
"Mas pulaknya, orang lagi sedih yang tak berkesudahan pun, bukannya dihibur, malah tambah di hinadina." logat asli kambuh lagi.
"Ih...bahasanya, dek. Romantis sekali." ucap Dzaki tersenyum geli.
Perempuan manis itu menyerah. Dari tadi dia mencoba membendung airmatanya. Berharap suaminya menenangkanny,bukan malah menggodanya. Air matanya menetes deras, cengeng. Begitulah Mila. Dzaki mengeratkan pelukannya, kali ini wajah istrinya sudah dihadapannya. Dzaki tak sengaja melirik sesuatu yang tergeletak diatas meja.
"Hm... kenapa test lagi sih." ucapnya dalam hati.
Digandengnya tangan istrinya masuk kedalam. Malam yang semakin larut membuat udara semakin dingin.
"Duduklah disini, mas punya sesuatu untuk adek." Dzaki mengambil kotak sepatu bergambar daun singkong, dan memberikannya kepada Mila
"Kok Mila dikasi sepatu, Mas?" ucap Mila mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Buka dulu, siapa tau isinya beda."
Perempuan itu mengambil beberapa berkas didalamnya, ada buku kecil seperti buku nikah yang bergambar burung Garuda.
"Paspor!" ucap Mila penuh tanya, matanya menengadah, menatap wajah suaminya yang berdiri didepannya.
"Maaf, mas belum bisa membahagiakan adek. Ini hadiah kecil dari mas. Selamat Wisuda. Akhirnya selesai juga perjuangan adek selama ini. Semoga ilmunya bisa di implementasikan di kehidupan, lingkungan, dan masa depan adek, ah.... masa depan adek sudah jelas kok!" ucap Dzaki mengakhiri kata-katanya yang sedikit Formal
"Memangnya masa depan adek apa, Mas?" tanya Mila polos.
"Masa depan adek, ya Mas lah."
Senyuman tersungging manis dibibir Mila yang sedikit tebal. Walau tebal tapi cantik. Cantik dimata Dzaki, cantik itu memang relatif.
\=\=\=\=\=
Selamat ya, selamat ya, kata-kata yang diucapkan setiap orang yang menjabat tangan para wisudawan. Buket bunga, boneka, sampai setangkai mawar yang dibungkus plastik transparan bermotifpun mereka berikan.
"Banyak banget hadiahnya, dek." ucap Dzaki melihat istrinya kesulitan membawa beberapa buket bunga. Dzaki mengambil beberapa, membawanya berjalan duluan ke mobil.
Mila memang baru hitungan bulan kuliah disana, tapi bukan Mila namanya kalau tidak mempunyai banyak teman. Ditambah lagi disini, teman-temannya merasa logatnya unik. Lucu seperti orang berantem kalau ngomong!, begitu kata teman-temannya.
"Mila!" terdengar suara, memanggil namanya. Mila menoleh keasal suara. Menghentikan langkahnya yang ingin masuk kedalam mobil.
"Selamat atas Wisudanya ya dek." ucap Winda, mengulurkan tangannya.
"Terimakasih, mba." ucap Mila menyambut uluran tangan itu.
"Loh, pak Dzaki." Winda terkejut melihat Dzaki keluar dari mobil.
Dzaki yang hendak menyusul Mila, juga sedikit terkejut melihat istrinya bersama Winda.
"Eh... Winda. Apa kabar?" tanya Dzaki basa-basi.
"Alhamdulillah baik,pak." Winda mengarahkan telunjuknya bergantian menunjuk keduanya.
"Suamimu pak Dzaki,dek?" Winda seperti tak percaya.
"Bagaimana bisa dia tidak tau kalau Mila itu istriku. Waktu dirumah sakit itukan, buya tau." gumam Dzaki
"Iya, mba. Ini suami Mila." Mila menggandeng suaminya, bergelayut manja. Seolah menegaskan,walau hanya dengan perbuatan. Dzaki menahan senyum melihat tingkah istrinya. Dia paham, kenapa istrinya begitu.
Ada rasa tidak nyaman melihat pemandangan tepat dihadapannya. Ada rasa luka dihatinya.
"Em..., pak Dzaki selamat atas pernikahannya," Winda menangkupkan kedua tangannya didada.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu dek, pak. Mau ketemu teman disana." Winda pergi, terus beristighfar lirih menata hati.
Dzaki melihat perempuan yang berlalu pergi itu sampai hilang dari pandangan matanya.
"Auu...." jerit Dzaki tertahan.
"Liatin aja terus, kalau suka, kenapa malah nolak lamaran ayahnya!" ucap Mila berlalu meninggalkan Dzaki yang masih mengusap-usap pinggang bawahnya.
"Sakitnya,dek. Nyubitnya pake dendam ini namanya!" Dzaki mengejar istrinya yang sudah masuk kedalam mobil.
"Kita berangkat sekarang?"
"Gak, besok aja!" jawab Mila ketus.
"O, ya udah." Dzaki mematikan mesin mobilnya, mengambil gawainya. Membaca berita online.
5
4
3
2
1
Kalau marah karena cinta, tidak akan berlangsung lama. Hitung mundur saja.
Dzaki mengingat sepenggal ceramah ustadz Salim A.Fillah.
"Maaas...." Mila menggoncang-goncangkan tubuh suaminya.
"Ayo,berangkat. Nanti kita ketinggalan pesawat." ucap Mila lagi
"Katanya besok," Dzaki berkata serius.
Cup, satu ciuman mendarat di pipi Dzaki.
"Sekarang, Mas." ucap Mila. Malu sendiri mengingat yang dilakukannya barusan.
\=\=\=\=
Langit begitu tenang, awan biru menghias indahnya ciptaan Tuhan.
Penerbangan kali ini sangat menyenangkan bagi Mila. Rasa takut pasti ada, tapi mengingat tempat yang akan ditujunya membuat semangatnya menggebu-gebu, tak sabar ingin segera sampai kesana.
__ADS_1