Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Mengayunkan


__ADS_3

Maarhaban..marhaban yaa nuurul 'aini rul 'aini marhaabaan marhaban ya ya yaumar habaan... shollallahu 'ala muhammad shollallahu 'alaihi wasallam...


Bayi mungil hitam manis itu tetap tertidur dalam gendongan mamanya. Tanpa menghiraukan lantunan shalawat yang di kumandangkan ibu ibu pengajian mertua kak Husna.


"Annisa Aulia... semoga menjadi penyejuk hati kedua orang tuamu dan orang orang di sekelilingmu." cium Arpin sambil menggendong cucu pertamanya.


"Udah jadi opung opung ya bang! selamat bertambah tua." Mai membelai lembut kepala cucunya kemudian menggunting sedikit rambut baby Annisa.


Disusul pula oleh neneknya, tulang gantengnya, tulang keciknya,


"Ibu nya mana, mak? tanya Husna?"


"Iya, dari tadi gak nampak!" Retno ikut menimpali. Daritadi dia memang belum melihat adik iparnya itu.


"Sebentar lagi datangnya itu, kesekolah tadi dia. Hari Rabu nanti kan sudah ujian akhir, tak berani la dia bolos sekolah" jawab Mai kepada anak menantunya.


"Ya sudah, kita lanjutkan do'a saja. Gak usah ditunggu!" ucap Arpin


"Owalah... ibunya gak ikut motong rambutmu, Nduk!" bu Galuh mengajak bicara baby Annisa dalam gendongannya.


"Tidak apa-apa, Mbak! yang penting untuk Annisa." ucap Mai menenangkan bu Galuh, besannya.


Zain mengambil mikropone dari Mc dan memberikannya kepada buya Latif.


"Zain mohon buya memimpin do'a." Zain menyodorkan mikrophone kepada laki laki paruh baya yang terlihat sangat dihormati seluruh tamu yang ada disana. Tak terkecuali keluarga besar Mila.


"Baiklah.... " ucap buya Latif sambil mengambil mic dari tangan santri kesayangannya itu


walhamdulillahi robbil 'aalamin. Buya mengakhiri doanya. Disusul para tamu mengaminkannya.

__ADS_1


"Terimakasih sudah datang, buya. Suatu kehormatan buya bisa datang ke acara tasyakuran kakak saya." Zain menghampiri buya Latif yang sedang duduk mengobrol dengan Arpin.


"Rasanya baru kemarin bapak mengantarkan Zain ke Pesantren, masik ingat lagi saya dia menangis tak mau ditinggalkan! sekarang sudah jadi Asisten. Alhamdulillah." buya Latif bercerita matanya menerawang mengingat yang di ceritakannya.


"Alhamdulillah... terimakasih bimbingannya selama ini, buya. Tak salah kami menyerahkannya dulu ke Pesantren buya " ucap Arpin.


"Anak ini nya yang betuah, baek budi kali. pintar pulak, jadi senang membimbingnya. bukan karena pesantren saya." buya Latif memukul pundak Zain yang dari tadi diam mendengarkan orang tuanya bercerita.


"Zain, ajak ayahmu sama buya makan." bisik Mai pelan


"Iya, mak. Buya, ayah ayok makan dulu kita!"


"Dzaki... yok makan juga, enak ini makanannya. Jangan malas kali kau makan!" ajak buya kepada anaknya, Arif Mudzaki.


"Iya... ayo lah, rubah sikit kebiasaan malas makanmu itu, biar nampak bebadan sikit kau!" Zaki meninju pelan dada Arif.


"Memang gitu dia, Ki. Mau di suapin mungkin dia, baru mau makan! " jawab ummi tersenyum.


"Nanti la itu... ayok makan kita." Arif berjalan mendahului mereka.


\=\=\=


"Wiih... udah siap! enggak di tunggu awak lo." Mila masuk ke kamar Husna mencari baby Annisa. Dengan muka yang ditekuk, karena acara sudah selesai, dan dia baru sampai.


"Ssssttt... jangan bising (maksudnya berisik), Dek. Barusan tetidur dia". Husna menaruh telunjuknya di bibir.


"Eleh... dengar suara kibot (hiburan tasyakuran) bisa adek gak bangun! dengar suara ibu gak mau gitu!" Mila mencium baby Annisa gemes.


Baby Annisa membuka matanya dan tersenyum melihat Mila. Baby Annisa sudah berumur 4 bulan. Terbilang sudah kebesaran untuk bayi yang di ayunkan. semua itu karena Husna tidak mau mengadakan acaranya sebelum Zain memastikan bisa pulang.

__ADS_1


"Kata mamak, Mila sekolah! jadi ya gak kami tunggu! " ucap Husna


"Iya kak... besok udah UAN jadi gak bisa lagi main-main, gak berani la bolos." jawab Mila sambil bermain-main dengan baby Annisa.


"Sana kedepan, dek. Kawani mamak sama ayah, bantu bantu juga gih!" suruh Husna kepada adiknya itu, tak baik anak gadis diacara seperti ini hanya diam di kamar, tak mau membaur apalagi tak mau ikut membantu. Nanti jadi ceritaan tetangga, anak gadis kok pemalas.


"Siapa yang sama bang Zain itu, kak?" Mila menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari kamar.


"Ijo matanya liat cowok ganteng!" Husna menggoda Mila.


"Ya, memang ganteng sih. Alim lagi! Anaknya buya Latif." jawab Husna


"Buya Latif pemilik pesantren kami dulu?"


"Hm... udah sana keluar, bising kalipun!" usir Husna.


\=\=\=\=\=


"Mamak!" Mila mencium tangan Mai.


"Eh... kok lama kali kau pulang?"


"Gak berani permisi aku, Mak." jawab Mila


"Oh iya, Kenalkan ini ummi Ana, istri buya Latif." ucap Mai mengenalkan anaknya kepada istri dari pemilik pesantren, tamu kehormatan mereka. Mila mencium tangan Ummi Ana.


"Manis sekali anaknya, Mamak Zain. Siapa namanya, nak?" sapa ummi Ana ramah.


"Mila ummi, Milatul Ulya."

__ADS_1


Sepasang mata di seberang sana memperhatikan Mila, Mai dan ummi Ana yang sedang asik bercerita dan nampak akrab.


"Cantik! sudah berhijab sekarang, Alhamdulillah." ucap laki-laki itu dalam hati. Terus memandangi gadis yang berada tak jauh dari duduknya.


__ADS_2