
Laki-laki berbaju kaos duduk di atas tikar dibawah pohon yang rindang sambil memangku laptopnya. Suasananya sejuk, membuat fikiran fresh untuk menulis Tesis yang belum rampung.
Taman yang dibuka untuk umum pada tahun 2005 itu sangat ramai pengunjung. Daya tariknya adalah lokasi yang sejuk serta bentuk arsitekturnya mirip dengan taman yang ada di abad pertengahan, dan juga dilengkapi dengan museum. Letaknya disebelah selatan Universitas Al-Azhar.
Keramaian disana tak mengusik konsentrasi laki-laki itu. Jarinya terus menari diatas laptopnya, terkadang ia menghentikannya dan membuka beberapa buku yang bertumpuk dihadapannya bergantian.
Dzaki meletakkan laptopnya dan meluruskan pinggangnya yang terasa sakit akibat terlalu lama duduk disana.
" Semangat Dzaki... biar cepat pulang " ucapnya dalam hati. Ada kerinduan yang begitu besar dalam hatinya. Kalau bisa rasanya dia ingin segera pulang ke kampung halamannya. Tapi iya tangguhkan karena mengingat pendidikannya yang akan selesai beberapa bulan lagi.
\=\=\=\=\=\=
" Alhamdulillah,, Lebaran nanti Dzaki sudah disini" ucap Perempuan yang masih menggunakan mukena itu sambil menyiapkan makan malam.
" Ummi lucu, Ramadhan saja masih bebera bulan lagi, sudah cerita lebaran " Jawab buya Latif.
" Gak terasanya tu bang, waktu itu cepat berlalu, yakan zi" perempuan itu menoleh kearah anak kecil yang memakan ayam goreng.
__ADS_1
" Ayam goreng nenek enak, kata Zizi gadis kecil yang berumur belum genap dua tahun.
Zizi Humaira, nama gadis kecil itu. Walau umurnya masih belum genap dua tahun dia sudah banyak hapal surat-surat pendek dan dia juga tidak celat. Bundanya mengenalkannya dengan Alqur'an sedari dia masih bayi.
" Ya sudah, aku mengaji dulu ya bang, sebentar saja. Nanti aku menyusul kalian makan". ucap Ana pergi meninggalkan buya Latif, Zizi dan Amira
" Iya, kan udah kubilang tadi gak siap aja dulu mengajimu, kan ada si Mira disini". Jawab buya Latif.
Ana mendengarnya dan tersenyum. Sudah kewajibanku sebagai istri bang, selagi aku masih bisa melayanimu kenapa harus meminta orang lain, meskipun itu adalah anak kita sendiri, gumam Ana dalam hati.
" Alhamdulillah.. nenek masih ditunggu" Ana menarik kursi makannya dan duduk disebelah buya Latif. Memecah kesunyian.
" Ini piringnya Ummi" Amira memberikan piring
" Kapan kuliahmu selesai Ra?" tanya Ana
" Sebelum Ramadhan nanti Sidang Skripsinya Ummi" Jawab Amira
__ADS_1
Ana menyunggingkan senyum manisnya. Tak lama lagi Zizi akan tinggal dekat dengannya. Jadi ummi Ana tak perlu repot bolak balik Medan-Kisaran untuk menjenguk cucu kesayangannya itu.
\=\=\=
Laki-laki paruh baya yang memakai gamis diatas mata kaki terlihat berbincang-bincang. Dzaki memakai kaus kakinya dan berpamitan meninggalkan Ustadz yang sedang berbicara dengannya.
Dzaki melangkahkan kakinya menjauhi masjid menuju mobilnya yang diparkirnya lumayan jauh dari masjid.
Dzaki meletakkan tasnya di belakang, kemudian mengambil Hanphonenya.
" Assalamu'alaikum anak bapak, sudah makan? pasti pakai ayam goreng lagi" Dzaki melihat Zizi dan Ummi Ana dilayar
" Wa'alaikumsalam. Iya dong pak.. ayam goreng nenek enak, kalau ummi yang masak gak enak"
" Eeh... anak solehah bapak gak boleh ngomong gitu!" Dzain tersenyum mendengar Zizi berceloteh.
Rindu itu semakin berat, melihat Zizi salah satu keinginan terbesarnya yang membuatnya tak sabar menyelesaikan pendidikannya
__ADS_1