
Matahari mulai terbit, perempuan bergamis itu masih berkutat didapur. Nasi putih hangat, sayur sop, sambal teri kacang dan ayam goreng. Serta satu toples kerupuk udang sudah terhidang dimeja. Mila membuka Apron chef yang di pakainya.
Walau hari masih terbilang pagi, tapi Hafiz sudah bangun dari subuh tadi. Mendengar Abi dan Ummanya Muroja'ah diapun terbangun, dan ikut mendengarkan.
Mila menaiki tangga, menuju kamar mereka.
Ckleek
Pintu terbuka, dua pasang netra kompak melihat siapa dibalik pintu yang terbuka itu.
"Umma...." Hafiz lari, memeluk ummanya.
"Mamam, Umma!" ocehnya. Menengadah menatap wajah manis sang Umma.
"Hafiz, lapar nak?" Mila mengangkat anak solehnya, menggendongnya berjalan mendekati Abinya yang duduk di tepi kasur.
"Mandi dulu! Habis mandi, baru kita makan sama-sama. Umma masak sayur sop. Hafiz pasti suka!" ucap Mila, sambil membuka pakaian Hafiz yang berdiri diatas tempat tidur.
"Ya... sayur!" ucap Dzaki seperti merengek.
"Abi, jangan kasi contoh yang gak baik, dong!" Mila membesarkan matanya, seolah berbisik.
"Iya,iya maafin Abi."
"Abi ngapain ini, Ma? Abi bisa bantu apa?" tanya Dzaki, Semenjak dua kali Mila pingsan dan badannya selalu mendadak panas, Dzaki tak membiarkan Mila kecapean. Terkadang, Dzaki juga melarang Mila untuk memasak, kalau wajahnya kelihatan sangat lelah. Menjaga anak laki-laki yang aktif seperti Hafiz kan, juga lumayan menguras tenaga.
Sebenarnya Dzaki sangat ingin memeriksakan istrinya ke dokter, tapi Mila tidak pernah mau, dengan mengutarakan berbagai alasan. Didukung juga dia tak pernah lagi pingsan setelah kejadian itu,tiga bulan yang lalu.
"Gak ada, Mas. Semuanya sudah beres." jawab Mila. Benar saja, masakannya sudah lengkap, masalah kebersihan rumah juga sudah ada bi Lastri dan mang Asep.
"Ya sudah, kalau gitu. Mas telfon buya deh!" Dzaki mengambil gawainya dan tiduran di kasur. Hari ini libur, waktunya bermalas-malasan. Sambil menunggu Mila selesai memandikan anaknya.
"Atok!" Hafiz berlari dari kamar mandi, menemui Abinya yang tengah melakukan panggilan vidio.
"Assalamu'alaikum, Hafiz. Loh, kenapa gak pake baju? digigit nyamuk nanti!" ucap laki-laki paruh baya itu heran.
__ADS_1
"Baru siap mandi dia,buya! Buya udah sehat?" ucap Mila mengeringkan rambut Hafiz dengan handuk.
"O, baru siap mandinya! Alhamdulillah, sehat-sehat begini lah." jawab buya Latif. Sakit asam urat yang diderita kadang membuatnya sulit berjalan. Sekarang harus benar-benar menjaga asupan makanan, semangatnya untuk menuruti apa kata dokter sedang menggebu-gebu. Karena sudah sangat ingin menggendong cucunya.Kalau saja dokter sudah mengijinkannya untuk terbang, ingin rasanya ia segera terbang ke Malang untuk menemui cucunya itu.
"Jadinya lebaran ini kamu pulang,Ki?" tanyanya kemudian.
"Insya Allah, buya. Ya sudah kalau begitu kami sarapan dulu ya, buya!" tutup Dzaki, disusul salam dari buya yang jauh disana.
"Ayo, kita sarapan! Abi sudah lapar!" ucap Dzaki berdiri menepuk bahunya sambil membungkukkan badannya.
Hafiz sudah sangat mengerti posisi itu, ia pun naik kebelakang tubuh ayahnya. Tangannya dia lingkarkan dileher Abinya.
"Yo, Ki." ucap Hafiz dengan suara imutnya.
Mata Mila dan Dzaki membulat. Saling pandang!.
"Ayo,Ki. Lan!" Hafiz menggoyangkan badan Abinya, agar segera jalan.
"Eh... bukan Ki, sayang. Abi!" ucap Mila. Itulah alasannya kenapa keluarga yang sudah mempunyai anak, terkhusus anaknya masih seusia Hafiz, lebih memilih memanggil pasangannya dengan sebutan yang diucap anak-anaknya. Kalau tidak akan kejadian seperti sekarang ini.
