Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Kabar Gembira


__ADS_3

"Alhamdulillah, semoga menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Maaf... ana tidak bisa hadir di hari bahagia antum. Baarokallahulaka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir."


Laki-laki itu tampak sangat bahagia mendengar pernikahan sahabatnya. Walau dia hanya bisa mendoakan saja.


Banyak kabar bahagia yang ia dapatkan dari Indonesia selama ia menempuh pendidikan di negri piramida itu.


Berbeda dengan Laki-laki yang memakai baju teluk belanga lengkap dengan songket melingkar di pinggannya. Ia duduk terdiam sambil memutar mutar Handphone di tangannya. Hari bahagianya ini rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran sahabatnya itu.


"Bang... pakekla bajumu, kak Maya udah siap ni!"


Gadis bergamis biru dengan jilbab senada keluar dari kamar, Menggandeng perempuan memakai pakaian adat batak toba, sedikit berbeda memang tidak seperti pakaian adat batak yang sebenarnya, ada sedikit modivikasi disana sini terutama di bagian kepala. Karena yang memakainya menggunakan jilbab yang terlihat panjang menutupi bagian dada.


Laki-laki itu memandangi gadis yang dari tadi menundukkan pandangannya, pipinya memerah, ia tau suaminya memperhatikannya dari tadi.


"Macam gak pernah nengok kak Maya aja abang, kularikan pula nanti dia lo!" oceh gadis manis dihadapannya itu.


"Cerewetnya!!!" ucap laki-laki itu memegang pucuk kepala Mila yang dari tadi tak berhenti mengoceh.


Hari itu acara ngunduh mantu di rumah Zain. Zain dan Maya sudah menikah empat bulan yang lalu di Pekanbaru. Maya nama istri Zain, gadis cantik keturunan Melayu Riau hidungnya mancung berkulit sawo matang, lulusan Kairo dan mengabdikan diri di pesantren tempatnya bersekolah dulu. Pesantren yang sama dengan Zain dan Arif Mudzaki.

__ADS_1


Tamu terus berdatangan memberikan doa selamat kepada pengantin yang bahagia disinggasana. Arpin dan Mai juga tampak bahagia. Ngunduh mantu ini diadakan dirumah mereka, hanya sederhana tidak perlu menyewa hotel.


"Kita buat di rumah saja ya, Zain! gak pala meriah kali kita buat ya, kan kemaren udah waktu resepsi disana. Disini cuman ngabarin jiran tetangga sama kawan-kawan ayah sajanya!" ucap Arpin saat di telepon beberapa hari yang lalu.


\=\=\=\=


"Mila!!!" sapa perempuan yang menggendong anak kecil


"Ukhti Amira! heyy... anak gadis ibu...." Mila mencubit pipi Zizi gemes. Zizi langsung mengangkat tangannya meminta Mila menggendongnya.


"Ukhti sama siapa? Makan ukht... biar Zizi Mila yang jaga." ucap Mila mempersilahkan Amira yang hadir di acara ngunduh mantu tersebut.


"Sama Ummi dan Abi Mil... tuh di sana!" tunjuk Amira


"Mila...." sapa wanita paruh baya itu menghampiri Mila.


"Nenek! Zi... sama ibu cantik!" Zizi memeluk Mila yang masih dalam gendongannya.


Mila mencium tangan Ummi Ana dan seperti biasa Ana memeluknya. Kehangatan pelukan Ummi membuat Mila merasa sangat nyaman seperti memeluk mamak. gumamnya dalam Hati.

__ADS_1


"Ummi apa kabar? sudah lama sekali kita gak ketemu ya, Mi." sapa Mila ramah membuka pembicaraan.


"Wah... lama sekali, Nak! terakhir ketemu waktu Mila mengantar Zain kan!" ucap Ana mengingati pertemuan terakhir mereka.


"Iya, Mi! hampir 3 tahun yang lalu! sudah lama sekali ya, Mi"


Mila memutar memorinya, saat mengantar Zain kesimpang Lima untuk menemui buya Latif dan keluarga. Tiba-tiba dia teringat Dzaki. "Oh... ternyata ukhti Amira istri bang Dzaki." ucap Mila dalam hatinya.


"Ayo ummi kita makan!" ajak Amira


"Iya, Mi! biar Zizi Mila yang jagain!" tambah Mila lagi.


"Terimakasih ya, Mil. Tapi Zizi turun dong sayang, kasian ibunya loh " ucap Amira merasa tidak enak dengan Mila, Zi memang slalu begitu kalau ketemu dengan Mila yang selalu disapanya dengan "ibu".


"Gak apa-apa ukh.... " jawab Mila ikhlas, dia memang tidak keberatan sama sekali.


Ana dan Amira masuk kedalam rumah. Disini kalau mengadakan resepsi, Keluarga dekat makannya di dalam rumah. Itu cara kami memuliakan keluarga. Tapi sebenarnya tidak ada bedanya, makanan dan minuman yang di sediakan di dalam rumah atau diluar sama saja. Hanya saja kalau di dalam leluasa duduk dan bercengkrama makan bersama. Ciri khas kami orang batak... makan bersama tanpa meja makan.


"Sayang Dzaki gak ikut ya, Ra " ucap Ana di sela sela makannya, melihat keluar menatap Mila yang masih setiap bermain dengan Zizi dalam dekapannya.

__ADS_1


"Iya mi.... " jawab Amira


Flashback selesai


__ADS_2