"Yang boleh panggil Abi seperti tadi, hanya Atok, nenek, Opung sama tulang. Kalau Hafiz ikutan panggil seperti itu, itu namanya tidak sopan." Mila mencoba menjelaskan, tangannya sesekali memegang pangkal hidungnya.
"Hm... lapar ummanya! Ayo kita makan." ucap Mila mendahului Dzaki dan Hafiz, membukakan pintu kamar dan berjalan beriringan menuruni anak tangga.
\=\=\=\=\=
Penasaran Dzaki terhadap penyakit Mila sebenarnya belum hilang, rasa was-was selalu menghantuinya. Bagaimana kalau ada penyakit serius dalam badannya. Tapi bagaimana cara membujuknya agar bersedia medical check up.
Dzaki juga semakin penasaran, dengan cerita bi Lastri waktu itu.
Flashback On
"Bi, belakangan ini sepertinya Mila merahasiakan sesuatu deh sama saya. Apa bibi tau, istri saya minum pereda nyeri selama ini?" tanya Dzaki selidik, berhati-hati kepalanya celingak-celinguk ke kanan dan kiri, takut Mila mendengarnya.
"Kalau minum obat pereda nyeri itu sebenarnya sudah lama, pak. Beberapa bulan Neng disini, bibi juga pernah melihatnya. Kata neng Mila, kalau sakit dia meminum obat itu, tandanya sakit kepalanya sudah sangat tak tertahankan,Pak! Tapi alhamdulillah, semenjak si eneng hamil. Bibi tidak pernah melihat si eneng meminumnya. Baru beberapa hari terakhir ini, neng Mila mulai meminumnya lagi, Pak!"
__ADS_1
"Neng Mila kalau sudah makan obat itu, terus tertidur pak. Lama sekali tidurnya bisa sampai 3 jam -4 jam." jelas bi Lastri, Dzaki mengerutkan alisnya.
"Lalu Hafiz bagaimana, Bi?"
"Kalau si eneng mau meminum obat itu, si eneng nyetok ASI dulu,Pak! untung den Hafiz pinter, gak rewel." ucap bi Lastri.
"Istri saya bilang dia sakit apa,Bi?"
"Katanya sakit kepala biasa sih, Pak."
Dzaki meninggalkan bi Lastri di dapur, duduk di teras rumahnya. Bi Lastri melanjutkan pekerjaannya. Semoga si eneng baik-baik saja. Do'anya.
"Apa yang harus kulakukan ya Allah, tak mungkin ku biarkan istriku makan pil itu terus-terusan." Dzaki mengusap wajahnya kasar.
"Kalau dalam beberapa hari ini, dia pingsan lagi. Tak akan ada lagi kompromi. Dia harus ke dokter!" Dzaki meyakinkan dirinya.
Flashback off
Senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya, rasa sakit yang dirasakannya selalu apik disimpannya. Tanpa kata "aduh" atau apalah yang terucap dari bibirnya.
"Makan yang banyak ya, Nak! biar cepat besar. Ini makan sayurnya, sayurnya cantik ya, ada yang warna orange, warna Hijau, ada kuning. Em... Abi juga suka lo, yakan Bi!" Mila menyendok sayur dan meletakkan nya ke piring Dzaki yang duduk disebelahnya. Dzaki menatap Mila penuh tanya.
"Jadilah contoh yang baik untuk Hafiz, Mas!" bisiknya.
Dzaki terpaksa memakan sayuran yang sudah ada di piringnya.
"Nak,Bi!" Hafiz meng-anggukan kepalanya. Mulutnya penuh dengan makanan.
"Alhamdulillah, akhirnya bukan hanya selada yang masuk kedalam perutnya." ucap Mila dalam hati. Menahan senyum melihat suaminya yang memakan sayur seperti makan pil.
Setelah sarapan Dzaki mengajak Hafiz untuk bermain diluar, sedangkan Mila hendak mencuci piring bekas sarapan tadi.
"Gak usah, biar nanti bi Lastri saja yang bereskan. Kita kedepan yuk!" Dzaki menarik tangan istrinya,sementara Hafiz sudah ada didepan pintu.
"Butak,Abi" ucapnya melompat mencoba meraih gagang pintu.
__ADS_1
Hafiz pun berlari kesenangan, rumput hijau dihalaman masih tampak basah. Cahaya matahari hangat menyentuh kulit.